
Hawk, pria itu terus menatap kearah bayangan punggung Rara yang semakin menjauh darinya.
"Don't call me, Hawk. Kalau aku tidak dapat menaklukkannya" gumam Hawk didalam hati, menarik halus satu sudut bibirnya.
Didalam ruangannya.
Nico mengepalkan kedua tangannya, setelah melihat video yang dikirimkan oleh Leon, asistennya.
"Come on, Nic. Dia hanya seorang supir" bisik hati Nico.
"Tapi mengapa aku tidak nyaman melihat dia dekat dengan pria lain?" tanya bisik hati Nico yang lain.
"Kalau begitu kau cari saja jawabannya. Dari pada pucing" bisik hati Nico yang lain mencibir.
"Leon. Kau siapkan mainanku!" perintah Nico tegas berbicara pada Leon melalui sambungan telepon diatas meja kerjanya.
"Tuan, mencariku?" tanya Rara setelah berada diruangan Nico.
"Ikut aku!" Kata Nico, keluar dari ruangannya.
Setelah Nico dan Rara berada didalam lift.
Rara melihat lift itu bergerak naik keatas, bukan kearah bawah.
"Tuan, sebenarnya kita mau kemana?" tanya Rara mengerutkan keningnya, melihat angka yang tertera diatas pintu lift itu semakin menunjukkan angka menuju kelantai atas.
"Bermain. Bukankah kau suka bermain diatas" kata Nico, mengambigu.
"Kenapa perasaanku jadi gak enak, ya" batin Rara.
"Diatas. Mau bermain apa, tuan?" tanya Rara lagi.
__ADS_1
"Kau ini, bisa diam tidak! Cerewet sekali" kata Nico ketus.
"Iss....ditanya baik-baik, kok malah sewot" gerutu Rara didalam hati mengerucutkan bibirnya.
Terpaksa Rara mengikut saja kemana dirinya akan dibawa pria itu.
Rara melebarkan pupil matanya.
Melihat sebuah Helikopter yang terparkir diatas gedung itu.
Leon bersama dua orang crew membungkuk hormat kearah Nico.
"Naik..." perintah Nico, menoleh kearah Rara yang masih terlihat bengong.
"Aku?" tunjuk Rara pada dirinya.
"Iya..." jawab Nico, malas.
"Aw..." pekik Rara. Menoleh kebelakang, saat Nico menepuk bongkongnya.
Lalu pria itu masuk kesisi pintu yang lain.
Nico membantu Rara memasangkan beberapa seatbelt pada tubuh gadis itu.
Sesekali melirik kearah Rara.
Jarak mereka yang begitu dekat, hingga dapat merasakan hembusan nafas mereka masing-masing menerpa permukaan kulit wajah keduanya.
Menimbulkan bias rasa yang sulit mereka terjemahkan.
"Sekarang kau pakai ini" Nico menggulurkan Earmuffs *peredam suara kepada gadis itu.
__ADS_1
Setelah Nico memasang seatbelf dan semua perlengkapan terbang ketubuhnya.
Pria itu mulai memutar kunci kontak helikopter itu.
Perlahan-lahan baling-baling benda besi yang mirip kecapung itu memutar.
"Kau sendiri yang akan menerbangkannya?" pekik Rara. Sambil mencari pengangan yang terdekat dengan dirinya.
Nico meng-angguk dan tersenyum.
"Are you ready!" pekik Nico. Menoleh kearah Rara yang duduk disampingnya. Bercampur bisingnya suara mesin helikopter.
"Yes..." jerit Rara.
Hampir 30 menit, helikopter itu terbang diatas permukaan 1800 sampai 2000 m diatas permukaan laut.
Memandang hamparan Ibukota dan sekitarnya dari udara.
Baik Rara maupun Nico saling melemparkan senyum saat mata mereka bertemu.
Diam-diam Nico sangat menikmati setiap perubahan raut wajah gadis itu.
Bola mata hitam pekatnya bersinar indah saat gadis itu tersenyum dan tertawa.
"Nico!" jerit Rara.
Tampa ia sadari telah memanggil pria itu, tampa embel-embel tuan. Dengan jemari yang mencengkeram tangan pria itu. Saat Nico terbang landai dan memiringkan badan helikopter.
"CK" Rara berdecak kesal, saat ia sadar kalau pria itu hanya menggodanya.
"Bagaimana, kau suka?" tanya Nico. Setelah badan helikopter mendarat dengan sempurna diatas gedung itu kembali.
__ADS_1
"Tentu. Ini pengalaman pertama Rara naik helikopter" Rara melebarkan senyumnya kearah Nico.
...✍️Bersambung ......