
Jun-Hee dan Eun-Kyun duduk di sofa, melihat Min-Hyuk yang mengajari Do-Hyun memberikan salam kepada orang tua dengan sujut didepan mereka. Seperti yang sudah dibilang, ini merupakan tradisi orang Korea sejak jaman kuno.
Dengan kikuk, Do-Hyun mengikuti langkah paman kecilnya dan memberikan hormat.
Anak itu terlihat sangat menggemaskan, karena selama ini 4 tahun ini dia berada di Indonesia, tradisi di Indonesia tidaklah sama dengan tradisi orang Korea. Setiap tahun baru, Do-Hyun hanya akan pergi bermain dengan Ayah baptisnya, Nathan dan Nenek Inna.
Disana juga akan ada pacar dari Nathan, dan pada akhirnya Do-Hyun selalu dimanja oleh mereka semua. Dia tak perlu memberikan salam pada orang tua atau nenek dengan cara bersujud seperti ini.
"Boy, kemari sini." panggil Jun-Hee
Do-Hyun yang sudah memberikan salam kepada mereka, karena dipanggil anak itu bangun. Jun-Hee mengeluarkan dua amplop merah, lalu memberikan nya pada Do-Hyun, dia juga memberikan satunya lagi pada Min-Hyuk
"Eh, ini tidak usah," tolak remaja itu.
"Ambil saja, ini hadiah tahun baru dari kakak ipar." ucap Jun-Hee yang malah menyimpan amplop itu di tangan Min-Hyuk.
Eun-Kyun juga memberikan kepada mereka masing-masing satu amplop merah sambil tersenyum.
"Terima kasih, Noona. Kakak ipar," ucap Min-Hyuk.
"Baiklah, ayo bersiap. Kita akan mengunjungi Ayah," Eun-Kyun mengingatkan. Bukankah mereka ingin pergi ke pemakaman umum dan mengunjungi almarhum ayahnya?
Ini hanyalah memberikan bunga di sana saja.
"Baik!" Balas Do-Hyun dengan cepat, Min-Hyuk dan bocah itu memasuki kamar dan mengganti pakaian yang lebih hangat.
Min-Hyuk mengeluarkan amplop merah yang ia simpan di kantong celana nya. Remaja itu mengeluarkan isi didalamnya, dengan mata yang terkejut, ia memegang isinya. 200.000 Won? Masing-masing isinya adalah 200.000 jika digabungkan maka ada 400.000 Won yang dia miliki sebagai hadiah tahun baru.
Jika ini hanya dari kakak iparnya, ia tak ragu karena dari penampilannya saja, Jun-Hee memang terlihat memiliki banyak uang. Namun, bagaimana dengan kakaknya? . Min-Hyuk menjadi tidak enak sekarang.
Ia ingin mengembalikan uang itu, namun uang ini merupakan hadiah tahun baru, kakaknya pasti sudah merencanakan sebelumnya.
Dia memutuskan untuk menyimpan uang itu, sepertinya dia akan membutuhkan uang ini dikemudikan hari.
Min-Hyuk membantu Do-Hyun mengganti pakaian yang lebih hangat, lalu mengambilkan jaket yang tebal untuk melindungi bocah bayi itu agar tetap hangat.
__ADS_1
Eun-Kyun sudah menunggu mereka di depan pintu saat kedua anak itu keluar dari kamar, dengan segera empat orang ini pergi dari apartemen.
Suhu di luar mencapai 2° Celcius, tentu saja ini sangat dingin.
Mereka naik mobil, Jun-Hee sudah mengatur suhu didalam mobil agar menjadi hangat. Dengan dua orang dewasa berada di depan dan membiarkan dua bocah itu berada di kursi penumpang bagian belakang.
Membutuhkan waktu 1 jam lebih agar tiba di pemakaman umum, dimana Abu Tuan Park disimpan.
"Aigoo-" tiba-tiba Eun-Kyun bersuara
"Wae?" tanya Jun-Hee
"Kita belum membeli bunga, ayo berhenti sebentar di toko bunga." Meskipun sudah direncanakan dari kemarin, namun mereka belum membeli bunga
"Ahh, benar. Kita belum membeli bunga, hampir saja." semua orang dengan cepat menyadarinya.
Saat melewati toko bunga, mobil yang di kendarai oleh Jun-Hee terhenti. Eun-Kyun turun dan membeli bunga, tak beberapa lama kemudian wanita itu kembali dengan banyak mawar putih.
Itu tak dirangkai dengan indah, dan dipisahkan saja.
Mobil kembali melaju, melanjutkan perjalanan. Hingga satu jam kemudian, mereka tiba di pemakaman umum.
"Appa, selamat tahun baru. Aku sangat merindukanmu," ucap Min-Hyuk didepan abu Tuan Park, ada juga foto pria paruh baya itu disana, foto dimana ia tersenyum pada kamera, ada juga fotonya dengan Min-Hyuk dan Eun-Kyun yang masih remaja dan mengenakan pakaian seragam.
Eun-Kyun ikut meletakkan bunga dilantai, sama seperti yang dilakukan oleh Min-Hyuk, wanita itu mengucapkan selamat tahun baru. "Appa, selamat tahun baru."
"Kakek, selama tahun baru." Dengan begitu, Do-Hyun juga mengikuti, Jun-Hee pula tak lupa.
Namun, ada tangkai lain yang masih dia simpan.
Saat mereka keluar, suasana masih redup dan penuh kesedihan. Jun-Hee mundur dari antara mereka, dia pergi ke kuburan lain yang berada di luar bangunan tersebut.
"Eomma, kemana Papa pergi?" Do-Hyun menarik tangan ibunya dan bertanya.
"Tidak tahu, ayo ikuti dia." Eun-Kyun menarik tangan dua bocah itu dan mengikuti Jun-Hee diam-diam dari belakang.
__ADS_1
Terlihat, Jun-Hee melewati banyak kuburan hingga sebelum itu dia berhenti disalah satu kuburan. Dia menyimpan sisa tangkai bunga dan bicara didepan kuburan dengan sendiri.
Hal ini sudah biasa terjadi jika seseorang datang ke pemakaman seperti ini.
Tiga orang dibelakangnya mengawasi dari kejauhan, sebelum akhirnya mendekat.
"Papa, ini siapa?" suara Do-Hyun tiba-tiba terdengar, membuat pria itu menoleh dan mendapati mereka.
"Ini Ibuku, bukankah dia cantik?... Ayo, kemari dan biarkan Papa mengenalkan mu dengan Nenek" pria itu menyuruh Do-Hyun mendekat.
Do-Hyun patuh, dia mendekati Jun-Hee lalu berdiri disampingnya. "Papa, apa ini Nenek? ..Dia sangat cantik. Bukan begitu, Eomma?" anak itu menoleh pada ibunya
Eun-Kyun mengangguk setuju, "Yah. Sangat cantik," sambungnya. Tiba-tiba terlintas di ingatannya, lebih tepatnya ingatan tubuh ini.
Jun-Hee pernah berkata jika ibunya telah tiada, dan dimakamkan juga di sekitar Seoul. Namun dia tidak menyangka jika ini adalah tempatnya. Dia ingat, di hari kematian Tuan Park, Jun-Hee yang mengatur semuanya dengan bantuan para bawahannya.
Ternyata, dia mengatur agar tempat Abu Tuan Park disimpan berada di sini?
Min-Hyuk memperhatikan nama dan Foto yang dipasang di kepala kuburan, "Kim Ye-Jin." Jadi ternyata ini ibu calon kakak iparnya? Tidak pernah terpikirkan dalam benak Min-Hyuk jika salah satu dari orang tua Jun-Hee telah tiada, dia pikir Jun-Hee memiliki orang tua yang lengkap. Hanya dia saja yang kehilangan orang yang sangat ia sayangi.
"Eomma, ini Do-Hyun. Dia akan menjadi anakku, lalu yang ini Eun-Kyun, wanita yang sering aku ceritakan padamu. akhirnya dia kembali, kami sudah bertunangan.. Aku akan segera menikahi nya dimasa depan... Dan disana, itu adalah calon adik ipar ku. Namanya Min-Hyuk," ucap Jun-Hee sambil memperkenalkan mereka
"Annyeonghaseyo, halmeoni. Namaku Park Do-Hyun," ucap Do-Hyun memperkenalkan diri
"Annyeonghaseyo, eomeoni. Saya Park Eun-Kyun, saya tunangan Jun-Hee. Jangan khawatir disana, saya akan menjaga Jun-Hee dengan baik." ucap Eun-Kyun
"Annyeonghaseyo, Ahjumma. Saya Park Min-Hyuk, adik dari Noona. senang bisa bertemu Anda," ucap Min-Hyuk.
Jun-Hee mengatakan beberapa kata, sebelum akhirnya mereka kembali.
Karena suasana menjadi begitu canggung, Jun-Hee mengusulkan idenya. "Bagaimana jika kita pergi ke Mall dan bersenang-senang disana. Sepertinya seru," ucapnya
"Ayo, aku sangat bosan di rumah. Jika kita langsung pulang, apa yang harus dilakukan disana?" ucap Do-Hyun dikursi belakang.
Jun-Hee melirik ke kaca spion, sebelum akhirnya pria itu terkekeh pelan. "Bagaimana menurutmu?" ia melihat kearah Eun-Kyun
__ADS_1
"Mari kita pergi. Sepertinya menyenangkan jika merayakan tahun baru di Mall," ucap Eun-Kyun. Min-Hyuk juga setuju
Jun-Hee menginjak pedal gas dan mobil melaju lebih kencang, mereka pergi ke mall tanpa menyadari jika akan ada sesuatu yang terjadi disana.