
Setelah selesai menyantap sate Padang favorit mereka. Rarapun menceritakan kepada Winda bagaimana situasi ditempat kerja barunya dan sikap Nico kepadanya.
"lu...yang sabar ya, Ra" ucap Winda tulus menyemangati sahabatnya itu.
"Harus" jawab Rara melebarkan senyumnya.
Setelah itu Rara mengantarkan Winda pulang kerumahnya.
"Ara...Tidak mau masuk dulu" ujar mamah Winda.
"Udah malem ante. Rara langsung pamit aja" Rara mencium punggung tangan wanita paruh baya yang sudah ia anggap seperti ibunya sendiri itu.
"Terima kasih sudah mengantarkan Winda pulang. Dan kamu hati-hati dijalan ya, nak" mamah Winda membelai pucuk kepala gadis itu.
Motor butut itu membelah jalan raya Ibukota yang masih tampak sedikit ramai malam itu.
"Gue kok ngerasa ada yang ngebuntuti deh" Rara menambah kecepatan motornya.
Begitu sampai dipintu pagar kost-annya gadis itu buru-buru masuk dan mengunci kembali pintu pagar.
Sambil bergedik ngeri menebarkan pandangan kesekitar kost-an itu.
Selesai membersihkan diri. Rara naik keatas ranjang berukuran kecil itu.
Menatap langit-langit kamarnya. Berdo'a semoga hari esok menjadi lebih baik. Perlahan-lahan mata gadis itu terpejam dan kini nafasnya telah teratur.
...🍀🍀...
Rara mencuri pandang lewat kaca spion diatas kepalanya.
"Kamu semakin baik menyetirnya" ucapan Nico sempat membuat Rara gelagapan. Takut kepergok tengah mencuri pandang kearah Nico.
__ADS_1
"Terima kasih tuan" balas Rara.
"Tetap perhatikan jalan didepanmu" ucap Nico kembali.
Nico masuk kedalam ruangan kerjanya.
"Sudah kau dapat informasinya" Nico memilih duduk disofa ruangan itu.
Leon memberikan sebuah map kepada Nico.
Nico tersenyum kecil menutup map berisi informasi tentang jati diri Rara.
Rara keluar dari pantry sambil melirik kekanan dan kekiri.
"Nona sedang mencariku?" ujar Leon.
"Iss...Pak Leon ini kok tau aja" Rara tersenyum konyol.
"eehm. Ada jam tiga sore nanti" jawab Leon.
"Makasih ya, pak Leon. Pak Leon mah baik sekali sama Rara" ucap Rara melebarkan senyumnya.
"Sama-sama" balas Leon datar. Meninggalkan Rara begitu saja.
"Gak masalah garing juga. Yang penting dia baik ame gue" ucap Rara dalam hati melihat bayangan punggung Leon menghilang dibalik pintu.
"Jam Tiga. Masih kekejar" gumam Rara setengah berlari meninggalkan gedung perkantoran itu.
Nico yang diam-diam mulai mengawasi Rara dari kamera CCTV yang tersambung kelatopnya hanya menarik sudut bibirnya.
"Leon. Batalkan jadwal pertemuanku sore ini"
__ADS_1
Rara mencoba mengatur cepat nafasnya begitu sampai didepan gedung Donz, Drc.
Dengan hormat membukan pintu untuk tuannya.
Didalam mobil.
"Kau tetaplah mengemudi. Jangan berhenti sebelumku katakan berhenti" perintah Nico.
Rara mengangguk pelan. Melajukan mobil dengan kecepatan sedang. Sesekali ia masih mencuri pandang lewat kaca spion diatas kepalanya.
"Sepertinya tuan Nico lelah sekali hari ini" gumam Rara dalam hati.
Melihat Nico menyenderkan tubuhnya dikursi belakang dengan mata terpejam.
Menit-menit kemudian Rara mulai resah.
"Sudah hampir setengah jam aku berputar-putar tidak jelas. Sebenarnya tuan Nico mau diantar kemana?"
"ehem. Tuan_ maaf kalau Rara mengganggu. Tapi sebenarnya tuan mau Rara antar kemana?" Rara memberanikan diri untuk bertanya.
"Kau tau tempat yang paling menyenangkan disini?" tanya balik Nico. Masih dengan mata terpejam.
"Tempat yang menyenangkan?" Rara bertanya pada dirinya sendiri. Membuat keningnya berkerut berpikir keras.
Sejenak kemudian...terlukis senyum licik diwajahnya.
"Mari kita bersenang-senang...tuan"
Rara berputar arah melajukan mobil mewah milik tuan Nico.
...✍️Bersambung ......
__ADS_1