
Jun-Hee membawa Eun-Kyun serta Do-Hyun ke rumah sakit yang telah dilacak oleh Eun-Kyun. Mobil yang dikendarai oleh pria tampan itu melaju dengan kecepatan sedang, namun akan terus menambah kecepatan di saat lalu lintas longgar dengan kendaraan. Mereka bergegas cepat ke 'Rumah Sakit Gangnam Severance'
Saat mobil berhenti, Eun-Kyun segera keluar dari mobil dengan cepat karena merasa tidak tenang. Ia pikir, ini reaksi dari tubuh asli.
Wanita itu melacak dimana Min-Hyuk berada, kakinya mengarah pada halaman samping rumah sakit. Dia bahkan tak menunggu Jun-Hee dan Do-Hyun yang mengikutinya dari belakang.
Semakin langkanya melaju ke depan, semakin dekat jarak mereka.
Hingga matanya menatap Min-Hyuk yang berdiri di kejauhan, ia terus mendekat tanpa mau mengganggu anak itu, namun ia sedikit terkejut melihat bagaimana reaksi anak itu saat sedang menelpon seseorang.
"Paman Lee, saya mohon. Anda adalah teman baik Appa, kali ini saja.. biarkan saya yang meminjamnya atas nama saya sendiri, saya akan membayarnya di kemudian hari"
"....."
"Tidak Paman, aku janji tidak akan terus berhutang padamu-"
"Bagaimana Anda bisa bicara kasar seperti itu pada Ayah saya, dia adalah teman baik- halo..halo..Paman Lee... Ahkk Sial!" umpat Min-Hyuk. Remaja itu benar-benar sangat frustasi, dia belum cukup umur untuk pergi meminjam uang di Bank. Bagaimana dia bisa membayar biaya rumah sakit ayahnya kali ini?
Dia benar-benar membenci kedua wanita itu. Mereka jelas-jelas mengetahui keadaan ayah yang saat ini, namun masih saja kekeh dengan keinginan mereka yang gila itu.
Kesehatan Ayah telah kembali stabil setelah kakak perempuannya dari pihak Ayah kembali dan mengunjungi restoran tempo hari. Ayah benar-benar beraktivitas dengan sangat baik, suasana hatinya juga baik akhir-akhir ini. Sebagai anak laki-laki, dia merasa ikut senang.
Namun, dua wanita ini... entah kata apa yang tepat untuk mereka, dia membencinya. Benar-benar sangat membenci kedua wanita yang menjadi keluarga nya ini.
Namun disatu sisi, dia juga menyayangi mereka berdua. Keduanya adalah ibu dan saudara kandungnya, berasal dari rahim yang sama namun dengan ayah yang berbeda.
Dia memarahi mereka, namun tak dapat menghentikan keduanya yang benar-benar sangat keterlaluan. Terutama setelah 4 tahun belakangan ini, setelah perusahaan Ayah bangkrut dan mereka mulai bekerja di restoran untuk membiayai hidup dan sekolah serta kuliah anak-anak nya.
Meskipun perusahaan itu bukan perusahaan yang besar, namun masih terdapat ratusan karyawan yang bekerja disana. Ayah hanyalah salah satu direktur kecil di perusahaan, saat perusahaan itu bangkrut, ayah juga harus angkat kaki dari sana dan memilih untuk membuka restoran ayam dan menjalani kehidupan yang tenang.... Meskipun tak berjalan dengan baik pada akhir-akhir ini.
Huh... mengingat hal ini, hati Min-Hyuk benar-benar terasa sangat sakit.
Bagaimana dia harus mencari uang? ..Ayah kritis, namun dia tak memiliki uang. Dia benar-benar tak berguna, padahal Ayah telah memberikan yang terbaik untuk nya sedari dia masih kecil.
Min-Hyuk yang sedang duduk merasa emosinya meluap, dia tak tahan lagi, ia menundukkan kepalanya lalu menutupi wajahnya dengan kedua tangannya. "Hikss...hikss.." dia merasa benar tak berguna. Apa yang harus dia lakukan untuk mendapatkan uang? ..Siapa lagi yang harus ia hubungi untuk meminjamnya? "Hikss...hikss.."
Saat sedang terpuruk, dia merasa seseorang menyentuh pundaknya. Tangan itu menepuknya pelan, "Mengapa malah disini dan tak masuk kedalam?"
__ADS_1
Min-Hyuk mendongak ketika mendengar suara yang sedikit familiar, benar saja! "Noona"
"Mengapa kau malah me-"
Belum juga ucapan nya selesai, Min-Hyuk sudah memeluk pinggangnya dan menangis disana. "Hikss... hikss... aku tak berguna.. padahal Appa sedang.. membutuhkan uang..tapi..tapi aku tak bisa menemukan seseorang..aku payah..Noona...aaaggg...aaggg." Tangisan Min-Hyuk pecah, dia tak lagi menahan dirinya dan menangis seperti anak kecil disana.
Eun-Kyun membalas anak itu dengan memeluk kepalanya saja, ini karena Min-Hyuk dalam posisi duduk sehingga remaja itu terlihat lebih pendek darinya.
"Tenanglah..Aku sudah ada disini..jangan khawatir lagi..tenang, oke?" balas Eun-Kyun sambil melirik beberapa orang yang berlalu-lalang dan memperhatikan mereka.
Min-Hyuk tak menahan dirinya, remaja itu meluapkan semua emosinya saat ini. Ia memeluk Eun-Kyun erat dan menangis dengan membenamkan wajahnya di perut wanita itu.
Jun-Hee dan Do-Hyun juga ada disana, namun mereka tak mengganggu sepasang kakak beradik tersebut.
Do-Hyun sudah terbiasa dimanja oleh ibunya, meskipun saat ini dia sedang kesal karena ibunya telah direbut oleh paman mudanya.
Begitu juga dengan Jun-Hee, padahal dia baru saja bahagia beberapa saat yang lalu. Namun saat ini, dia harus minum cuka asam! Yah, meskipun mereka adalah sepasang kakak beradik sih, namun tetap saja dia tak suka.
Namun apa dikata, Paman/Adik ipar saat ini sedang sedih, mereka berdua juga harus berbagi dengan pria lain lagi. Huhuhu...
Eun-Kyun menghibur Min-Hyuk, ia mengelus rambut Min-Hyuk yang lembut dengan jemarinya, membiarkan anak itu meluapkan semua kesedihan, kekhawatiran nya dalam tangisan.
"Bagaimana, sudah tenang?" tanya Jun-Hee yang sejak tadi harus minum cuka karena kekasihnya disentuh oleh pria lain, meskipun itu adalah calon adik iparnya sih.
Min-Hyuk menoleh pada Jun-Hee yang sedang berdiri disana dengan Do-Hyun juga, ia ingat. Sepertinya pria ini adalah calon suami kakak perempuannya, dia tiba-tiba merasa sangat malu. Sebagai seorang pria, dia telah menangis di baju seorang wanita.
"Bagaimana kondisi Appa saat ini?" ucap Eun-Kyun setelah Min-Hyuk benar-benar tenang.
"Kondisi Appa sangat memburuk, padahal sejak Noona pulang dari restoran Appa telah kembali pulih dan sehat, aku pikir karena dia dalam suasana hati yang bagus. Namun malam ini, saat makan malam selesai, Appa tiba-tiba sakit lagi. Aku...aku benar-benar sangat takut, apa yang harus kulakukan Noona?" Min-Hyuk menghadap kakaknya dengan kebingungan.
"Jangan khawatir, aku memiliki yang. Ayo kita pergi," ajak Eun-Kyun
Min-Hyuk menghentikan Eun-Kyun dengan menarik tangannya sebentar, "memangnya Noona punya uang?" dia tak ingin merepotkan kakak perempuannya ini dengan urusan mereka.
Eun-Kyun tersenyum berbagai tanggapan nya.
Mereka beranjak beberapa meter sebelum Min-Hyuk berhenti dan mengangkat ponselnya. Wajahnya terlihat jengah, "ada apa lagi?"
__ADS_1
"...."
Wajah Min-Hyuk langsung menegang, ia tiba-tiba menarik tangan Eun-Kyun untuk lebih cepat.
"Ada apa?" tanya Jun-Hee yang berada disamping mereka
"Appa semakin parah, detak jantungnya kembali melemah. Noona, ayo cepat.. Kita harus bisa menyelesaikan biaya nya," Min-Hyuk menarik tangannya lebih cepat.
Keduanya bisa dibilang berlarian, ketika akan masuk kedalam rumah sakit, keduanya dengan cepat diperiksa oleh petugas di pintu samping.
Setelah melakukan tes suhu tubuh dan lainnya, mereka mulai menghilang dari pandangan.
"Papa, ayo lebih cepat." Do-Hyun ingin lebih cepat, bukan karena dia khawatir pada kakeknya, namun pada ibunya.
Wanita memiliki penyakit jantung, jangan ada sesuatu yang salah jika tidak, dia akan sangat marah dan khawatir.
Jun-Hee membantu Do-Hyun mencuci tangannya, namun saat mereka akan masuk. Keduanya dilarang kesana
"Maaf Tuan, tapi anda tidak bisa masuk dengan membawa anak kecil." ucap salah satu satpam
"Tapi, ibunya sudah masuk. Kami juga harus menyusul," balas Jun-Hee
"Tuan, kami akan memperbolehkan Anda jika saat ini dalam kondisi stabil seperti tahun lalu. Namun sekarang ini sedang Corona Virus, rumah sakit juga memiliki peraturan untuk tidak membiarkan anak kecil masuk." jelas Satpam yang lain
"Tapi-"
"Maaf Tuan, ini sudah peraturan rumah sakit. Kami hanya mengontrol di sini saja, mohon jangan membuat keributan." ucap satpam A.
"Jika pun Anda ingin masuk, itu bisa namun Anak anda harus ditinggalkan disini dan membiarkan kami yang menjaganya sebentar.
Atau bisa juga, Anda meminta kerabat atau teman untuk datang menjemputnya sementara waktu sehingga Anda bisa masuk kedalam tanpa khawatir"!saran satpam B
Jun-Hee mengangguk dan menelpon asistennya.
.
.
__ADS_1
.
.