
"Apa yang kau lakukan disini?" tanya Eun-Kyun saat melihat Woon-Hoo muncul di rumahnya.
"Ehh?" Min-Hyuk sedikit terkejut dengan nada kakak perempuannya yang sepertinya tidak bersahabat.
"Aku tidak datang membuat keributan, aku datang untuk berbelasungkawa. Aku ikut berduka dengan kepergian Ayahmu," balas Woon-Hoo
Mendengar hal ini, Eun-Kyun menurunkan kewaspadaannya. Bukankah dia ingin membalas dendam pada pria ini?
Jadi pertama-tama, mari menjalin hubungan yang lebih baik sebelum akhirnya membalas apa yang dia inginkan.
Eun-Kyun mengangguk, "Duduklah."
Mendengar hal ini, Woon-Hoo sedikit merasa senang dalam hatinya. Dia duduk di sofa dengan tenang.
"Dari mana kau tahu ayahku meninggal?" tanya Eun-Kyun menyelidik
Woon-Hoo menoleh, "Seseorang mengabarkan padaku. Aku benar-benar ikut berduka dengan kepergian Ayahmu, aku akan mendoakan semoga ia tenang di dunianya yang baru." ucapnya dengan meyakinkan
"Noona," panggil Min-Hyuk.
"Oh, ini adikmu yang sering kau katakan dulu?" Woon-Hoo juga menoleh pada remaja yang berdiri tak jauh dari sana.
"Aku akan masuk kedalam kamar, jika terjadi sesuatu, berteriak dengan suara kencang. Aku akan datang setelah itu," Min-Hyuk menatap menyelidiki pada pria yang datang. Orang asing ini, dia mengenalinya?
Tatapan Min-Hyuk seperti tatapan permusuhan, dia langsung tak menyukai pria ini saat pertama kali bertemu. Aura nya terlihat, aneh dan membuatnya tak nyaman
Remaja itu memasuki kamar, namun tak menutup pintu dan membiarkan pintu terbuka lebar.
Remaja itu duduk di meja belajar, mengambil buku dan berpura-pura membaca sesuatu disana, namun sebenarnya matanya tertuju pada cermin kecil yang diletakkan dibatas meja. Min-Hyuk menata cermin itu disudut yang pas sehingga dia bisa melihat apa yang terjadi di luar sana lewat pantulan di cermin.
Woon-Hoo merasa aneh saat melihat Min-Hyuk tak menutup pintu, punggung remaja itu terlihat dari ruang tamu.
"Adikmu terlihat aneh," ucap Woon-Hoo pada Eun-Kyun
Eun-Kyun mengangkat bahunya tak peduli. Wanita itu pergi membuatkan teh untuk Woon-Hoo
Dari ruang tamu, tentu saja Woon-Hoo bisa melihat jika Eun-Kyun menyeduhkan teh untuknya dalam teko.
__ADS_1
Tiba-tiba, terdengar suara tombol password yang ditekan oleh seseorang dari luar, lalu pintu yang terbuka
"Eomma, kami pulang." suara Do-Hyun terdengar bahkan dari pintu.
"Oh, kalian sudah sampai? Cepat sekali." Eun-Kyun mendongak dan melihat kearah dimana Do-Hyun berlari masuk.
Namun, anak itu menghentikan langkahnya diruang tamu saat melihat ada orang lain disana.
Anak ktu tak mengatakan apapun, dia langsung memasuki kamarnya dan menutup pintu.
Jun-Hee juga menyusul Do-Hyun, melihat anak itu yang tiba-tiba terdiam membuat Jun-Hee juga mengikuti pandangan nya. "Oh, ada tamu?" ucapnya sambil melepaskan masker dan membuangnya ke tempat sampah.
Namun, saat matanya melihat dengan jelas siapa itu, gerakannya terhenti selama tiga detik. Kemudian bertingkah seolah-olah tak mengenalinya
"Sayang, ini titipan kamu," Jun-Hee mendekati Eun-Kyun didapur dan menyimpan belanjaannya diatas meja.
"Sedang apa dia disini?" bisik Jun-Hee, dia takut Eun-Kyun akan kembali terpesona pada pria itu.
"Aku tak tahu, dia tiba-tiba datang dan mengatakan ikut berdukacita." balas Eun-Kyun dengan melirik Woon-Hoo yang sedang menatap mereka dari jauh.
"Dia tak mengatakan apapun..., Aku ingin mengatakan sesuatu setelah dia kembali." ucap Eun-Kyun
Kening Jun-Hee sedikit mengerut, ia kemudian mencuci tangannya sebelum pergi ke ruang tamu dan duduk di sofa.
"Oh, ternyata memang benar, itu Anda Tuan Jeon." ucap Woon-Hoo
"Ah, aku pikir siapa. Ternyata Tuan Shin." balas Jun-Hee dengan dingin.
Woon-Hoo bisa merasakan jika pria didepannya ini memiliki ketidaksukaan padanya. "Apa yang Tuan Jeon lakukan disini?" tanya Woon-Hoo
Jun-Hee mengangkat bahunya, "hanya menemani putraku bermain. Bagaimanapun, Eun-Kyun baru saja kehilangan ayahnya kemarin dan pasti sangat sulit mengurus Do-Hyun sendirian. Jadi, aku datang untuk mengurus keluarga," ucap Jun-Hee acuh
"Putra? ..Anak yang tadi itu, putra dari Anda?" Tanya Woon-Hoo tak percaya.
Meskipun hanya sekilas saja, namun Woon-Hoo melihat wajah Do-Hyun. Anak itu tak memiliki fitur wajah mirip Jun-Hee sedikitpun.
Dan lagi, saat melihat Do-Hyun tadi. Entah kenapa, dia langsung tertarik pada anak itu, rasanya seperti dia memiliki hubungan batin dengan bocah itu.
__ADS_1
Eun-Kyun menyimpan nampan diatas meja, ia kemudian menuangkan teh untuk Woon-Hoo dan Jun-Hee. "Minumlah," ucapnya membersihkan
"Ah, terima kasih." balas Woon-Hoo
Pria itu mengambil cangkir teh, meneguk teh sebentar lalu melihat kearah Eun-Kyun.
"Bisa kau kenalkan mereka padaku?" tanya Woon-Hoo sambil melihat kearah pintu kamar Do-Hyun.
"Untuk apa Anda ingin mengenali kedua bocah itu, Tuan Shin?" tanya Jun-Hee dingin.
Woon-Hoo menatap heran pada Jun-Hee, "Aku hanya ingin mengenali mereka saja. Mungkin, aku bisa membelikan mereka sesuatu yang mereka sukai diwaktu lain saat aku mampir?" pria itu memperlihatkan raut wajah Jun-Hee dan Eun-Kyun yang tiba-tiba saja langsung berubah.
"Woon-Hoo, bisa kau pergi sekarang? ..Ada yang ingin ku bicarakan dengan Jun-Hee," ucap Eun-Kyun dengan suara dingin.
Dia tak akan membiarkan pria ini mengenali Do-Hyun lebih dekat, tak akan pernah!.. itulah pikiran yang terlintas di benak keduanya
"Oh, kalian memiliki hubungan?" suara Woon-Hoo yang tadinya ramah, sekarang sudah terdapat nada tidak suka.
"Yah, dia tunangan saya." balas Jun-Hee cepat
"Tunangan?" mata Woon-Hoo tertuju pada Eun-Kyun dengan tidak percaya. "Jadi, anak didalam itu anak kalian berdua?" Woon-Hoo bertanya sambil mengatupkan giginya.
"Tentu, Do-Hyun adalah putraku dengan Eun-Kyun." balas Jun-Hee, matanya menatap tajam pada Woon-Hoo.
"Oh, begitu." Woon-Hoo mengangguk, "kalau begitu. Seperti aku harus permisi, ada hal yang harus ku kerjakan." pria itu berdiri dari duduknya, mengambil ponselnya lalu berjalan keluar dengan kesal.
"Aku permisi," pamitnya saat meninggalkan apartemen tersebut.
"Argggh!" teriak Eun-Kyun kesal. "Dasar b4jingan! Apa maunya?!" wanita itu menghirup udara dengan cepat
Jun-Hee juga kesal, namun ia masih menahan dirinya. Ada dua anak dalam kamar yang mungkin bisa mendengar mereka, tahan.. tahan.
Meskipun Jun-Hee menahan emosinya sejak melihat Woon-Hoo, tangannya terus mengepal seakan ingin menghajar pria itu sampai puas. Jun-Hee mengatur emosinya dan lebih memilih untuk menenangkan Eun-Kyun yang marah
Pasti sangat sulit bagi Eun-Kyun, melihat pria itu lagi setelah lima tahun.
"Do-Hyun tak boleh mengenalinya. Aku tak akan membiarkan dia mengenali Do-Hyun sampai kapanpun!" ucap Eun-Kyun penuh amarah
__ADS_1