
"hahaha..."
Nico tertawa dengan sangat keras. Hingga suara tawa pria itu menggema disetiap sudut ruangan yang kedap suara itu.
"Ck...dia pingsan lagi" gumam Nico. Menatap tubuh Rara yang merosot terkulai lemas dikursi.
"Kau itu lemah sekali" kata Nico. Menggendong Rara keluar dari ruangan itu. Menuju kamar tamu yang ada didalam mansion tersebut.
"Akhirnya berhasil juga dengan cara ini" gumam Rara merasa lega, didalam hati. Pura-pura pingsan didalam gendongan Nico. Akhirnya ia berhasil keluar dari ruangan yang menakutkan itu.
Beberapa orang pelayan mansion yang sempat berpapasan dengan tuannya itu, hanya menundukkan kepala tampa berani sedikitpun buka suara.
Nico membaringkan Rara dengan pelan diatas ranjang, didalam kamar tamu mansion itu. Lalu ia menarik selimut, menutupi tubuh gadisnya, kemudian melangkah meninggalkan kamar.
Rara perlahan membuka matanya setelah mendengar suara pintu kamar itu ditutup dari arah luar.
__ADS_1
Mengamati setiap sudut kamar yang sekarang ia tempati. "Koperku" gumam Rara dalam hati. Begitu ia melihat koper berukuran sedang yang memang telah ia siapkan, untuk rencana pergi jauh dari kehidupan Nico, kini telah ada disudut ruangan kamar itu.
Ia bergedik ngeri saat membayangkan kembali ruangan yang penuh dengan senjata tajam, senjata api dengan beragam bentuk dan ukuran, cambuk serta rantai yang ada didalam ruangan kamar itu. Sisi gelap dari seorang Nico Donzalles yang baru ia ketahui.
"Untuk apa dia memberi tahuku semua ini?" batin Rara. Menarik kembali selimut menutupi seluruh tubuhnya.
"Tuan. Nona Rara menolak untuk turun dari kamarnya" kata pelayan wanita mansion, yang ditugaskan Nico, untuk memanggil Rara menemaninya makan malam.
"Kau bawakan makan malamnya keatas" perintah Nico. Dengan datar dan dingin.
"Baik, tuan" jawab pelayan wanita itu. Menundukkan kepala dan beranjak pergi dari ruangan makan dimansion itu.
Perlahan Rara turun dari ranjang. Setelah pelayan wanita yang ditugaskan Nico untuk mengajaknya turun menemani pria itu menyantap makan malam, telah keluar dari kamar.
"Sebaiknya aku mandi dulu. Mumpung dia sedang makan malam" gumam Rara lirih. Karena badannya memang sudah terasa sangat lengket sekali.
__ADS_1
"Nona..." panggil pelayan wanita mansion mengetuk pelan kamar tamu. Karena tidak ada jawaban dari dalam, pelayan wanita itu beranikan diri untuk masuk kedalam kamar yang kebetulan tidak terkunci.
Terdengar gemercik air dari arah dalam bathroom. Pelayan wanita itu tersenyum dan meletakkan nampan berisi makan malam untuk gadis itu diatas nakas.
Setelah selesai membersihkan diri. Rara menyembulkan kepalanya dari celah pintu bathroom. Merasa aman tidak ada siapapun didalam kamar, Rara melangkah dengan terburu-buru hanya memakai handuk, mengambil pakaian gantinya didalam koper dan masuk kembali kedalam bathroom.
"ah...segarnya" gumam Rara. Keluar dari bathroom dengan lilitan handuk diatas kepalanya.
"Nico. Sejak kapan kau ada disini?" tanya Rara, terkejut. Melotot kearah pria itu, yang telah duduk di sofa didalam kamar dengan menyilangkan satu kalinya.
"Kenapa kau belum juga menyantap makan malammu?" tanya Nico. Melihat kearah nakas.
"Aku tidak lapar" jawab Rara, berbohong. Duduk dipinggir ranjang. Ia sengaja melakukan aksi mogok makan karena Nico telah menyanderanya.
Tentu saja Nico tahu mengapa Rara menolak untuk makan, dan pastinya ia punya jurus ampuh untuk memaksa gadis itu.
__ADS_1
"Kau mau makan atau aku cium, hah!" bentak Nico. Berdiri dari sofa melangkah menuju ranjang.
...✍️Bersambung ......