My Love Supir

My Love Supir
Sc. 43


__ADS_3

Siapakah orang yang paling menderita saat ini?


Jawabannya... dialah Leon, sang asisten setia pribadinya Nico.


Pekerjaannya bertambah dua kali lipat beberapa hari belakangan ini. Bahkan tak jarang, pria itu harus lembur karena ia juga harus mengerjakan pekerjaan tuannya.


"Tuan. Kepalaku bertambah pusing melihat anda mondar-mandir" keluh Leon dalam hati.


Menatap lembaran kertas diatas meja dengan helaan nafas panjang.


"Tuan. Apa tidak sebaiknya anda menghubungi nona Rara" kata Leon.


"Tidak perlu, Leon. Nanti gadis itu semakin besar kepala" kata Nico, dingin dan datar.


"Bagaimana aku bisa menghubunginya? Rara sepertinya telah mengganti nomer kontaknya" batin Nico, Kesal.


"Kalau begitu. Biar saya yang menyeret nona Rara datang kemari" kata Leon, lagi.


"Jangan. Biarkan dia sendiri yang mendatangiku" kata Nico, datar dan dingin.


"Rasanya itu tidak mungkin tuan, kalau melihat sifat dan karakter dari nona Rara" balas Leon.


"Kalau begitu, mengapa kau masih bertanya padaku?" Nico menatap tajam kearah Leon.


"Baiklah...saya mengerti tuan" balas Leon.


Kembali berkutat dengan pekerjaannya, tepatnya pekerjaan tuannya itu.


Nico menjatuhkan bokongnya dikursi empuk kebesarannya. Menatap layar ponsel dengan senyum tipis dibibirnya.


Pria itu diam-diam membuka account Instagram, sekedar agar bisa memantau Rara lewat media sosial.

__ADS_1


Nico melihat beberapa koleksi foto, supirnya itu saat masih berseragam abu-abu. Dengan segala tingkah konyol dan lucu, yang gadis itu abadikan didalam account Instagramnya.


"Cinta benar-benar membuat orang menjadi bodoh" ejek Leon dalam hati. Mencuri pandang kearah Nico.


"Kau, aku sumpah. Suatu saat nanti kena karmanya" kata Nico. Memutar kursi kebesarannya. Membelakangi Leon.


Leon menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. Mendengar dirinya baru saja dikutuk oleh pria itu.


"Ternyata cinta juga bisa membuat orang menjadi cenayang"


Sementara itu ditempat lain.


Hawk terlihat putus asa, karena ia tidak berhasil menghubungi Rara.


"Ada apa denganmu Rara?" gumam Hawk, lirih.


"Apa aku datangi saja langsung ke kosts-annya?


Hawk menimbang-nimbang, memikirkan cara paling halus untuk mendekati gadis itu.


-


-


"Tuan. Ini sudah hampir sore.


Apa tidak sebaiknya kita pulang dulu. Sisanya akan saya kerjakan besok pagi" kata Leon. Menatap Nico yang berbaring santai diatas sofa dengan ponsel yang tak lepas sejak dari tadi.


"Leon. Bagaimana kalau kita mampir ke club dulu?" Nico menegakkan badannya.


"Tuan..." Leon menatap Nico seolah-olah, sedang menegur seorang muridnya yang nakal.

__ADS_1


"Oke. No problem, kalau kau tidak mau" Nico berdiri dari sofa, melangkah keluar dari ruangannya.


Leon menggelengkan kepalanya.


Ting...tong


Mamah Winda bergegas menuju pintu.


Cleg


Menatap pria tampan yang kini berdiri diluar rumahnya.


"Cari siapa ya?" tanya Mamah Winda. Karena ia merasa tidak mengenali wajah tampan, berpakaian necis yang kini ada dihadapannya.


"Benar ini rumah nona Winda?" tanya Leon dengan sopan.


Mamah Winda tidak menjawab pertanyaan Leon, malah langsung meneriaki anak gadisnya.


"Winda...win" panggil Mamah Winda. Dengan mata yang tak lepas menatap kearah Leon.


"Mamah apaan sih teriak sore-sore begini?" gumam Winda. Masih terus asyik maen games dari ponselnya, didalam kamar.


"Win..." pekik Mamah Winda kembali.


Karena anak gadisnya itu tidak segera datang.


"Iya...Iyah" Winda melempar ponselnya asal diatas ranjang.


Keluar dari kamarnya.


...✍️Bersambung ......

__ADS_1


__ADS_2