My Modern Mother

My Modern Mother
Chapter 22


__ADS_3

Hari-hari berjalan dengan baik, entah itu ibu atau anak.


Do-Hyun menyibukkan dirinya dengan mengerjakan beberapa soal-soal dari sekolah dasar yang bisa ia dapatkan sendiri dari Internet.


Hanya dengan melihat materi dan penjelasannya, anak itu dapat mengerjakan soal-soal yang sudah tersedia.


Ada pula beberapa soal yang sedikit rumit baginya, maka ia akan bertanya pada ibunya. Tentulah, Eun-Kyun akan membantunya menyelesaikan pertanyaan yang ada.


Bahkan, sekarang Do-Hyun sudah mulai merambat ke matematika anak SMP semester pertama, apakah anak ini monster?


Bagaimana bisa otaknya yang baru berusia 4 tahun tersebut bisa mengerjakan soal-soal itu?


Do-Hyun sedikit lebih berminat dengan matematika dari pada pelajaran lainnya. Itulah mengapa saat ini dia mulai mengambil pelajaran dari internet khusus anak SMP semester pertama.


Sementara Eun-Kyun sendiri, ia mengundurkan diri dari kantor tempat 'Eun-Kyun' bekerja sebelumnya, itu dikarenakan posisinya tak sesuai dengan kemauannya.


Kemampuannya sekarang telah bertambah, bukannya mau menyombongkan diri sendiri namun posisi dan gaji yang ia dapatkan tidakkah sesuai dengan kemauannya.


Dengan bermain di pasar saham, Eun-Kyun mendapatkan setidaknya 17.000.000 (17 Juta) Won dalam seminggu, itu setidaknya Rp.204.000.000 (204 juta).


Belum lagi, dari hasil bermain di dunia Online (Hacker) dalam sebulan ia akan mendapatkan paling sedikit 8.000.000 (8 juta) Won atau setara dengan Rp.96.000.000. (96 juta)


^^^[1.000.000 Won\= Rp.12.000.000]^^^


Dengan penghasilan ini, apa dia perlu bekerja di kantor yang membayarnya 5.000.000 Won/bulan?


Ia pikir tidak perlu.


Tak khawatir lagi tentang uang, rumah dan lainnya karena dia telah memilikinya. Sekarang, yang ingin dibelinya adalah mobil, ia belum memilikinya untuk saat ini dan selalu menggunakan nomor taksi untuk bepergian.


Karena telah memiliki uang yang cukup untuk saat ini, Eun-Kyun lebih bersantai. Namun jika memikirkan tentang penyakit yang saat ini ia derita, uang yang banyak belum tentu bisa membuatnya sembuh total. Satu-satunya cara agar sembuh total adalah dengan operasi transplantasi jantung.


Tentu saja, ini membutuhkan biaya yang sangat banyak hanya untuk satu jantung.


Jika uang tak mencukupi, bisa memesannya di pasar gelap dengan harga yang lebih murah, namun itu merupakan tindakan ilegal!


Dia tak mau berurusan dengan hal-hal gelap itu lagi di kehidupannya yang sekarang.


Dia masih harus mencari banyak uang lagi untuk ini!

__ADS_1


............


"Ohh.. Hyung?.... Annyeong," sapa Do-Hyun yang baru saja keluar dari pintu atap.


"Ah, kau anak yang baru pindah itu kan?" balas pemuda yang kini menoleh pada Do-Hyun.


Do-Hyun mengangguk, "He'em."


"Siapa namamu?" tanyanya


Do-Hyun tampak heran, bukankah mereka pernah saling sapa dan memperkenalkan diri sebelumnya?


Saat ia dan ibunya membagikan kue pada tetangga?. Pikir Do-Hyun,


"Aku, Park Do-Hyun. Kau bisa memanggilku Do-Hyun" ia kembali memperkenalkan dirinya.


"Emmm... Do-Hyun yah.. Kalau begitu, senang bisa berkenalan dengan mu, yah?" Pemuda itu tersenyum manis padanya, ia tak mengenakan masker di wajahnya sehingga ia terlihat sangat tampan.


"Emm.. bukankah kita pernah saling bersapa sebelumnya? Aku tak salah orang kan, Hyung Dong-Min?" tanya Do-Hyun


"Ah... sepertinya kau salah paham disini. Aku Gong-Min, yang kau sapa sebelumnya adalah saudara kembar ku, Dong-Min" ucapnya. Sekarang ia paham, kenapa anak ini langsung menyapanya saat melihatnya tadi.


"Hahahaha.... Itu bukan aku, tapi tak apa. ini karena kami memiliki wajah yang sama persis... Hahahahaa" Ia tertawa dengan cepat, anak ini terlihat sangat imut, dan juga sepertinya ia anak yang pintar karena langsung bisa mengenali situasi.


Do-Hyun mengangguk paham. Kaki kecilnya melangkah kearah bangku ya g berada disana, lalu duduk dengan tenang. Ada iPad ditangan kecilnya, iPad itu selalu ia bawa.


"Sedang apa kau disini?" tanya Gong-Min.


"Aku?... Hanya bosan berada di rumah, itu terasa seperti dikukus karena tak dapat pergi kemanapun.. ini tak seru," keluhnya, wajahnya jadi lebih imut dengan ekspresi tertekan.


"Hahahaha... kau benar, semua ini karena Covid-19. Jika tidak, kau pasti bisa bermain diluar dengan teman-temanmu, bukan begitu?" tanya Gong-Min, ia terdengar sangat ramah dengan anak kecil.


Do-Hyun setuju, "Lalu, sedang apa kakak berada disini?"


Gong-Min tersenyum simpul, "sama sepertimu. Aku juga bosan dalam rumah, namun tak bisa keluar untuk main"


Do-Hyun mengangguk paham, dia tak bertanya lagi.


Gong-Min mengingat sesuatu, "Ahh... Rice cake yang kalian buat sangat enak, apa namanya?"

__ADS_1


"Rice cake?" ulang Do-Hyun.


"He'em... Yang kalian bagikan untuk kami, bola-bola dengan cokelat didalamnya," Gong-Min mengingatkan Do-Hyun


"Ahhh..." ia ingat


"Itu namanya Kelepon, enak bukan?"


Gong-Min setuju, itu memang enak. Namun, baru kali ini dia mendengar nama yang asing itu. "Kelepon?" ulangnya


Do-Hyun mengangguk, "He'em.. Itu kue tradisional Indonesia, aku dan ibuku yang membuatnya." jelas Do-Hyun


"Kalian yang membuatnya? Tapi, bagaimana bisa kalian membuat kue tradisional dari Indonesia? Bukankah kalian orang Korea?" tanya Gong-Min yang tertarik dengan cerita ini.


Dia bahkan tak menyangka jika akan mengobrol dengan anak kecil yang imut ini, terasa menyenangkan.


"Kami memang orang Korea, namun Eomma bekerja di Indonesia, aku juga lahir di sana. Jadi, kami baru saja kembali, tentunya tahu membuat kue itu karena sangat mudah." jelas Do-Hyun, dia bicara seperti seorang pria muda


"Wahh... Menyenangkan nya bisa keluar negeri.. Aku juga menginginkan nya, namun harus menabung dulu.. Nabis mahasiswa.." ia bergumam diakhir, namun masih bisa didengar oleh telinga anak kecil itu.


Gong-Min mengingat sesuatu yang lebih penting sekarang, dengan siapa anak ini datang ke atap?


Ia menoleh pada Do-Hyun, menyadari jika tak ada orang dewasa selain mereka berdua. lalu, siapa yang mengantar anak ini datang kemari? Disini berbahaya bagi anak kecil tanpa pengawasan


"Do-Hyun..". panggilannya


Do-Hyun mengangkat wajahnya, ia melihat Gong-Min yang sedang serius menatapnya. "Ne?"


"Siapa yang mengantar mu kesini? Disini berbahaya tanpa orang tuamu," ucapnya terdengar nada khawatir.


"Ahh... aku sendiri, bukankah ada Hyung disini? jadi tak apa." balas Do-Hyun santai


"Bagaimana bisa aku tenang, kemana ibumu? bagaimana jika terjadi sesuatu padamu?... Apa ibumu tahu jika kau disini?" tanya Gong-Min berturut-turut


"Aku tak apa. Eomma juga tak tahu," Do-Hyun


"Ckck.. bagaimana bisa? Ayo turun, bagaimana jika ibumu sedang khawatir padamu?" Membawa anak itu kembali dari atap, Gong-Min mengunci pintu dari dalam lalu menuruni anak tangga.


Do-Hyun tak banyak protes, ia hanya mengikuti langkah Gong-Min dari belakang.

__ADS_1


Atap berada tiga lantai lagi dari apartemen mereka, jadi mereka harus melewati puluhan anak tangga sebelum sampai di lantai 20.


__ADS_2