My Modern Mother

My Modern Mother
Kembali ke Seoul (2)


__ADS_3

Pesawat yang sejak beberapa jam lalu dinaiki akhirnya memberitahukan jika mereka akan tiba di Seoul, lebih tepatnya di Bandara internasional Incheon.


"Selamat datang di Seoul.... Harap para penumpang tidak melupakan barang....."


Pengumuman dari Pilot masih terdengar di telinga Eun-Kyun. Pesawat yang mereka naik baru saja mendarat dengan aman.


Eun-Kyun melepaskan sabuk pengamannya, lalu beralih pada putranya.


Do-Hyun, anak itu terbangun setelah terjadi sedikit goncangan ketika pesawat mendarat tadi, saat dimana roda pesawat bersentuhan dengan permukaan tanah.


Do-Hyun melihat sekelilingnya, dimana semua orang terlihat sibuk dengan urusan mereka. Tentulah agar segera turun dari sana.


"Ayo." ajak Eun-Kyun, ia dan Do-Hyun juga segera beranjak setelah dipersilahkan oleh pramugari.


Do-Hyun mengenakan tas punggungnya, dengan pintar berjalan didepan ibunya.


Anak itu juga telah mengenakan masker, lalu ada syal yang Eun-Kyun lilitkan pada leher Putranya.


Udara di luar sana sudah mulai menurun karena telah memasuki musim gugur, yang pasti akan terasa dingin karena mereka yang selalu berada di daerah Tropis berpindah ke sini. Perubahan suhu udara akan sangat terpengaruh, terlebih untuk anak-anak seperti Do-Hyun ini.


Do-Hyun menuruni anak tangga dengan perlahan karena beberapa orang tepat berada dihadapannya, lalu ada Eun-Kyun yang berada di belakang Do-Hyun. Mereka mengantri untuk turun dengan sangat tertib.


Masker melekat di wajah semua orang, tentulah karena melindungi mereka dari virus yang masih menyebar.


Begitupun Eun-Kyun, masker menutupi mulut dah hidungnya. Lalu ada kacamata antiradiasi yang masih melekat di depan matanya.


Mereka kemudian memasuki lorong bersama puluhan orang, yang tetap menjaga jarak.


Do-Hyun memegang tangan Eun-Kyun yang lebih besar darinya, mengikuti langkah Eun-Kyun dengan patuh.


Mereka berakhir di tempat dimana koper-koper diambil.


Setelah menunggu beberapa saat, koper mereka akhirnya tiba.


Dua koper dengan ukuran besar, didalamnya terdapat barang-barang Eun-Kyun dan Do-Hyun yang lumayan banyak.


Setelah mendapatkan kopernya, Eun-Kyun berjalan sambil menarik dua koper besar itu.

__ADS_1


Sedangkan Do-Hyun, anak itu duduk diatas salah satu koper yang ditarik oleh ibunya.


Do-Hyun menatap ibunya dengan kagum, ibunya terlihat sangat keren saat ini.


Rambutnya yang dibiarkan begitu saja tanpa di ikat, terlihat sangat keren. Ditambah, tas punggung hitam yang berisi barang-barang elektronik, dan dengan kuat menarik koper yang sangat berat, dimana ia duduki salah satunya.


Namun, entah mengapa ibunya terlihat biasa saja seolah semua yang dibawanya terasa ringan.


Do-Hyun melihat sekelilingnya, terasa benar-benar sangat asing.


Matanya menangkap beberapa orang yang membawa barang bawaan mereka di troli, ada pula anak-anak yang duduk diatas sana lalu didorong oleh orang tua mereka.


Do-Hyun melihat itu dengan datar, mereka terlihat biasa saja. Karena menurutnya orang-orang itu lemah dan tak seperti ibunya yang sangat kuat dan keren. Ibunya bisa melakukan banyak hal untuknya. itulah yang ia sukai dari Eun-Kyun.


Do-Hyun terus menatap sekeliling ketika menemukan hal yang ia pikir seru.


Sedangkan Eun-Kyun, ia berjalan dengan santai.


Ketika tiba di pintu keluar, Eun-Kyun menghentikan langkahnya sebentar lalu melihat sekeliling, sedang mencari sesuatu. Lalu melanjutkan langkahnya kearah seorang pria paruh baya yang sedang memegang kertas putih bertuliskan 'Park Eun-Kyun'


"Selamat sore juga, Nona. Apa benar Nona Park?" tanya pria itu memastikan.


"Benar, saya sendiri. Park Eun-Kyun," balasnya.


"Kalau begitu, mari Nona. Biar saya yang membawa kopernya saja." Pak supir.


Eun-Kyun menyerahkan satu koper pada pria itu, lalu membawa yang satunya lagi dimana Do-Hyun duduk dengan tenang disana.


Mereka keluar, mengikuti langkah Pak supir dan berakhir disalah satu mobil berwarna hitam dengan logo salah satu hotel berbintang di Seoul.


Setelah menyimpan koper, dan kedua penumpangnya sudah berada dalam mobil, Pak supir mulai menjalankan mobil menuju hotel tempat ia bekerja.


"Eomma, aku capek." keluar Do-Hyun.


"Capek? istirahat lah. Eomma akan membangunkan mu ketika kita telah tiba." balas Eun-Kyun.


Do-Hyun mengangguk, ia kemudian membaringkan tubuhnya. Meletakkan kepalanya di pangkuan Ibunya, dan dengan nyaman kembali tertidur.

__ADS_1


............


Eun-Kyun turun dari mobil, mereka baru saja tiba. Melihat putranya yang masih tertidur, Eun-Kyun menggendong anak itu, memeluknya dari depan. Dan dengan sedikit kerepotan membawa ranselnya dan tas kecil milik Do-Hyun.


Mereka memasuki hotel, sedangkan supir itu mengambil koper lalu mengikuti Eun-Kyun dari belakang.


Langkah nya menuju resepsionis, "Permisi." panggil Eun-Kyun.


Wanita cantik yang mendengar suara seseorang segera menoleh, "Ada yang bisa saya bantu, Nona?"


"Saya mau cek-in , dan sudah pesan kamarnya. Ini," Eun-Kyun menyodorkan ponselnya pada resepsionis itu.


"Baiklah, mohon tunggu sebentar Nona," Wanita mengetikkan sesuatu di keyboard, kemudian kembali menyerahkan poensel dan kartu kunci pada Eun-Kyun.


"Terima kasih," balas Eun-Kyun. Ia kemudian berlalu kearah lift, memasukinya lalu menekan tombol lantai 27, dimana kamarnya berada.


Cklek....


Kamar dengan nomor 1157 menjadi kamarnya untuk dua Minggu kedepannya.


Dia sendiri harus melakukan karantina mandiri dengan Do-Hyun kedepannya.


Karena setiap pelaku perjalanan internasional wajib melakukan RT-PCR, serta karantina dengan rentang waktu antara 5 hari dan 14 hari, tergantung pada eskalasi kasus di negara asal.


Di masa-masa inilah yang paling menyusahkan, dan ini membuat Eun-Kyun sedikit kesal.


*


*


*


*


*


...Zero^-^...

__ADS_1


__ADS_2