
Nico tahu kalau Rara tengah mempermainkannya. Biasanya kopi buatan gadis itu, rasanya pas dilidahnya. "Semakin berani dan kurang ajar saja dia padaku" batin Nico kesal.
Berdiri dari sofa meninggalkan ruang kerjanya. Bermaksud mencari sendiri keberadaan supirnya itu.
Anggie yang masih berada diruangan kerja Nico, masih terus tertawa hingga sudut mata wanita itu berair.
Kini diruangan itu hanya ada Leon dan Anggie.
"Leon, apa menurutmu itu tadi tidak lucu?" Anggie menatap heran kearah pria itu, yang tetap memperlihatkan wajah datar dan dinginnya.
"Menurutku biasa saja" Leon beranjak dari sofa, melangkah menuju pintu keluar ruangan kerja Nico. Meninggalkan Anggie sendiri disana.
"Sikapmu yang seperti ini, justru membuatku semakin tertantang untuk mendapatmu Robot" Anggie meninggalkan ruangan kerja Nico dengan seringai tipis dibibir sensualnya.
Nico menghentikan langkahnya untuk menghampiri Rara yang sekarang tengah berbicara dengan seorang pemuda didepan gedung itu. Pria yang ia tau identitas dirinya itu, melalui anak buahnya. Siapa lagi kalau bukan Bhumi.
Bhumi menyambut kedatangan Rara dengan senyum hangatnya.
"Bhumi..sedang apa kau disini" tegur Rara.
Rara heran dengan keberadaan Bhumi yang datang tampa memberi kabar padanya terlebih dahulu.
"Aku kangen aja. Bolehkan?" Bhumi mencubit pipi Rara gemes.
"Iss..." Rara mengusap-usap pipinya yang barusan dicubit oleh pria itu.
__ADS_1
"Bhum, ini kantor" Rara menoleh kekanan dan kekiri.
"Padahal kita belum lama kenal, tapi kok rasanya gemana gitu..." Bhumi menatap dalam manik hitam bola mata gadis itu.
"Gombal" Rara mencibirkan bibirnya. "Aku kembali kerja, ya Bhum. Nanti kalau kelihatan Bos bisa dipotong gajiku" kelakar Rara.
Bhumi merespon ucapan Rara dengan anggukan kepala.
Melihat punggung Rara menjauh darinya.
Rara sempat menoleh kebelakang memastikan Bhumi sudah meninggalkan gedung itu.
Melangkah menuju parkiran motornya.
"Ikut keruanganku. Kau harus dihukum" tangan Nico masih berada dikuping Rara. Agar gadis itu tidak melarikan diri.
Dengan menaiki lift khusus
Sekarang Nico dan Rara telah sampai diruang kerja Nico.
Rara mengusap-usap kupingnya yang terasa sakit dan panas.
"Kau tau apa salahmu" Nico menatap intens kearah Rara.
"Tau, tuan" jawab Rara menunduk.
__ADS_1
"Sekarang cepat kau bersihkan kamar mandi diruanganku. sampai bersih" Nico menatap tajam dan dingin kearah Rara.
"Aku ini office girl atau supir sih sebenarnya" gurutu Rara hanya didalam hati dan masuk kedalam kamar mandi diruang kerja Nico.
Setelah Rara masuk kedalam kamar mandi, Nico mengunci pintu itu dari luar.
"Tuan...kenapa pintunya dikunci" pekik Rara dari dalam.
"Tuan...kau mendengarkan ku tidak?"
Nico tak menggubris ucapan Rara yang berkali-kali memanggilnya.
Dengan senyum puas pria itu keluar dari ruang kerjanya.
"Tuan, Rara gak bakalan kabur kok. Buka dong pintunya?" bujuk Rara dari dalam lagi.
Namun usaha gadis itu sia-sia. Pintu kamar mandi itu masih tetap terkunci.
Ruangan kerja Nico yang kedap suara yang notabenenya tidak bisa dimasuki sembarangan orang. Membuat tak seorangpun yang tau kalau Rara saat ini terkunci didalam kamar mandi ruang kerja Nico itu.
Jadwal Nico yang cukup padat hari ini diluar kantor. Hingga pria lupa kalau telah mengunci supirnya itu didalam kamar mandi kantornya.
Rara yang telah selesai membersihkan kamar mandi, hanya bisa pasrah duduk diatas clouset. Tubuhnya sudah terasa lemas karena tenaga yang terkuras untuk membersihkan kamar mandi. Tetapi perutnya belum terisi sejak dari siang tadi.
...✍️Bersambung ......
__ADS_1