
Nico menatap Rara dengan raut wajah tidak suka. Bagaimana tidak? Wajah gadis yang sedari tadi hanya terlihat datar dan sesekali tertekuk itu, kini tampak berbinar. Setelah ia mengatakan bahwa gadisnya itu akan diantar oleh Paman Sam pulang kemansion. Tampa banyak bicara lagi Nico melangkah keluar dari apartemennya.
"Mari paman..." kata Rara. Tersenyum.
Sam yang memang mengetahui betul kalau nona yang kini menjadi nyonya itu, memang terpaksa menikah dengan Nico, hanya bisa menghela pelan nafasnya.
Sementara itu ditempat lain.
Mobil Leon telah memasuki pagar halaman rumah Winda dan mamahnya. Sepanjang perjalanan tadi mamah Winda tampak lebih banyak diam, wanita separuh baya itu tidak berkicau seperti biasanya. Sebagai orang yang telah banyak makan asam garam kehidupan ia bisa merasakan bagaimana aura suasana jalannya acara pernikahan sahabat baik anaknya itu.
"Om Leon bisa turun sebentar? Ada yang ingin saya sampaikan" kata Winda. Sebelum ia turun dari mobil.
Leon mengangguk pelan lalu memakirkan mobilnya.
Winda menyodorkan selembar cek kearah Leon. Setelah mereka duduk diruang tamu.
"Apa maksudnya ini, nona?" tanya Leon. Sedikit menampakkan kerutan dikeningnya. Menatap kearah Winda.
"Aduh....Winda" batin mamahnya, gundah. Melihat gelagat bakalan terjadi sesuatu.
__ADS_1
"Kami kembalikan ini"
"Nona. Cek ini sudah menjadi milik anda. Lagi pula tuan Nico telah memberikan cek ini sebagai hadiah untuk nona dan Ibu nona" jelas Leon.
Winda kini diselimuti rasa bersalah setelah bagaimana ia menyaksikan langsung interaksi, antara Nico dan Rara diacara akad nikah mereka tadi. Ia sama sekali tidak bermaksud buruk pada Rara. Justru sebaliknya, ia ingin sahabatnya itu bahagia dan hidup dalam serba berkecukupan.
"Baiklah...kalau Om Leon menolaknya. Kami juga tidak membutuhkan ini" kata Winda, pelan. Lalu ia merobek lembaran cek senilai empat ratus juta itu, didepan mata asisten Nico.
"Winda!" pekik mamahnya. Ia sama sekali tidak menyangka anak gadisnya akan bersikap setolol itu, menolak rejeki nomplok.
"Mah..." pekik Winda. Dengan gerakan cepat menangkap badan mamahnya yang terkulai lemas.
"Anak bodoh...tolol. Aduh ampun deh" mamah Winda ngedumel didalam hati.
Winda bangkit dari sofa diruang tamu mengambil gelas berisi air. "Mah...diminum dulu" kata Winda, pelan. Mendekatkan gelas air meneral kearah bibir mamahnya.
Perlahan mamah Winda mulai menegakkan badannya. "Dasar bodoh" bisiknya ditelinga Winda.
Winda memeluk, menggoyangkan pelan badan mamahnya sembari tersenyum simpul.
__ADS_1
Leon memperhatikan semuanya dengan wajah datar. Setelah ia memastikan mamah Winda dalam keadaan baik-baik saja, Leonpun berpamitan untuk kembali kekantor.
Tidak memakan waktu lama. Rarapun telah sampai dimansion. Ia langsung berjalan menuju kamar tamu. Sudah tidak sabaran ingin melepas gaun pengantin yang melekat ditubuhnya.
"Kenapa pintunya terkunci?" gumamnya lirih.
"Paman...kenapa pintu kamarku terkunci?" tanya Rara. Kepada paman Sam yang menyusul langkah nyonya barunya.
"Karena kamar ini kamar tamu nyonya. Sekarang kamar anda disana" jawab Sam. Menunjuk kearah kamar utama. "Mari saya antar kekamar tuan Nico"
"Tunggu...kenapa aku harus sekamar dengannya?"
"Nyonya, anda sekarang istri tuan Nico. Sudah seharusnya nyonya menempati kamar utama" balas Sam, lagi.
"Tapi aku tidak sudi sekamar dengannya" kata Rara. Hendak melangkah keruang tengah mansion.
"Nyonya tolonglah... Ini perintah tuan Nico" bujuk Sam. Menahan langkah nyonya barunya, yang kekeh menolak sekamar dengan suaminya.
Rara membalikkan badannya. Sembari menghela nafas. Ia juga tidak tega, bila nanti paman Sam yang menjadi sasaran amarah Nico karena ulahnya.
__ADS_1
Sam tersenyum dalam hati. "Mari nyonya...saya antar kekamar tuan Nico" kata Sam.
...✍️Bersambung ......