
Sebelumnya, Jun-Hee masih ditahan diluar karena tak memperbolehkan anak kecil masuk kedalam rumah sakit.
Yah, ini merupakan salah satu peraturan dari semua rumah sakit yang ada di Korea Selatan, bukan hanya disana namun juga di seluruh dunia yang terdampak virus ini.
Setelah menelpon asistennya, Jun-Hee masih harus menemani calon anak tirinya tersebut disana, tak mungkin ia meninggalkan Do-Hyun sendirian menunggu asistennya. Meskipun bisa menitipkan Do-Hyun sementara bersama dengan satpam, namun alangkah baiknya dia sendiri yang menemani anak itu.
"Nanti, apa Do-Hyun tak apa bersama asisten Papa sebentar? ..Dia akan membawa mu ke rumah Papa, disana ada pelayan yang menemani Do-Hyun untuk sementara waktu. Kau tak keberatan?" Tanya Jun-Hee
Raut wajah anak itu terlihat tidak nyaman, meskipun tempat yang akan ia datangi nanti merupakan rumah Jun-Hee, namun tetap saja tempat itu merupakan tempat yang asing baginya.
"Yah, baiklah. Aku akan menunggumu dan Eomma di sana," balas Do-Hyun pasrah.
"Jangan sedih, asisten Papa sangat baik, kau bisa memintanya untuk menemanimu bermain di rumah nanti." Hibur Jun-Hee, dia tahu jika akan ini tak mau berpisah dari ibunya, namun untuk sementara waktu... Tak apa bukan?
Do-Hyun juga bukan anak yang tak mengerti apapun, setelah menunggu selama hampir satu jam, pria yang merupakan asisten calon ayah tirinya itu tiba.
"Maafkan saya, Tuan. Saya terlambat karena-"
"Tak apa, ambil Do-Hyun dan bawa di kembali ke rumahku. Temani dia bermain atau apapun yang dia inginkan," Jun-Hee memotong ucapan asistennya.
Ia kemudian menoleh pada Do-Hyun yang masih berada disana, berlutut dengan satu kaki untuk menyesuaikan tinggi badannya dengan anak itu. "Papa akan masuk kedalam dan melihat kondisi kakekmu, setelah pulang sampai rumah, minta pelayan buatkan susu untukmu. Setelah itu kau boleh bermain sebentar dan tidur, oke?"
Do-Hyun mengangguk, "he'em... Aku mengerti," balasnya.
Jun-Hee menepuk sayang pada kepalanya, tangannya juga mencubit lemak bayi yang ada di pipinya. "Kembalilah, Papa pergi dulu. Sampai bertemu di rumah," Jun-Hee mengecup kening Do-Hyun sebelum ia berdiri dan berbalik pergi.
Namun ia juga berbalik sebentar untuk melambaikan tangannya pada keduanya yang berada dibelakangnya sebelum ia mendorong pintu dan masuk kedalam gedung.
Do-Hyun juga melambaikan tangan mungilnya pada Jun-Hee, sebelum akhirnya ia menoleh pada asisten calon Papa tirinya. Alis anak itu menyatu, "Ahjussi, gwaenchanh-a?"
Panggilan Do-Hyun membuyarkan pikiran pria itu. "Ah, ya.. saya baik-baik saja. Mari pergi, Tuan muda."
Do-Hyun mengangguk, ia mengikuti pria itu dengan memegang tangannya. Saat tiba di mobil, pria itu membukakan pintu penumpang bagian belakang, lalu membantu Do-Hyun mengenakan sabuk pengaman untuk anak-anak sebelum akhirnya ia pergi ke belakang kemudi dan mereka meleset pergi dari halaman rumah sakit.
__ADS_1
Tampak Tuan Park yang senang saat mengobrol dengan para generasi muda itu.
"Hahahaha... Aku benar-benar terhibur dengan kalian, sayang sekali tidak bisa melihat cucuku disini." Tuan Park tertawa, namun diakhir ucapannya terdengar sedikit sedih.
"Appa... jangan khawatir, itulah kenapa aku bilang kau harus cepat sembuh. Kau bisa bermain dengan Do-Hyun sepuasnya setelah kau sembuh." sambung Min-Hyuk menghibur ayahnya
"Hahaha.... Kau benar, maka aku harus cepat sembuh. huhhh...aku benar-benar merasa sangat bosan jika hanya melihatmu.. Kau dan Eun-Kyun sudah besar dan lagi menyenangkan seperti saat masih kecil, mengapa kalian tumbu begitu cepat, ah?" keluh Tuan Park
"Memangnya Appa mau aku terus berada di tubuh anak kecil? ..Aku tak mau!" Min-Hyuk berulah seakan dia marah
"Hahaha... Eun-Kyun, lihat betapa menggemaskan nya adikmu ini.. Dia benar-benar tak berubah meskipun dia sudah besar dan hampir dewasa.."
Jun-Hee juga ikut tertawa kecil, interaksi antara ayah dan anak ini terlihat cukup menyenangkan. Mungkinkah dia juga akan merasakan hal yang sama dimasa depan? .. Entahlah, namun ia berharap memang seperti itu.
Tangannya masuk kedalam saku jasnya, ia kemudian melihat siapa di penelpon. "Ayah mertua, aku keluar sebentar. Aku harus menjawab panggilan ini dulu," dari nadanya saja semua orang tahu jika hal ini penting, mungkinkah mengenai pekerjaan?
"Silahkan... Jawab dulu, itu pasti soal pekerjaan mu.. Pergilah," balas Tuan Park.
Setelah kepergian Jun-Hee, kegembiraan mereka tak berlangsung lama dan meredup saat dua orang wanita tiba-tiba masuk kedalam kamar inap
"Mengapa memindahkan Ayahmu tak memberitahu kami? ...Apa kau tahu, kami mencari kamar Ayah dengan susah?" omel Ju-Kyun, suaranya sangat keras sehingga membuat semua orang menatapnya.
"Yah, benar... Setidaknya telpon kami, apa kau tahu jika kami khawatir?" sambung si Ibu tiri, mereka bersikap angkuh.
Eun-Kyun memutar matanya dengan malas, "Bisa kalian diam? .. Pasien lain masih ingin beristirahat dengan tenang," tegur Eun-Kyun.
Kamar inap Ayahnya berada di kelas dua, bukan berada di ruang VIP, dimana hanya terdapat bangsal tunggal untuk satu orang. Ini adalah kamar dengan tiga orang
Ju-Kyun akhirnya menoleh dan mendapati keluarga pasien yang lain sedang melototi nya karena masuk dan langsung berteriak pada orang-orang didalam ruangan ini.
"Maafkan aku," Ju-Kyun juga tahu malu sehingga ia dengan cepat meminta maaf lalu menyeret ibunya ke bangsal dimana Min-Hyuk dan Eun-Kyun berada.
Nyonya Park (ibu tiri) menghampiri Min-Hyuk dari pada Eun-Kyun, wanita itu sedikit takut dengan anak tirinya ini. "bagaimana kondisi Ayahmu?"
__ADS_1
Min-Hyuk tak bisa berbuat apapun, "Ayah baik-baik saja sekarang," balasnya acuh. Eun-Kyun juga tersenyum dibalik maskernya
"Baguslah," balas Nyonya Park. Namun dalam hatinya, ia benar-benar sangat kesal. Dia tahu betul kondisi pria bodoh ini
"Aku ingin bicara dengan Ayah kalian, bisa berikan kami waktu sebentar?" kali ini, suaranya menjadi lembut saat bicara pada keduanya.
Eun-Kyun mengerutkan keningnya, entah kenapa perasaannya menjadi tidak enak. Namun Tuan Park mengatakan tak apa-apa, ia pikir istrinya ingin bicara soal biaya rumah sakit lagi dengannya sehingga ia merasa tak enak hati dengan Eun-Kyun. Pria paruh baya itu meminta dua anaknya memberikan mereka waktu sebentar untuk bicara
Eun-Kyun menarik Min-Hyuk untuk mundur, namun mereka tak keluar dari kamar itu. Perasaan nya tidak enak, sehingga keduanya memperhatikan dari jarak yang sedikit jauh.
Min-Hyuk juga merasakan hal yang sama sehingga matanya terus tertuju pada ibu dan kakak perempuannya yang lain.
Terlihat Nyonya Park yang berbisik sesuatu pada ayah mereka, wajah pria itu terlihat terkejut lalu menatap istrinya dengan marah. Namun, tak beberapa lama kemudian pria itu memegang dada kirinya
Merasa tak beres, Min-Hyuk dan Eun-Kyun segera pergi kesana.
Tuan Park terkejut, dengan jantungnya yang lemah, tentu saja penyakitnya dengan cepat bereaksi lagi.
Eun-Kyun dengan kasar mendorong ibu tirinya saat monitor menunjukkan detak jantung ayahnya tak normal, tomboi disamping bangsal dengan cepat ditekan berulang kali untuk memanggil petugas medis.
"Apa yang kau katakan pada ayahku!" Eun-Kyun bahkan tak ragu lagi mencekam kerah baju wanita itu, yang juga berpura-pura panik
"Aku tak mengatakan apapun... Penyakit ayahmu.. cepat lihat dia dokter!" wanita itu dengan cepat bereaksi saat Dokter dan perawat datang
.
.
.
.
.
__ADS_1