
Jun-Hee mengantar Eun-Kyun ke apartemen, karena mereka baru saja kembali dari rumah sakit, Eun-Kyun segera masuk kedalam kamar mandi dan membersihkan tubuhnya.
Sementara Eun-Kyun mandi, Jun-Hee yang telah mencuci tangannya pergi mengambil Do-Hyun di apartemen si kembar.
'Ting-Tong....Ting-Tong'
Tiga orang yang saat ini sedang bermain game mendengar bel pintu yang berbunyi.
"Hyung, buka pintu." ucap Gong-Min
Pemuda yang disuruh itu hanya melirik adiknya, "untuk apa kau menyuruhku? Pergi saja sana," balas Dong-Min.
"Mengapa malah menyuruhku? Kau kan kakak, harus mengalah untuk adik, oke?" ucap Gong-Min
"Sebagai adik, kau harusnya mendengarkan ku, oke?" balas Dong-Min. Keduanya berakhir dengan berdebat
Do-Hyun yang duduk fisofa sambil bermain game online di iPad nya hanya mendengarkan mereka, ia menghentikan permainannya sebentar. "Biar aku saja," ucapnya.
Kedua saudara kembar itu langsung menoleh pada si kecil, Do-Hyun. Mereka terus menatap anak itu hingga ia menghilang dibalik dinding.
Do-Hyun melihat Jun-Hee yang berada dibalik pintu melalui layar monitor, ia segera membuka pintu.
"Papa?"
Jun-Hee yang mendengar suara khas anak kecil itu tahu siapa yang memanggilnya. "Hai, Boy."
"Kau disini? Apa Eomma ku juga sudah pulang?" tanya Do-Hyun
Jun-Hee mengangguk, "Dia didalam, ayo pulang." ajak Jun-Hee
Do-Hyun mengangguk, dia berlari kedalam apartemen kedua saudara kembar. "Hyung, Eomma ku sudah pulang, aku pergi dulu, bye." ia berpamitan sekaligus mengambil iPad nya.
"Baiklah, sampai nanti." balas keduanya
Do-Hyun menghampiri Jun-Hee yang berada dipintu, menggandeng tangannya dan berjalan kearah pintu apartemen mereka.
Ketika mereka tiba didalam apartemen, saat itu juga Eun-Kyun baru saja selesai dengan mandinya. Keluar dengan hanya menggunakan jubah mandi, dia menemukan dua pria berbeda generasi itu menatapnya.
"Apa apa?" tanyanya bingung
"Tak ada," jawab keduanya kompak.
Eun-Kyun menatap keduanya dengan heran, namun ia malah masuk kedalam kamar dan mengganti pakaian.
Jun-Hee tinggal di apartemen hingga malam, dia bahkan tak membiarkan Eun-Kyun memasuki dapur dan malah ia sendiri yang kesana untuk membuatkan makan siang bahkan makan malam.
__ADS_1
"Mau kubantu?" tawar Eun-Kyun, matanya menatap Jun-Hee yang sedang memotong wortel dan kentang
Jun-Hee melirik kilas wanita yang sedang menatapnya dari samping. "Tak ada, duduklah disana dengan patuh. Kau baru saja keluar dari rumah sakit, istirahat lah." balas Jun-Hee
Namun Eun-Kyun tak beranjak dari sana, dia malah menghampiri kulkas dan mengambil apel merah yang menggoda. Mencucinya dengan air bersih, lalu menggigit apel tersebut 'Manis, enak.
Eun-Kyun tak mengganggu Jun-Hee yang sedang memasak, ia berdiri disana sambil menonton pria tampan itu memasak.
Jun-Hee melirik Eun-Kyun yang saat ini sedang menontonnya, tersenyum kilas dan kembali memotong dada ayam. Saat ini dia sedang membuat sup ayam
Eun-Kyun memperhatikan tangan Jun-Hee yang sedang bekerja, baju putihnya yang tanpa noda itu telah tergulung lengannya, memperlihatkan tangan pria itu yang memiliki urat-urat yang menonjol disana.
Saat matanya mengarah pada wajah Jun-Hee, dia hanya menatapnya dan mengagumi wajah tampan itu dalam hatinya. 'Dia tampan, kaya raya, pekerja keras, penyayang dan romantis. Eun-Kyun benar-benar pandai memilih orang,' batinnya. Tentu saja yang dia maksud itu di pemilik tubuh yang asli.
Jun-Hee menangkap basah wanita itu sedang menatapnya, dia tersenyum dalam. 'Aku tahu, aku tampan. Jangan membuatku gugup dengan tatapan mu itu, oke?' batin Jun-Hee. Namun, meskipun dia sedikit gugup dengan tatapan Eun-Kyun, namun ia juga senang karena Eun-Kyun menatapnya.
Kepercayaan dirinya menutupi rasa gugup itu, membuatnya menjadi lebih percaya diri dihadapannya. Jun-Hee mengambil lima butir telur, memecahkan nya kedalam mangkuk dan membuat dadar gulung ala Korea.
Saat makanan telah matang, pria itu bahkan tak ragu lagi untuk melayani Eun-Kyun. Wanita satu anak itu hanya duduk diam sambil menatap mangkuk yang sudah berisi nasi putih, ada pula mangkuk dengan isian sup dengan wortel dan kentang didalamnya serta daging ayam, membuat sup berwarna putih, ada pula telur gulung yang telah dipotong-potong.
Jun-Hee menggunakan sumpit nya untuk mengambilkan Eun-Kyun telur dadar, membuat wanita itu menatapnya namun ia balas dendam senyuman.
"Papa, aku juga mau" ucap Do-Hyun yang melihat ibunya dilayani
Namun Eun-Kyun malah fokus pada Do-Hyun, "kau memanggilnya apa tadi?" tanya Eun-Kyun
"Papa.," balas Do-Hyun
"Papa?" ulang Eun-Kyun, Do-Hyun mengangguk. "Sejak kapan dia menjadi Papa mu?"
Do-Hyun mengalihkan pandangannya pada Jun-Hee, namun anak itu tak menjawab dan malah bicara dalam hati nya, 'Bukankah dia akan menjadi ayahku dimasa depan? ..Saat aku memanggilnya dengan 'Papa' jika dia telah menikahi mu, aku akan memanggilnya dengan 'Appa'. Yah, jika hal itu terjadi, jika tidak maka tidak juga'
Meskipun ia masih berusia 4 tahun, Eun-Kyun tak bisa membodohi anak ini, apa lagi Jun-Hee?
Dia tahu arti dibalik tatapan Jun-Hee pada ibunya; kasih sayang, cinta, ketulusan. Dia tahu itu!
ketiga orang itu menghabiskan makan malam dengan tenang, Jun-Hee akan mengambilkan keduanya telur dadar dari waktu ke waktu. Setelah makan malam, Jun-Hee bahkan mencuci mangkuk dan tak membiarkan Eun-Kyun memasuki dapur lagi, sekarang yang berada diposisi Eun-Kyun tadi telah digantikan oleh Do-Hyun.
Anak itu menonton Jun-Hee mencuci mangkuk dan mengeringkan nya lalu menyusunnya diatas rak khusus. Jun-Hee akan mengajukan beberapa pertanyaan kecil, dan anak itu akan menjawabnya dengan baik
Obrolan mereka normal-normal saja.
"Aku akan kembali, sebaiknya kau segera tidur dengan ibumu, oke?" ucap Jun-Hee yang ingin berpamitan pada Eun-Kyun yang berada dalam kamar.
"Papa." panggil Do-Hyun
__ADS_1
"Heem?" balas Jun-Hee
"Bisa bacakan cerita pengantar tidur untuk ku?"
Jun-Hee mengalihkan pandangannya pada Do-Hyun yang saat ini menatapnya dengan tatapan berbinar, anak ini terlihat seperti anak anjing yang terlihat meminta dikasih sayang. Jun-Hee tak bisa menolak permintaannya, "baiklah."
Do-Hyun langsung tersenyum, "Terima kasih. Ayo ke kamarku," ajak Do-Hyun, ia menarik Jun-Hee masuk ke kamarnya.
Jun-Hee duduk disisi tempat tidur, membiarkan Do-Hyun mengambilkan buku dongeng diatas meja belajarnya lalu diberikan pada pria itu.
Do-Hyun berbaring, lalu menyelimuti tubuh mungilnya dengan selimut. Ada pula boneka Singa disisi tempat tidur yang lain, ia menepuk sisi tempat tidur yang kosong.
Jun-Hee mengerti, dia membaringkan separuh tubuhnya diatas tempat tidur anak itu. Membuka buku dongeng dan mulai membacanya. " Suatu hari, seorang pria terjebak dalam hutan, dia berkeliling hutan dan mencari jalan keluar, namun tak menemukan jalan keluar malah bertemu dengan seorang anak perempuan yang membawanya pada rumah mereka..."
Do-Hyun juga menatap buku itu, namun tak lama kemudian ia mulai menutup matanya
Jun-Hee terus membaca, namun saat ia melirik Do-Hyun, ternyata mata anak itu telah tertutup.
Dia pikir, dia bisa pergi sekarang setelah berpamitan dengan Eun-Kyun. Namun ternyata tidak, saat tubuhnya bergerak, Do-Hyun tiba-tiba membuka matanya.
"Jangan pergi, temani aku" Do-Hyun mengebor kedalam pelukan Jun-Hee, membuat pria itu sedikit terkejut
"Namun, aku harus pulang." balas Jun-Hee
"Apa ada seseorang di rumah mu, Papa?" tanya Do-Hyun
"Tidak, tak ada yang menungguku di rumah." Jun-Hee
"Lalu, kalau begitu temani aku, Papa." Do-Hyun mengeratkan pelukannya, ia tak mau melepaskan Jun-Hee..
Jun-Hee bingung, memang benar jika tak ada yang menunggunya di rumah, yang ada hanya 'Pengganggu' disana.
"Baiklah, aku bersamamu. Tidurlah," Jun-Hee menyanyikan lagu sambil menepuk pelan punggung Do-Hyun.
Tak lama, Do-Hyun benar-benar tertidur pulas. Jun-Hee yang juga merasa lelah memperbaiki posisi tidurnya, tak tahu jika ia juga memasuki alam mimpi secara perlahan.
30 menit kemudian, pintu kamar Do-Hyun terbuka. Menampilkan dua pria berbeda generasi yang tertidur saling berpelukan.
Eun-Kyun pikir, Do-Hyun benar-benar merasa nyaman dengan Jun-Hee. Anak ini tak pernah merasakan perasaan kasih sayang ayah kandungnya, meskipun ada Nathan yang bersamanya namun Eun-Kyun pikir kekosongan dalam hati Do-Hyun masih ada.
Eun-Kyun menutup pintu kamar, ia kembali ke kamarnya dan tidur.
Ia pergi memeriksa Do-Hyun karena anak itu biasanya akan tidur dengan ibunya ini. Namun, malam ini tidak sehingga dia pergi dan memeriksa. Ternyata menemukan keduanya tidur saling berpelukan
Otak Eun-Kyun terus bekerja, hingga tanpa sadar ia juga tertidur.
__ADS_1