
"Hyun-ah... Ayo bantu Eomma," ujar Eun-Kyun dari dapur.
"Ne," balas Do-Hyun. Meletakkan Ipad-nya diatas sofa dan mendekati Eun-Kyun.
Dengan senang hati, anak itu mulai membantu ibunya membuat kue yang akan mereka berikan pada para tetangga.
Semua bahan sudah diletakkan diatas meja makan, dimana keduanya akan membuat kue.
Mengambil 2 bungkus tepung beras ketan, Eun-Kyun menggunting kemasannya lalu menuangkan tepung kedalam wadah yang sudah disiapkan. Lalu ditambah sedikit vanili, pewarna makanan dan air.
Ibu dan anak itu mulai membuat adonan, dengan tangan yang udah dicuci bersih ia mulai menguleni adonan hingga kalis dan bisa dibentuk bulat.
Sementara Do-Hyun, anak itu membuka beberapa bungkusan cokelat, ia juga menyiapkan daging kelapa diatas piring agar bisa diblender oleh ibunya nanti.
Menyingkir dari Ibu dan anak, seorang pria di suatu ruangan sedang duduk diam ditempat kebesarannya.
Mata dan tangannya berada diatas laptop, namun pikiran dan jiwanya sedang melayang jauh.
'Apa itu sungguh Eun-Kyun? Atau hanya perasaan ku saja?'
Dirinya telah mencari wanita itu selama bertahun-tahun, wanita yang telah membuatnya duduk di puncak kesuksesan. Wanita yang selalu hadir dalam mimpinya dulu, wanita yang membuatnya termotivasi agar menjadi orang yang memiliki kekuasaan.
"Omo! Gambar mu bagus sekali" ucap seorang gadis yang mengintip buku gambarnya.
"Kau bisa menjadi seorang desainer dimasa depan" lagi-lagi gadis itu memberikannya pujian.
"Bukan hanya wajahmu saja yang tampan yah, kau juga sangat cerdas" sekarang dia tak lagi ragu-ragu untuk memujinya saat melihat setiap goresan tangannya diatas kertas putih.
"Daebak! Bukan hanya membuat desain pakaian, kau bahkan bisa melukis wajah seseorang?" gadis itu tersenyum cerah saat melihat gambar yang ia buat. Membuatnya selalu termotivasi untuk melakukan banyak hal lagi hanya untuk melihat senyum gadis itu.
"Kau benar-benar multitalenta yah! Kau bisa melakukan banyak hal. Kau membuatku iri padamu, tahu!" gadis itu mengatakan nya dengan nada yang culas namun tetap memuji dengan tulus.
"Aku pikir, kau bisa menjadi seorang seniman disama depan" ucap gadis itu lagi saat melihat goresan tangannya
"Jangan lupakan aku yah jika kau sukses dimasa depan nanti. Kau harus mentraktir ku makan di restoran mahal! Janji?" jantungnya benar-benar berdetak kencang saat gadis itu mengatakan hal ini. Tentulah dia akan mentraktir nya dimasa depan, bahkan akan memberikan banyak hal untuk gadis ini saat ia sukses nanti.
............
'Ahhh.... hal ini membuatku benar-benar frustasi' Pria tampan itu menjambak rambutnya pelan. Tangannya segera meraih ponselnya, ia menggeser nya kearah salah satu kontak yang telah disimpan.
"Periksa rekaman CCTV di supermarket jalan Qwerty, pada pukul 14:07. Aku menginginkan nya," ucapnya memerintah.
__ADS_1
Setelah itu, ponselnya sudah tak terhubung lagi di panggilan.
Ia tak bisa berkonsentrasi disaat seperti ini, berjalan kearah suatu ruangan khusus ya g terdapat kasur empuk dengan suasana rumah, ia berbaring disana.
Ruangan ini tidaklah terlalu besar, karena merupakan tempat nya untuk beristirahat jika harus lembur dimalam hari.
Dia tak akan kembali kerumahnya jika memiliki banyak pekerjaan, dia merupakan orang yang gila kerja selama beberapa tahun belakangan ini, terlebih setelah ia memasuki dunia kerja yang kejam.
"Aku sangat merindukanmu.... Eun-Kyun"
................
Takk...
Takk...
Takk...
Papan setebal 1,5 cm itu sedang beradu dengan pisau, membuat bunyi yang tercipta oleh keduanya. Sementara diatas papan terdapat beberapa potong cokelat yang sudah dipotong kecil-kecil dengan ketebalan 1,3 cm.
"Ayo bentuk adonannya dan isi dengan cokelat," ajak Eun-Kyun pada anaknya.
"He'em" mengangguk, ia mulai mengambil sedikit adonan yang sudah didiamkan selama beberapa menit.
Perbedaan bentuk tangan sangatlah berpengaruh disini, itu karena adonan yang dibuat oleh Do-Hyun sedikit kacau. Namun melihat anaknya yang sangat menikmati ini, hatinya menjadi lebih tenang dan hangat.
Blupp...
Blupp...
Blupp...
Air yang tadi dipanaskan juga telah mendidih, beberapa adonan yang sudah terbentuk dimasukkan kedalam air mendidih, sedangkan mereka menyelesaikan semua adonan itu.
Hanya dalam waktu 5 menit, adonan pertama telah mengembang diatas permukaan air mendidih. Mengangkatnya lalu ditiriskan, adalah adonan yang lain kembali dimasukkan lagi. Begitu seterusnya hingga semuanya habis.
Sambil menunggu sedikit dingin, Eun-Kyun mengambil blender dan mulai menghaluskan daging kelapa yang kering tadi.
Hasilnya, dagingnya sangat kering dan kasar. Kelapa parut telah siap.
"Emm.. ini lengket," ucap Eun-Kyun saat mengambil 1 potong menggunakan yang telah ia cuci dengan sabun.
__ADS_1
"Tentu saja, itu adalah tepung ketan, makanya lengket. Kau harus menggunakan sumpit atau garpu, lalu masukkan kedalam kelapa dan tutupi semua sisi kelepon dengan kelapa." komentar Do-Hyun sambil melakukan apa yang seharusnya.
Dia terlihat sangat terbiasa, itu karena dia menghabiskan banyak waktu bersama Mama Ina yang selalu membuat sesuatu untuk dimakan oleh anak ini.
Mama Ina selalu membuat dari pada membeli, itu karena dirinya sendiri memastikan bahan-bahan yang digunakan adalah bahan asli tanpa pengawet.
Eun-Kyun menatap anaknya, anak ini bahkan lebih pintar darinya. Singa kecil ini benar-benar mengendalikan dirinya!
Tanpa membalas ucapan Do-Hyun, Eun-Kyun mengambil sumpit dan memindahkan beberapa potong kue kedalam kelapa parut, ia melakukan sama seperti yang dilakukan oleh Do-Hyun.
Hasilnya, semua permukaan kelepon ditutupi oleh kelapa parut. Itu terlihat lebih cantik.
"Wahh.. terlihat sangat lezat." ucap Eun-Kyun.
Mengambil satu potong lalu dimasukkan kedalam mulutnya, saat di kunyah cokelatnya meleleh dalam mulut, ditambah tepung ketan yang kenyal ini dan lagi ada parutan kelapa, benar-benar sempurna. Rasanya sangat enak!
"Bagaimana, enak bukan?" tanya Do-Hyun.
Eun-Kyun mengangguk, ia setuju dengan anaknya ini.
Do-Hyun juga memasukkan kelepon kedalam mulutnya, ia benar-benar menikmati kue yang baru saja dibuat oleh mereka berdua.
"Aku akan mencoba yang ini," Eun-Kyun mengambil kelepon yang belum ditaburi kelapa parut. Saat di kunyah, rasanya juga enak, namun terasa polos.
"Enak, tapi-"
"Terserah berbeda, sangat polos. Benar kan?" potong Do-Hyun.
Eun-Kyun mengangguk setuju.
Keduanya menyelesaikan semua kelepon dan menutupi nya dengan kelapa parut.
Kemudian, mengambil kotak yang terbuat dari kertas, dilapis dengan kertas minyak lalu dimasukan 10 potong kue kedalamnya.
Karena memiliki dua ukuran, yang bentuknya lebih besar akan mereka bagikan, sementara yang lebih kecil dengan porsi yang lebih sedikit akan mereka makan sendiri.
Hasilnya, keduanya berhasil membuat 27 kotak kue.
"Ayo kita bagikan," ajak Eun-Kyun.
Do-Hyun mengangguk semangat, ia kemudian mengambil masker dan mengikuti ibunya dari belakang.
__ADS_1
Eun-Kyun meletakkan 5 kotak diatas nampan, karena dalam 1 lantai hanya terdapat 6 apartemen, dia akan membawanya sedikit-sedikit.