
"Omo.. Kita tak memiliki roti dan susu, bagaimana ini?" gumam Eun-Kyun, kulkasnya benar-benar tak ada roti dan susu untuk sarapan, Ia juga lupa membeli sereal kemarin saat berbelanja.
"Hyun-ah" panggil Eun-Kyun.
Do-Hyun yang sudah bangun sejak beberapa menit yang lalu menatap ibunya dari jarak yang sedikit jauh. Ia sedang duduk di meja makan menanti sarapan untuk pagi ini
"Ne?" balasnya.
"Kita lupa membeli roti, susu, sereal dan jus kemarin. Kita tak memilikinya, mau menu sarapan yang lain?" tawar Eun-Kyun.
Do-Hyun mengangguk, "He'em....
Kita bisa membelinya nanti."
"Oh, kau benar." Eun-Kyun.
"Lalu, mau sarapan apa?"
Otak kecilnya berfikir sejenak, "telur orak-arik, dan nasi?"
"Baiklah, tunggu sebentar. Eomma buatkan untukmu."
Tangannya masuk kedalam kulkas, mengeluarkan satu kotak telur, lalu mengambil 3 cup beras. Dengan cekatan, ibu muda ini telah mencuci beras, lalu memasukkannya kedalam Rice cooker setelah mengukur air yang pas.
Karena tak mungkin hanya ada nasi dan telur saja, Eun-Kyun mengambil kentang, wortel, rumput laut dan daging babi yang sudah ia beli kemarin.
Mengambil pisau dan mulai memotong daging babi dengan ukuran lebih kecil, mencucinya dan mulai memasak, tak lupa wortel dan kentang yang dibersihkan dipotong dadu.
Pagi ini, akan ada sup daging babi, telur orak-arik dan nasi untuk sarapan keduanya.
30 menit berlalu, dan semuanya telah siap. Ibu dan anak itu mulai menghabiskan sarapan nya, masih ada sup yang tersisa dan tinggal dipanaskan untuk makan siang saja.
"Hyun-ah, kita akan ke rumah sakit sebentar. Eomma harus cek-up hari ini, jadi selesai makan kau bisa langsung mandi, yah." Eun-Kyun.
'Rumah sakit? Apa penyakit Eomma kambuh lagi?' Ia kembali mengingat jika semalam sepertinya penyakit ibunya memang kembali kambuh, apa sekarang juga? Itu pasti sangat menyakitkan,
"Ne, Eomma."
Setelah menghabiskan air hangat yang berada dalam gelas nya, Do-Hyun berjalan kearah kamar mandi dengan sendirinya.
Meski usianya masih kecil, namun dirinya sudah mulai mandiri, bocah cilik ini membawa beberapa mainan nya kedalam air.
Karena dipagi hari yang sedikit dingin, Eun-Kyun mengukur suhu air dengan tangannya lalu membiarkan Do-Hyun bermain air sendirian didalam sana sementara dirinya membereskan piring dan gelas yang mereka gunakan barusan.
Karena piring kotornya tak banyak, pekerjaan ini selesai dalam beberapa menit saja. Eun-Kyun kembali membantu anaknya mandi, setelah itu mengenakan pakaian pada bocah cilik ini.
Eun-Kyun membiarkan anaknya melakukan hal yang disukainya, sementara dia pergi dan membersihkan tubuhnya sendiri.
Mereka pergi setelah 40 menit kemudian, memesan taksi dan pergi ke rumah sakit.
.............
Eun-Kyun melakukan pemeriksaan awal setelah itu dokter membawanya ke ruangan Radiologi USG (ultrasonografi)
dan untuk pemeriksaan lebih lanjut.
__ADS_1
^^^[**USG (ultrasonografi): Kelainan pada jantung dan pembuluh darah seperti Penyakit jantung, gagal jantung, gangguan otot jantung, penyakit katup jantung.**]^^^
Sementara Do-Hyun dititipkan keruangan anak. Disana ada beberapa perawat yang merawat pasien (anak-anak) yang memiliki penyakit ringan (demam dan lainnya) maupun berat (tumor, kangker, Dll).
Dokter membawanya kembali keruang kerjanya agar menjelaskan lebih lanjut (konsultasi) dengan pasiennya.
"Anda tentu tahu jika Jantung adalah otot yang terbagi menjadi empat ruang. Dua ruang terletak di bagian atas, yaitu atrium (serambi) kanan dan kiri. Sementara dua ruang lagi terletak di bagian bawah, yaitu ventrikel (bilik) kanan dan kiri. Di antara ruang kanan dan kiri tersebut, ada dinding otot (septum) yang mencegah darah kaya oksigen bercampur dengan darah miskin oksigen.
Sementara yang kami temukan, anda adalah seorang penderita-"
"Jantung koroner, aku tahu" potong Eun-Kyun.
"Anda pernah melakukan pemeriksaan sebelumnya?" tanya Dokter.
Eun-Kyun mengangguk, "Ne."
"Bisakah saya minta surat pemeriksaan anda sebelumnya?" tanya Dokter.
"Maaf, Dok. Saya tak membawanya, anda juga tak akan mengerti tulisannya karena saya melakukan pemeriksaan ketika sedang bekerja di Indonesia, jadi tentunya menggunakan bahasa Indonesia juga," ujar Eun-Kyun menjelaskan.
"Tak apa, Nyonya. Kami bisa mentranslate nya kedalam Hangul, anda tak perlu khawatir," ucap dokter. Tentunya dia juga harus melihat riwayat pemeriksaan dari pasiennya.
"Baik, Dok. Saya akan membawanya lagi di masa depan," balas Eun-Kyun.
"Boleh saya lanjutkan, Nyonya?" tanya Dokter karena ucapannya tadi dipotong oleh wanita yang berada dihadapannya ini.
"Ah, maaf.. Silahkan, Dok." balas Eun-Kyun
Dokter memakluminya, "Yang anda derita adalah Angina Pectoris.
"Jadi, apa yang harus saya lakukan, Dok?"
"Anda cukup dengan istirahat yang cukup, jangan kelelahan dan memiliki pola hidup sehat. Saya juga akan memberikan anda resep obat, agar anda bisa mengonsumsinya lebih lanjut.
Dan lagi, alangkah baiknya jika anda melakukan terapi konservatif. Saya akan mengambil tindakan jika kesehatan anda semakin memburuk, kita mungkin...." Dokter kembali menjelaskan beberapa hal lagi tentang penyakitnya.
Setelah beberapa menit kemudian, Eun-Kyun keluar dari sana, kemudian pergi ke apotik dan mengambil obat.
Ketika ia selesai menyerahkan resep obat, Eun-Kyun menunggu sebentar dibangku yang sudah disiapkan.
Terlihat seorang pria yang sedang menemani seorang wanita, yang sepertinya merupakan pasangan muda. Mereka juga pergi ke apotik, suaminya menyerahkan resep dokter sedangkan istrinya duduk sebentar di bangku yang berada di belakang Eun-Kyun.
Takut membuat anaknya menunggu terlalu lama, Eun-Kyun mengirimkan pesan suara pada anaknya itu.
"Hyun-ah, tunggu Eomma yah. Sebentar lagi, hanya perlu mengambil obat saja"
"Baik, Eomma. Aku menunggu disini," balas Do-Hyun dengan pesan suara juga.
Eun-Kyun sedikit tenang, dan kembali berkirim pesan dengan anaknya itu.
Karena menunduk, Eun-Kyun tak melihat orang-orang disekitarnya, namun masih mendengar ucapan beberapa orang disana.
"Sabarlah sayang, kau tak bersalah. Kita bisa memiliki bayi lagi." ucap sang suami yang datang setelah Eun-Kyun.
"Tapi.... Aku tak ingin kehilangan bayi lagi.. semoga aku bisa cepat hamil setelah mengonsumsi obat-obatan ini," balas sang istri. Sepertinya ia mengalami keguguran beberapa waktu lalu.
__ADS_1
"Yah, yah.. Aku tak memaksamu... Kita juga masih muda, memiliki anak diusia 30-an juga tak masalah. Aku menantikan bayi darimu," ucap suaminya menenangkan.
Eun-Kyun yang mendengar percakapan mereka hanya tersenyum miris. Beberapa pasang mungkin sangat tak sabar ingin memiliki anak seperti mereka, ada juga yang tak bisa memiliki anak dengan pasangannya.
Lalu bagaimana dengannya?
Diusianya sekarang, dia memiliki anak tanpa suami. Ini bahkan lebih baik karena tak ada yang melarangnya melakukan sesuatu atau beberapa hal yang tak disukai nya.
Eun-Kyun masih sibuk dengan pikirannya namun disadarkan dengan apoteker yang memanggil namanya.
"Nyonya Park Eun-Kyun.. Nyonya Park Eun-Kyun.." panggilnya.
"Ne," balas Eun-Kyun, ia segera melangkah dari tempatnya. Mendekat lalu mengambil obat, apoteker juga masih menjelaskan tentang pemakaian obat.
"Gamsahabnida." ucap Eun-Kyun lalu melangkah menjauh, ia juga meletakkan obat kedalam tas yang dibawanya.
Tanpa diketahui, pria yang menemani istrinya sedang menegang ditempatnya. Matanya terus terpaku pada Eun-Kyun yang menjauh.
"Sayang, aku ke toilet sebentar yah." ucapnya pada istrinya.
Wanita itu mengangguk, ia membiarkan suaminya pergi. Matanya ingin menyelusuri kemana suaminya pergi, namun namanya telah dipanggil. Ia segera mengambil obat-obatan dan mendengarkan apoteker menjelaskan hal yang seperti sebelumnya.
Sementara Eun-Kyun pergi ke ruangan anak, itu adalah ruangan dengan beberapa permainan kecil.
Didalamnya terdapat 4 anak yang sedang bermain ditemani oleh perawat yang mengenakan pakaian APD, salah satunya adalah Do-Hyun.
"Hyun-ah," panggil Eun-Kyun.
Do-Hyun yang sedang bermain rubik segera mendongak, menatap ibunya yang sudah selesai.
Tanpa menjawab, ia segera mendekati ibunya, ada seorang perawat yang juga mengikuti Do-Hyun, ia yang menemani Do-Hyun tadi.
"Anda sudah selesai?" tanya perawat tersebut.
"Ya, sudah.. Terima kasih telah menjaga anak saya, maaf telah merepotkan Anda." ucap Eun-Kyun
"Tak apa, saya hanya menemaninya bermain. Putra anda anak yang sangat pintar, dia bahkan tak menangis atau nakal." pujinya pada Do-Hyun. Untunglah mereka tak boleh berkontak langsung dengan anak-anak, jika tidak pipi Do-Hyun pasti telah memerah.
"Baiklah, kalau begitu kami akan pergi.
Ayo Do-Hyun, katakan terima kasih pada nona perawat," ucap Eun-Kyun.
Do-Hyun mengerti, ia membungkuk sebentar. "Gamsahabnida, kakak cantik." puji Do-Hyun.
Wajah perawat itu memerah dibalik maskernya, ia tersipu karena Do-Hyun memujinya.
"Wah... mulutmu manis sekali, terima kasih yah " balas nya dengan santai.
Do-Hyun dan Eun-Kyun segera meninggalkan ruangan itu.
Eun-Kyun menghentikan langkahnya sebentar, ia menoleh kebelakang namun tak menemukan siapapun.
'Siapa yang mengikuti ku sejak tadi?' batinnya.
Tak mempedulikan penguntit itu, Ia segera meninggalkan rumah sakit dengan Taksi yang akan lewat. Barulah, disana penguntit tadi tak melakukan apapun lagi.
__ADS_1