
Ningg...Nongg...
Ningg...Nongg...
Tangan kecil itu menekan bel yang terletak disamping pintu sebanyak dua kali, ia kemudian berdiri didepan pintu sambil menunggu sang pemilik apartemen untuk membukanya.
"Siapa?" Terdengar suara dari dalam sana dari spiker yang letaknya berada persis di samping pintu.
"Aku dan ibuku tetangga baru di lantai atas, kami memiliki sesuatu untuk dibagikan pada tetangga untuk menjaga hubungan baik," balas suara yang ikut itu, tentunya karena dia merupakan seorang anak berusia 4 tahun.
"Ahh. Terimakasih.... letakkan saja didepan pintu. Aku akan mengambilnya," Bukan orangnya yang keluar, namun hanya suaralah yang terdengar lagi dari spiker.
"Emm.. Baiklah, silahkan dinikmati yah, Paman." balas anak berusia 4 tahun tersebut.
Ia kemudian meletakkan satu kotak berwarna putih didepan pintu, kemudian pergi dari sana dan menghampirinya ibunya.
Masih banyak yang akan mereka bagikan, jadi mereka kembali membagikan kotak-kotak berisi kue tradisional tersebut.
Karena di sana sudah semuanya, mereka turun kelantai paling dasar.
"Jadi, lebih baik menitipkannya di lobby saja?" tanya Do-Hyun polos.
Eun-Kyun mengangguk, "Kita akan mengganggu para tetangga, terlebih jika mereka orang yang sulit dihadapi.
Do-Hyun berfikir sejenak, ia kemudian mengangguk setuju. "Baiklah."
Eun-Kyun tersenyum dibalik maskernya, "Menjaga hubungan yang baik dengan semua orang itu perlu, tapi mungkin saja ada beberapa orang yang tak ingin diganggu kesibukannya.
__ADS_1
Yang terpenting, semua orang dilantai yang sama dengan kita sudah saling mengenal. Itu sudah cukup, mengerti?" jelas Eun-Kyun.
Do-Hyun mengangguk paham, ia dan ibunya memasukkan semua kotak kedalam kardus yang berukuran sedikit lebih besar dari normal. Itu karena kardusnya menampung semua kotak kue yang dibuat mereka.
berjalan ke lift sambil membawa kardus, hal ini bukankah pekerjaan yang sulit bagi Eun-Kyun.
Dimasa lalu, saat dirinya masih berada dalam Covert organization, dia selalu melatih tubuhnya dengan alat-alat berat yang diangkat setiap hari.
Saat itu, pintu lift juga terbuka. Lalu, keluarlah seorang pemuda yang membawa beberapa buku ditangannya.
Pemuda itu menundukkan kepalanya sebentar, tapi saat akan melewati keduanya, ia dihentikan oleh Do-Hyun.
"Permisi, Kakak. Apa kau tinggal di sini juga?"
Pemuda itu menghentikan langkahnya lalu mengangguk, "Ya. Ada apa?"
"Kalian tetangga baru yang kemarin pindah?" tanya pemuda itu, ia menatap Do-Hyun dengan tatapan menggemaskan.
Ia mengingat kemarin saudara kembarnya mengatakan ada yang pindah ke apartemen kosong di samping mereka. Ternyata ibu dan anak ya g kini berada dihadapannya.
Do-Hyun mengangguk, "Ya. Itu kami... Kau mau ambil satu?" tawar Do-Hyun lagi, melihat pemuda itu yang mengangguk Do-Hyun segera memberikan nya satu kotak lagi.
"Terimakasih," ucapnya. "Emm.. Namaku Lee Dong-Min. Kau bisa memanggilku Dong Hyung, aku tinggal di kamar 137." ucapnya sambil tersenyum pada Do-Hyun dibalik topinya.
Melihat pemuda yang ramah pada putranya, Eun-Kyun hanya diam dan mengamati saja.
Do-Hyun segera memperkenankan namanya juga. "Aku Park Do-Hyun, dan ini Ibuku. Park Eun-Kyun, kami penghuni kamar 140.
__ADS_1
Senang bisa berkenalan denganmu, Hyung."
"Senang bisa berkenalan denganmu juga, kalau begitu aku akan lanjut dulu." Pamitnya.
Do-Hyun mengangguk, ia menundukkan kepalanya sebentar pada Pemuda yang baru saja ditemuinya.
Sementara pemuda itu segera melangkah meninggalkan ibunya dan anak yang juga sudah memasuki lift dan turun ke lantai dasar.
Pemuda itu menekan tombol password di pintu, setelah terbuka ia masuk dan menyapa kembarannya yang sedang bersantai sambil menonton televisi.
"Kau sudah pulang?" ucapnya, keduanya adalah sepasang anak kembar. Berbeda 10 menit, sang Kakak adalah Lee Gong-Min dan Lee Dong-Min adalah adiknya.
Dong-Min yang baru saja masuk rumah meletakkan kotak yang diterima dari Do-Hyun, ia segera pergi ke wastafel, ia mencuci tangan dan membuang masker yang telah dipakai.
'Kotak itu?' Batin Gong-Min.
"Kau membeli sesuatu?" tanyanya.
Dong-Min menggeleng, "tidak. Dikasih sama tetangga sebelah yang baru pindah," balasnya.
"Ahh... Tadi mereka juga dari sini, memberikan kotak yang sama juga. Kue nya enak," puji Gong-Min diakhir.
"Oh," balas Dong-Min singkat. Karena kembarannya telah memiliki satu kotak, ia pikir yang satu nya lagi bisa ia dapatkan.
Memasuki kamarnya tanpa memperdulikan saudara, ia membawa satu kotak bersamanya sebagai teman saat sedang belajar.
Dilain tempat.
__ADS_1
Lift yang dinaiki oleh ibu dan anak itu berhenti sebentar di lantai lima, seseorang masuk kedalam sana lalu pintu kembali tertutup dan akhirnya berhenti di lantai satu.