
"Do-Hyun" Eun-Kyun.
"Ne, Eomma?" Do-Hyun.
"Bagaimana jika kita kembali ke Seoul, kau mau ikut?" Eun-Kyun.
"Seoul?"
"Ne. Begini, kita akan segera kembali ke Seoul di bulan depan. Kontrak Eomma akan berakhir dalam beberapa minggu, jadi kita juga akan pulang." Eun-Kyun
"Lalu?" Do-Hyun.
"Kita akan tinggal disana, kau akan sekolah dan Eomma akan mulai bekerja disana. Kita memulai hidup baru di sana, kau tak keberatan?" Eun-Kyun
"Jadi, kita harus pergi dari sini?" Do-Hyun
"Ne." Eun-Kyun
"Aku akan berpisah dengan nenek dan paman Nathan juga?" Do-Hyun
"Ne, karena kita akan pindah kesana."
Do-Hyun terdiam, otak kecilnya sedang memikirkan sesuatu. "baiklah, tak apa."
"Sungguh?" Eun-Kyun
"Ne, Eomma." Do-Hyun
"Ah, baiklah jika kau tak keberatan." Eun-Kyun.
............
"Nenek.." sambut Do-Hyun yang melihat ibu dari Nathan memasuki apartemen mereka.
"Aduh... cucu nenek lagi ngapain?" ujar wanita paruh baya itu.
"Mama Ina?...
Duduk dulu," suara Eun-Kyun terdengar dari dapur.
Mama Ina adalah panggilan dari Eun-Kyun. Wanita ini tak ingin dipanggil Tante atau Bibi oleh Eun-Kyun, jadilah harus memanggilnya dengan 'Mama Ina'
Wanita paruh baya itu tersenyum, ia mengelus kepala Do-Hyun sebentar lalu duduk di sofa.
__ADS_1
"Emm.. tadi Do-Hyun hanya sedang nonton Pororo saja, nenek. Tapi karena nenek menekan bel, Do-Hyun membukanya untuk nenek." Jawab Do-Hyun.
"Ah, Pororo? Bukankah dia sangat lucu?" Tanya Mama Ina pada Do-Hyun, lalu mengalihkan pandangannya pada Eun-Kyun yang sepertinya sedang sedikit sibuk di dapur.
"He'em.. Dia sangat lucu dan pintar, namun teman-temannya juga aneh. Terlebih si white Bear itu..." Do-Hyun mulai menceritakan tentang para tokoh dalam animasi kesukaannya itu.
Mama Ina terus mendengarkan sesekali merespon Do-Hyun. Sedangkan Eun-Kyun sendiri sebenarnya sedang membuat Kue Brownies, namun dengan bahan instan. Hanya memerlukan beberapa butir telur, butter dan cokelat batang.
Hal ini lebih praktis, lalu tak takut jika cake nya gagal. Sudah mudah, enak, dan tak merepotkan. Bahkan seseorang yang tak bisa membuat Cake saja akan terasa seperti seorang ahli.
Setelah memasukkan adonan kedalam Microwave lalu mengatur suhu dan waktu, Eun-Kyun mendatangi Mama Ina yang masih menemani Eun-Kyun.
"Gimana, masih kambuh sakit kamu?" Tanya Mama Ina.
"Udah mendingan, Ma. Tapi yah... tetap saja, aku harus jaga kesehatan sama terus minum obat secara rutin," balas Eun-Kyun. Tak diragukan lagi jika Mama Ina mengetahui penyakit yang diderita oleh Eun-Kyun ya g sudah ia anggap sebagai putrinya ini.
"He'em.. jangan kelelahan loh, ingat masih ada Do-Hyun yang harus kamu jaga. Oke?" Ucap Mama Ina
"Iya, Ma. Eun-Kyun ngerti kok.." kedua wanita berbeda generasi itu kemudian membicarakan hal-hal lainnya.
"Ehh.. ini lagi, Mama jadi khawatir sama si Nathan.
Dia udah nggak bisa pulang rumah bebas kayak kemarin-kemarin." Keluh Mama Ina.
"Emangnya Om Nathan kenapa, Nek?" Tanya Do-Hyun yang sejak tadi sedang bermain.
"Yah gitu... Kan Lagi Corona, jadi yah dia ngambil jalan aman aja. Nggak mau balik rumah dulu, katanya takut bawa virus pulang ke rumah.
Nanti Mama malah sakit, gitu." ekspresi wajah Mama Ina sangat tak enak dipandang saat ini.
"Aduh.. padahal kalo nggak ada dia, mama kan jadi sepi banget." Keluh Mama Ina lagi
"Kan ada Eomma sama Do-Hyun, Nek. Jadi nenek nggak sepi lagi" ucap Do-Hyun polos, sejak tadi dia terus mendengar percakapan ibu dan nenek angkatnya ini.
"Aduuh..." tangan Mama Ina menyentuh pipi Do-Hyun, lalu dicubit nya dengan gemas.
"Cucu nenek kok pintar gini sih ngomong nya," puji Mama Ina.
Eun-Kyun hanya tersenyum mendengar pujian yang ditujukan pada putranya itu.
Menoleh lagi pada Eun-Kyun, "tapi bener juga yang dibilang sama Do-Hyun. Mama tuh nggak terlalu sepi-sepi amat karena ada kalian berdua, kalo nggak.. Yah mama pasti bakal mati kebosanan di rumah." Lagi-lagi Mama Ina mengeluh
"Mama kan bisa nyantai kalo gitu, atau paling masak apa gitu kek," saran Eun-Kyun.
__ADS_1
"Masak apa sih Nak, mama tuh nggak terlalu suka masak. Mama kan sukanya buat kue tradisional, tapi yang makan paling mama sama kalian. Si Nathan nggak mau dia, nggak tau kenapa tuh anak.. bikin Mama pusing aja deh"
Nah, kan! Sekarang giliran Nathan yang menjadi bahan Omelan wanita ini.
Eun-Kyun yang sebenarnya hanya ingin menghibur, jadi merasa canggung karena Mama Ina terus mengomeli Nathan.
Beruntung orangnya tak berada di sini, jika tidak pastilah Dokter muda itu akan malu pada Eun-Kyun.
"Emmm... mama" panggil Eun-Kyun.
"Sampe-sampe Mama nggak mau buat kue lagi waktu itu-" melihat raut wajah Eun-Kyun yang sedikit berubah, Mama Ina menghentikan ocehannya.
"He'em? Kenapa?"
"Sebenarnya... Aku sama Do-Hyun bakal balik ke Seoul, Ma." Ucap Eun-Kyun.
"Seoul? Kalian mau liburan?
Kan lagi Covid-covid gini, Nak. Masa kamu mau liburan?" Mama Ina sedikit mengomentari keinginan Eun-Kyun.
"Bukan gitu Ma. Tapi karena kontrak kerja Eun-Kyun bakal selesai. Bahkan bulan depan udah boleh balik setelah kontrak selesai." Jelas Eun-Kyun.
"Kontrak kamu udah hampir selesai? Kok baru ngasih tahu mama sekarang?" Omel Mama Ina.
"Yah, gitu deh, Ma. Aku juga lupa, untung diingetin sama atasan di kantor." Eun-Kyun.
"Jadi, kapan nih rencana kamu buat balik ke Korea?" Mama Ina.
"Akhir Oktober nanti, Ma. Biar aku sama Do-Hyun habisin musim panas di kota B aja. Soal nya kalo di Seoul, mama kan tahu sendiri gimana musim lanas di Korea." Eun-Kyun.
"Iya juga sih, di Korea kan lebih gerah dari pada di Indonesia. Kayak lagi dalam ruang tertutup gitu kan?" Mama Ina.
"Iya, Ma.
Lagian, aku juga harus ngurus surat-surat nya Do-Hyun kalo mau pindah sekolah." Eun-Kyun.
Kedua wanita itu kembali membicarakan hal-hal lainnya lagi.
.
.
.
__ADS_1
.
.