My Love Supir

My Love Supir
Sc. 41


__ADS_3

Setelah para pemburu berita dari BBN TV meninggalkan kantor Nico.


"Bagaimana kau berhasil menggambil gambarnya?" tanya wanita yang tadi mewawancarai Nico. Menyibakkan rambutnya.


Setelah mereka berada didalam mobil.


"Aku sempat mengambil gambarnya, hanya saja kurang jelas. Karena gadis itu sedang memalingkan wajahnya" crew 1 memperlihatkan hasil bidikannya.


"hem. Tapi aku kurang yakin dengan pernyataan dia tadi. Bisa saja hanya untuk sekedar menutupi fakta" sambung crew 2.


"Sejak kapan gadis itu berada diruang Nico?" tanya pewancara wanita kepada crew 2.


"Sepertinya gadis itu sudah ada sejak mulai sesi wawancara akan dimulai. Menurutku__"


ehem


"Kalau menurut eike, ni ya...sepertinya memang ada something deh dengan mereka" potong sipenata rias gemulai. Memotong ucapan crew 2, yang dari tadi hanya menyimak pembicaraan mereka.


"Kita ikuti saja terus perkembangannya. Ini berita besar buat kita" kata pewawancara wanita dengan seringai tipis dibibirnya.


Diikuti anggukan kepala kedua crew itu.


Sementara itu diruang pantry.


Rara menelungkupkan wajahnya diatas meja.

__ADS_1


"ha...hari ini hatiku benar-benar sangat lelah" gumam Rara didalam hatinya.


Gadis itu mengingat kembali kejadian bersama Hawk dikantin tadi pagi. Pria itu tiba-tiba memintanya untuk menjadi teman specialnya. kemudian Nico yang secara tiba-tiba mengajaknya bermain ala-ala sultan, ditambah lagi dengan peristiwa terperangkapnya ia didalam lift bersama pria itu.


Sementara itu, Nico didalam ruangannya terus mengamati Rara yang berada dipantry, lewat CCTV yang tersambung kelaptopnya.


Rara menegakkan kepalanya.


Menghela nafas panjang.


"Aku harus bertanya pada tuan Nico. Apa benar yang dia maksud adalah diriku!" gumam Rara dengan tegas.


Sesaat kemudian gadis itu kembali tidak bersemangat. "Bagaimana kalau benar? Yang dia katakan calon istrinya itu adalah aku? Tidak mungkin aku sanggup menghabiskan sisa hidupku bersama dengan orang yang selalu menekanku" Rara kembali menelungkupkan wajahnya diatas meja.


"Kau masuk keruanganku!" perintah Nico.


Rara mengarahkan kepalan tinjunya kearah layar ponsel yang telah terputus.


Tok..tok


"Kau masuklah..." kata Nico.


Setelah tahu siapa pemilik suara dibalik pintu itu.


Rara melangkah dengan tidak bersemangat menuju meja kerja Nico.

__ADS_1


"Ada yang ingin kau sampaikan?" kata Nico menatap sangat intens kearah Rara.


"Tuan. Apa benar yang kau maksudkan, ehem...calon istrimu itu adalah aku?" tanya Rara.


Namun Nico hanya diam saja. Pria itu tidak mengiyakan dan juga tidak menyangkalnya.


"Tuan... Seharusnya anda itu berfikir dulu sebelum berbicara" kata Rara lesu.


"Mana aku tahu...Ucapanku keluar begitu saja. Saat melihat hanya wajahmu yang ada diruangan ini" kata Nico dengan santainya.


"Tapi tuan...Secara tidak langsung anda menyeret dan melibatkanku. Aku tidak mungkin menikah denganmu" kata Rara, lagi. Memberanikan diri menatap pria dihadapannya.


Brakk


Nico menggebrak meja kerjanya dengan sangat keras. Membuat Rara mengucap-ucap dan mengelus berkali-kali dadanya.


"Kenapa dia yang emosi? Seharusnya aku yang marah. Seenaknya saja menyeret aku kedalam masalahnya" gerutu Rara tapi hanya didalam hati.


"Ini penghinaan! Berani sekali kau menolakku!" Nico menatap tajam kearah Rara. Seakan ingin menerkam hasil buruannya.


"Seharusnya kau itu senang. Akan dinikahi oleh seorang Nico Donzalles. Pria tampan dan sukses. Kau sendiri yang bilang bukan, kalau aku ini The Real Sultan?" Nico berbicara dengan penuh kepongahan mengangkat sedikit dagunya.


"Terserah" pekik Rara. Meninggalkan ruangan kantor Nico.


...✍️Bersambung......

__ADS_1


__ADS_2