
Pada akhirnya Rara dan Nico saling bekerja sama memindahkan sofa yang berada di ruangan kantor Nico, tampa perdebatan.
Drrtt
Ponsel Rara berbunyi. Rara melihat sejenak panggilan masuk dari layar ponselnya "Nanti Rara hubungi kembali" kata Rara, menutup panggilan tersebut.
"Tuan. Apakah sekarang Rara sudah boleh keluar?" tanya Rara.
"Hem" balas Nico singkat.
Rara bergegas turun dari lantai gedung itu. Karena Bhumi kini tengah menunggu dirinya ditaman samping kantor.
Bhumi melambaikan tangannya begitu melihat Rara berlari kecil menuju kearahnya.
"Bhum...ada apa kemari" Rara menatap pria yang duduk dikursi taman itu, sambil mengatur nafasnya.
"Keningmu kenapa?" tanya Bhumi. Menautkan kedua alisnya.
"Oh, ini...jatuh tadi. Tapi gak serius kok, cuma luka kecil aja" Rara meraba ujung keningnya.
"Kamu pulang kerja jam berapa?" Bhumi masih terus menatap kearah perban dikening Rara.
"Gak pasti juga. Kalau tuan Nico sudah Rara antarkan ke Mansion atau keapartemennya, berarti jam kerjaku sudah selesai. Memangnya ada apa?" Rara mengerutkan keningnya.
"Mau ngajak kamu jalan-jalan aja" Bhumi cengengesan.
"Ehem"
__ADS_1
Rara dan Bhumi kompak memalingkan wajahnya mencari sumber suara.
"Pak Leon. Kok tau Rara ada disini?" tanya Rara, heran.
"Nona diminta tuan Nico untuk menyiapkan mobil" kata Leon datar, Lalu meninggalkan mereka.
"Huh...susahnya punya pacar seorang supir pengusaha besar. Mau ketemuan aja sulit" kelakar Bhumi.
"Pacar...pacar, siapa " Rara bersenandung menimpali guyonan Bhumi.
Dan mereka ber-duapun tertawa.
"Rara kembali kerja dulu. Kamu hati-hati dijalan, jangan nge-but" pesan Rara panjang lebar, berlari kecil menjauh dari Bhumi.
Dari kejauhan ada sepasang mata yang menatap tajam kearah Rara dan Bhumi.
...🍀🍀...
Rara mengaduk-aduk isi lemari pakaiannya. Memadukan beberapa pasang pakain ketubuhnya didepan cermin gantung kost-annya. Sesekali gadis itu memutar tubuhnya.
"Yang ini aja, deh" Rara mengambil Blouse putih gading yang akan dikenakannya nanti malam untuk menghadiri acara pesta Ulang Tahun Anggie.
Tok...tok...
Terdengar bunyi pintu kamarnya diketuk.
"Ra...ada yang nunggu kamu didepan pintu gerbang" kata salah seorang penghuni kosts-an yang lain.
__ADS_1
"Oh, iya. Mbk makasih ya" kata Rara.
"Siapa ya?" gumam Rara. Berjalan menuju pintu gerbang. "Tuan Nico" gumam Rara pelan. "Ngapain dia kemari?" tanya Rara dalam hati.
Belum sempat Rara bertanya ngapain atasannya itu datang ketempat kostnya.
"Ikut aku!" titahnya.
"Tapi kita mau kemana, tuan?" tanya Rara.
"Sudah jangan banyak tanya" kata Nico lagi. Menarik paksa tangan gadis itu, masuk kedalam mobil mewahnya yang terpakir dimulut gang.
"Tuan. Sebenarnya kita mau kemana?" tanya Rara lagi, untuk yang kesekian kalinya. Setelah mobil itu bergerak dijalan raya sore itu.
"Nanti juga kau akan tau" kata Nico datar.
Mobil mewah itu berhenti disebuah Mall besar diselatan Ibu Kota.
Rara hanya mengikut saja langkah Nico, saat mereka memasuki toko perhiasan yang berada di mall itu.
Tampak Nico tengah memilih-milih beberapa alternatif perhiasan, dibantu oleh pegawai toko itu.
Rarapun melihat-lihat perhiasan yang dipajang dialtase kaca tersebut. Matanya terpana pada sebuah kalung berbentuk bulan sabit.
Diam-diam Nico mengawasi Rara dari sudut matanya.
"Mbk...saya boleh lihat yang ini" tunjuk Rara. Pada kalung yang memiliki liontin berbentuk bulan sabit.
__ADS_1
...✍️Bersambung ......