
Matahari dengan malu-malu mengintip dari sisi timur bumi, memancarkan cahaya yang membuat sebagian dari bumi terang.
Sinar matahari menembus jendela kaca yang hanya ditutupi gorden, namun tidak membangunkan wanita muda yang sedang berada dalam alam mimpi.
Sebaliknya, anak laki-laki yang memiliki tubuh mungil telah bangun dari tidurnya, saat ia keluar dari kamarnya dan berharap melihat ibunya, namun ia harus menelan keinginannya itu. Ibunya belum bangun, 'tumbe**n.'
Ini karena dia telah terbiasa melihat ibunya yang bangun lebih awal dan mulai menyiapkan sarapan, namun pagi ini tidak seperti biasanya.
Kaki kecilnya langsung melangkah kearah pintu lain, terdapat ketakutan dalam hatinya.
Tokk...Tokk...Tokk...
"Eomma... Eomma, kau sudah bangun?" panggil Do-Hyun, namun karena tak mendapati jawaban dari dalam, ia segera memutar kenop pintu lalu mendorongnya sehingga pintu tersebut terbuka.
"Eomma?" panggil Do-Hyun lagi, ketakutan dalam hatinya semakin kuat. Segera mendekat dan mengguncang tubuh Eun-Kyun.
"Eomma... Eomma.. Bangunlah, Eomma.." panggil Do-Hyun lagi
Tak beberapa lama, mata Eun-Kyun terbuka lalu mengucak matanya sebentar saat melihat wajah mungil Do-Hyun yang terlihat ketakutan. "Ada apa? ..Apa terjadi sesuatu padamu, hmmtt?" ucapnya dengan suara paruh
Do-Hyun langsung masuk kedalam pelukan Eun-Kyun, "Aku takut terjadi sesuatu padamu," balas Do-Hyun
"Ehh? ...Tidak seperti biasanya, apa kau mimpi buruk?" ini karena terkadang, seorang anak akan terlihat aneh dipagi hari karena mimpi buruk saat tidur. Dia pikir Do-Hyun mengalaminya juga seperti kebanyakan anak lainnya
"Tidak,,, hanya saja aku sudah terbiasa bangun saat Eomma sedang memasak, namun pagi ini kau belum bangun saat aku sudah bangun... Aku takut terjadi sesuatu padamu seperti sebelumnya," ucap Do-Hyun dengan khawatir, meskipun dia masih kecil namun dia telah mengetahui penyakit Eun-Kyun yang bisa saja kambuh disaat-saat tak terduga.
Eun-Kyun memeluk Do-Hyun dengan hati yang hangat, anak ini sangat pengertian padanya. "Tidak terjadi sesuatu padaku, aku hanya tak bisa tidur semalam, jadi aku bangun lebih siang pagi ini. Maafkan aku membuatmu khawatir," ucap Eun-Kyun menenangkan Do-Hyun sambil mengecup kening anak itu berulang kali.
"Kau sungguh tak apa-apa, Eomma?" tanya Do-Hyun memastikan.
Eun-Kyun mengangguk, "Aku baik-baik saja, ayo bangun. Cuci muka dan gosok gigimu, ayo.." ajak Eun-Kyun yang menggendong Do-Hyun ke kamar mandi.
Sebenarnya apa yang di khawatir oleh anak ini memang benar, apakah inilah yang namanya hubungan batin? .. Memang semalam penyakitnya kambuh, itu karena Ayah biologis dari putra nya ini tiba-tiba muncul.
Tentu saja dia terkejut, namun tak tahu mengapa penyakitnya tiba-tiba kambuh, apakah ini reaksi dari tubuh ini sendiri? ..Dia juga merasa sesak saat melihat wajah Woon-Hoo semalam, hatinya terasa sangat sakit melihat pria itu.
'Aku tak akan membiarkan nya bertemu dengan Do-Hyun.. Tidak boleh!' Eun-Kyun mengatakan hal ini pada dirinya sendiri, dia sudah mencari tahu tentang Woon-Hoo dan dia tahu apa yang terjadi padanya dan istrinya itu.
Anak meninggal saat masih balita, bahkan keguguran beberapa kali dalam lima tahun ini.
__ADS_1
Dia hanya takut, Woon-Hoo menyadari jika Do-Hyun adalah putra biologis nya dan akan mengambil Do-Hyun darinya.
Apa yang akan terjadi jika Do-Hyun tahu jika ayah kandungnya masih hidup dan memiliki istri lain? .. Bagaimana jika Do-Hyun memilih untuk bersama ayahnya dari pada dengan dia, ibunya?.. Bagaimana jika Do-Hyun tertarik dengan ibu tirinya dari pada ibu kandungnya sendiri?
Ketakutan itu tiba-tiba menyerang Eun-Kyun, membuatnya menjadi tak nyaman.
Eun-Kyun tiba-tiba merindukan Jun-Hee, pria yang memperlakukan nya dengan sangat baik, yang tanpa dia sadari, hatinya perlahan mulai terbuka untuk pria itu.
Do-Hyun yang melihat ibunya terlihat aneh pagi ini mengerutkan keningnya, "Eomma, Gwaenchanh-a?"
Eun-Kyun tersentak kaget ketika Do-Hyun tiba-tiba memanggilnya, "Hmm. Gwaenchanh-a"
Do-Hyun mengangguk dan kembali melanjutkan gosok gigi, setelah itu dia membasuh wajah mungilnya sebelum akhirnya bersama Eun-Kyun pergi ke dapur untuk memasak sarapan mereka.
Saat mereka sedang sibuk menyiapkan sarapan keduanya, bel pintu berbunyi membuat Do-Hyun berlari kecil kearah pintu dan melihat dua saudara kembar berada disana lewat monitor kecil.
"Annyeong, Dong-Hyung, Gong-Hyung." sapa Do-Hyun
"Annyeong, Do-Hyun." balas Keduanya bersama
"Mari masuk," ajak Do-Hyun membuat kedua saudara kembar itu masuk kedalam apartemen mereka.
"Annyeong, Dong-Min, Gong-Min." balas Eun-Kyun
Dong-Min langsung berjalan kearah Eun-Kyun, "Noona... Gwaenchanh-a?" dia khawatirkan karena semalam dialah yang menolong Eun-Kyun di lift.
"Hmmtt, Gwaenchanh-a... Terima kasih telah membantuku semalam, Oh.. Apa kalian berdua sudah sarapan?"
"Sudah, kami sudah sarapan.. Terima kasih telah bertanya," ucap Dong-Min.
"Noona, apa yang kau masak?" Gong-Min mendekati dapur
"Hanya sandwich, ada pula telur rebus. Kau menginginkan nya?" balas Eun-Kyun
"Memangnya tidak merepotkanmu?" tanya Gong-Min ragu
Eun-Kyun tersenyum, "tidak. Kalau begitu, duduk dan tunggulah sebentar lagi, aku akan menambah porsinya."
Gong-Min tersebut, "Baiklah."
__ADS_1
Dong-Min tak tahu harus bereaksi bagaimana terhadap saudara kembar nya itu, mereka baru saja sarapan namun pria ini... haruskah dia menyangkal jika dia adalah saudaranya?
Dasar memalukan!
Karena tak enak hati dengan Eun-Kyun atas perlakuan adik kembarnya, Dong-Min membantu Eun-Kyun menyiapkan beberapa peralatan makan seperti piring dan lainnya.
"Ambil susu dan jus dalam kulkas, bawa ke meja makan, oke?" ucap Eun-Kyun.
"Nee," balas Dong-Min.
Eun-Kyun membawa sandwich ke meja makan, keempat orang sarapan bersama. Ini lebih hangat dan terasa seperti keluarga. Eun-Kyun tak keberatan dua orang remaja yang sudah berubah menjadi pemuda itu makan disini
Dia tak kekurangan uang hanya untuk memberi mereka makan, itu karena mereka berdua tidak makan dirumahnya setiap hari.
............
Jun-Hee disisi lain, saat bangun pagi dia harus mengompres kedua tangannya.
Meskipun dia menggunakan alas tangan saat memukul samsak semalam, namun tidak menghindari cidera ringan pada tangannya.
Itu terlihat memerah dan lecet, ia harus akui jika semalam dia menggunakan banyak tenaga saat memukul samsak.
Jika kembali mengingat mereka, emosinya akan kembali menyerangnya.
Calon istri? .. Wanita mungkin menganggap dirinya sebagai calon istri dari seorang Jeon Jun-Hee, namun tidak bagi dirinya.
Akan lebih baik jika dia menikahi Eun-Kyun, bahkan jika itu sesegera mungkin. Entah kenapa dia tiba-tiba merindukan Eun-Kyun dan Do-Hyun
Memiliki istri yang pengertian, baik dan memahami dirinya adalah impiannya, Eun-Kyun adalah cinta pertama dan harusnya menjadi cinta terakhir nya juga. Satu-satunya wanita yang mengisi hatinya selain Ibunya sendiri
Dan jika memikirkan Do-Hyun, dia harus mengakui jika anak itu sangat pintar, pengertian, dan memiliki sifat dan sikap yang baik pula. Dia juga terlihat sangat menggemaskan
Ahh... kapan dia bisa menikahi Eun-Kyun agar memiliki istri dan putra yang baik ini?
.
.
.
__ADS_1
.