
Rara tampak berfikir dengan sangat keras, hingga kening gadis itu berkerut.
"Apa gw pinjam ke Bhumi aja ya? Tapi, gak deh...nanti kalau nenek sihir itu tau kasihan Bhumi, harus ribut dengan mamahnya gara-gara gw. Atau ke Hawk? Gak...gak bisa, gw baru kenal sama dia. Sepertinya tidak ada jalan lain terpaksa gw harus meminta pinjaman ketuan Nico" Rara bergelut dengan hatinya.
"Demi gw dan mamah, Ra" desak Winda. "Bagaimana kalau lu, gw temenin ketemu sama tuan Nico" bujuk Winda.
"Gak usah, Win. Gw akan coba datengin dia sendiri" tolak Rara. Dengan senyum yang dipaksakan.
"Jadi lu...bersedia bantu gw?" tanya Winda. Menatap Rara dengan senyum yang mulai mengembang dibibirnya.
Rara meng-angguk pelan. "Demi lu dan mamah" gumam Rara didalam hati.
"Makasih ya, Ra" Winda memeluk erat tubuh sahabatnya itu.
"Jahat lu, mau kabur gak pamit sama gw" kata Winda. Setelah mengurai pelukan mereka dan menunjuk kearah koper, yang tergeletak diatas lantai kamar kost-an itu.
Rara mencoba tersenyum sekali, lagi. Pastinya dengan senyum yang dipaksakan.
"Belum terlalu siang" gumam Rara. Melihat kearah jam dinding. Setelah Winda pulang dari kost-annya.
__ADS_1
Leon tersenyum didalam hati setelah ia mendapat kabar dari Winda.
Dan disinilah sekarang gadis itu menunggu. Rara duduk dengan manis diruangan Leon. Karena saat Nico tengah bertemu klien pentingnya.
"Mengapa kau tidak mengatakannya dari tadi?" tanya Nico kepada Leon. Begitu mobil mewah itu sampai didepan gedung.
"Saya tidak ingin mengganggu pembicaraan bisnis anda tuan" balas Leon. Dengan wajah datarnya. Kemudian iapun menyusul langkah Nico, masuk kedalam gedung.
"Nona Rara. Maaf anda menunggu lama" kata Leon. Begitu masuk kedalam ruangannya. "Mari saya antar keruangan tuan Nico"
"Tidak apa-apa Pak Leon" balas Rara. Dengan mengukir senyum tipis dibibirnya, dan mengikuti langkah asisten Nico itu dari belakang.
"Masuk" perintah Nico. Setelah mendengar pintu ruangannya diketuk.
"Ada apa kau mencariku?" tanya Nico. Setelah hanya ada mereka berdua didalam ruangan itu.
"Hem. A_anu...Rara, mau pinjam uang?" jawab Rara. Terlihat sedikit gugup.
Nico menautkan alisnya. "Untuk apa?" tanyanya.
__ADS_1
Kemudian Rarapun menjelaskan untuk keperluan apa ia meminjam uang dan berapa banyak jumlah uang ia butuhkan. Rara juga mengatakan kalau ia bersedia kembali bekerja untuk tuan Nico, sampai hutang itu lunas dibayarnya.
Nico menarik tipis sudut bibirnya. Mengambil buku cek didalam laci meja kerjanya, menuliskan angka nominal yang gadis itu butuhkan.
"Eh..." Rara tercengang. Tersenyum didalam hati. Ternyata tidak sesulit yang ia pikirkan.
"Ini. Ambillah" Nico menyodorkan lembaran cek itu kearah Rara.
"Terima kasih, tuan" Rara mengambil lembaran cek itu dari tangan Nico. "Sekarang Rara pamit dulu" Rara memutar badannya.
"Tunggu. Biar Leon yang mengantarkanmu" kata Nico. Meraih telepon diatas meja kerjanya.
Rara membalikkan badannya. "Tidak usah tuan" tolak Rara dengan halus.
"Aku takut kau nanti kabur dengan uangku" kata Nico. Dengan seringai tipis dibibirnya.
"Cih. Sudah gw bilang tidak mungkin semudah itu berurusan dengan tuan Nico" gerutu Rara pada dirinya sendiri didalam hati.
"Tuan. Rara tidak akan kabur. Rarakan sudah katakan, kalau Rara bersedia bekerja kembali untuk tuan Nico" kata Rara. Mulai kesal.
__ADS_1
"Siapa tau?" jawab Nico. Dengan asal.
...✍️Bersambung ......