
Jun-Hee menatap datar pada wanita yang saat ini sedang menenangkan wanita lain.
"Lihat itu, bahkan ibumu menegurku karena sikap kurang ajarmu ini. Jangan sakit Soo-Rin lagi, pergi dan bujuk dia agar tak sedih lagi," ucap Tuan Jeon pada Jun-Hee
"Memangnya, siapa dia bagiku sehingga aku harus menghiburnya?" ucap Jun-Hee datar, dia kesal dengan ayahnya ini. "Dan lagi, apa aku pernah mengatakan jika istrimu itu ibuku? ..Tuan Jeon, tolong perbaiki kata-mu itu dan jangan membuat orang salah paham," sambung Jun-Hee dengan dingin
"Sayangku, lihat dia. Bagaimana dia bisa seperti ini padaku?" ucap wanita itu pada Tuan Jeon
Jun-Hee semakin kesal dengan wanita yang menjadi istri ayahnya ini, "Nyonya, sejak kapan kau menjadi ibuku? ..Jika kau lupa maka, apa aku harus mengingatkan mu lagi?"
"Jun-Hee!" bentak Tuan Jeon
"Kenapa? ..Apa yang kukatakan itu salah?" Jun-Hee tersenyum sinis pada ayahnya yang b4jingan ini. "Jika kalian hanya bisa membuat keributan dirumahku, kalian bisa angkat kaki dari sini." sambungnya lagi dengan mulai emosi
Soo-Rin langsung bangkit dari duduknya, dia mendekati Jun-Hee. "Jun-aa, aku yang salah disini. Jangan salahkan Paman dan Bibi, maafkan aku, yah?" ucapnya sambil menghapus air mata nya dengan tangan.
Soo-Rin memiliki penampilan ditindas dan lemah dihadapan Tuan Jeon, membuat pria paruh baya itu merasa sedih dihatinya
"Lepaskan tanganmu dariku," ucap Jun-Hee datar. Dia muak melihat wanita ini
Soo-Rin menggeleng, "aku mohon maafkan aku. Ini karena ku, Paman dan Bibi marah karena ku, maafkan aku, yah?" wanita itu tetap bersikeras sambil menggoyangkan tangan Jun-Hee
"Soo-Rin, kau tak bersalah sayang... Jun-Hee, bukankah kau harusnya menghibur calon istrimu?" ucap Tuan Jeon memarahi Jun-Hee, wajahnya merah karena marah melihat Soo-Rin yang lemah lembut di
"Tidak Paman, ini salahku... Jun-Hee hanya tak ingin aku melakukan kesalahan saja, iya kan Jun-aa?" ucap Soo-Rin seakan dia membela pria ini, namun sebenarnya dia malah melakukan hal yang sebaliknya.
Tuan Jeon tak tahan melihat Calon menantunya menangis seperti ini karena putranya yang b0doh. "Jun-Hee, hibur Soo-Rin!"
Jun-Hee mendengus dingin, "Tuan Jeon, bukankah kau sangat menyayangi wanita ini? .. Kenapa tidak bungkus dan bawa saja di kembali untukmu?"
"Jun-Hee! .. Jangan keterlaluan kamu pada Ayahmu," bentak Tuan Jeon
__ADS_1
Istrinya kemudian mendekat, "Sayang... tenangkan dirimu."
"Bagaimana aku bisa tenang? ..Anak kurang ajar ini membuatku merasa marah, kenapa dia memperlakukan calon istri nya dengan sangat buruk seperti ini?" ucap Tuan Jeon pada istrinya
"Tenangkan dirimu, kita kesini untuk bicara dengan anak mu itu," ucap istrinya lagi.
Jun-Hee kemudian menyingkirkan tangan Soo-Rin yang memegang tangannya dengan kasar, bosan dengan keadaan yang selalu berputar seperti ini.
"Kalian bisa pergi dari sini, aku ingin istirahat." usir Jun-Hee
"Bagaimana kau bisa mengusir kami?" marah Tuan Jeon semakin membara
"Kenapa tidak? .. Kalian mengganggu ku. Atau, kalian kekurangan uang sehingga datang dan membuat keributan di rumahku?" ucap Jun-Hee dengan dingin, orang-orang ini membuat emosinya tak lagi dapat dikontrol.
"Kau!..Kau!" tak dapat berkata-kata lagi, Tuan Jeon hanya bisa mengelus dadanya
"Kenapa, terkejut karena aku mengetahui niat kalian!" tebak Jun-Hee. "Lebih baik kalian pergi sebelum saya kasar pada mu..., Tuan?" ucap Jun-Hee dengan mengejek pada akhir.
"Jun-Hee!" bentak Tuan Jeon lagi, namun Jun-Hee tak mempedulikan pria paruh baya ini.
"Kalian, datang dan bawa Tuan Jeon serta istri dan wanita ini pergi dari sini. Aku tak mau lagi melihat wajah mereka, jika mereka datang maka usir saja. Jika tidak, kalian yang akan sayang pecat!" ucap Jun-Hee pada para penjaga keamanan pria yang bekerja untuknya di rumah ini.
Setelah mendengar perintah Tuan mereka, 6 orang pria masuk kedalam ruang tamu dan menyeret Tuan Jeon serta istrinya dan Soo-Rin keluarga dari rumah itu.
"Jun-Hee.. kau tak bisa melakukan ini padaku! Jun-Hee" ucap Soo-Rin tak terima di usir
"Lihat saja apa yang akan kulakukan padamu, Jun-Hee.. Kau tak bisa melakukan hal ini padaku, Ayahmu! Jun-Hee!" pekikan Tuan Jeon juga terdengar
Namun Jun-Hee tak mempedulikan mereka lagi, dia menyeret tubuhnya ke dalam kamarnya.
"Ayah?... Kau tak bisa menyebut dirimu sebagai ayahku," Jun-Hee mendengus kesal saat suara mereka bahkan bisa dia dengar sebelum akhirnya kembali tenang setelah beberapa saat.
__ADS_1
Dia akan mengakui pria itu sebagai ayahnya jika Tuan Jeon bukan seorang b4jingan. Namun apa yang diperbuat oleh pria paruh baya itu dimasa lalu tak bisa dia terima.
Masa lalu tiba-tiba terlintas di benak nya, matanya menatap pada bingkai foto yang paling berbeda dari semua, seorang wanita yang tersenyum pada arah kamera 'Eomma.. Maafkan aku karena durhaka padanya.. Maaf karena aku tak bisa memenuhi permintaan terakhir mu untuk memaafkan b4jingan itu.'
Kilasan itu datang lagi, hari dimana Dia yang masih remaja rapuh kehilangan ibunya, hari dimana pemakaman terjadi namun dimalam harinya dia malah harus melihat ayahnya berada dalam kamar dengan seorang wanita lain.
Dia tak menyangka, dihari kematian ibunya, ayahnya malah bersenang-senang dengan wanita lain. Melihat wanita yang sama lagi, emosi Jun-Hee tiba-tiba meluap
Dia dengan cepat keluar dari kamarnya, berjalan dengan langkah yang sangat cepat kearah ruang olahraga.
Disana terdapat banyak alat olahraga, dan tempat untuk Sparing juga ada. Mengenakan kain yang dililitkan pada kedua tangannya, Jun-Hee mulai memukul samsak dengan kuat dan penuh emosi.
Entah berapa lama Jun-Hee berada didalam sana, tak ada seorangpun yang berani pergi untuk menghentikannya.
Para pelayan dan beberapa penjaga keamanan hanya berdiam diri. Mereka berada diluar dan mendengar teriakkan kekesalan Jun-Hee selama beberapa waktu.
Jun-Hee yang sedang diliputi oleh kemarahan akan terlihat buas seperti hewan liar, siapa yang mau pergi mengganggu nya dan akhirnya akan kehilangan nyawa?
Mereka semua menyalahkan para tamu yang baru saja kembali, ini salah mereka. Selama tak ada yang membuat keributan dirumahnya maka akan terasa sangat tenang, semua orang hidup dengan baik.
Tak ada satupun yang tak pernah suka juga jika anggota keluarga (Ayah dan ibu tiri Jun-Hee) datang kesini, semua orang yang bekerja di rumah ini merasa berada di neraka saat melihat wanita yang menjadi ibu tiri Taun Jun-Hee.
Itu karena wanita itu merasa jika rumah ini dan segala isinya adalah miliknya. Dia memberikan banyak kekacauan pada para pelayan.
Namun karena mereka hanya pelayan maka mereka tak bisa menyuarakan ketidak sukaan pada orang-orang itu.
.
.
.
__ADS_1
.