
"Pasien memiliki ginjal yang lemah, dan baru-baru ini jantungnya juga menjadi lemah. Jadi, pasien perlu ekstra hati-hati dengan apa yang dimakan. Makanan yang aman bagi kebanyakan orang, akan menjadi racun bagi pasien. Misalnya kacang-kacangan dengan sedikit mentega almond bisa membuat jantungnya tegangan, jadi yang terbaik adalah pasien menghindarinya. Jika pasien mengalami kejutan besar sekali lagi, maka pasien mungkin tidak akan selamat.. Nyonya, harap berikan obat dan makanan yang teratur pada pasien, ini resepnya bisa diambil di apotik -" ucapan dokter saat mereka berada di lorong rumah sakit, saat bicara berdua dengannya masih terngiang-ngiang di ingatannya.
Namun, Nyonya Park tidak merasa bersalah saat melihat potret almarhum suaminya saat ini. Dia malah merasa lega dihatinya setelah pria yang dia bodohi ini akhirnya pergi untuk selamanya.
Matanya teralihkan pada dua bersaudara yang saling menguatkan. Akan lebih mudah saat berurusan dengan anak laki-laki ini dari pada sang kakak, anak tirinya. Bagaimanapun, dia harus mengakui ia sedikit takut pada anak tirinya itu.
Sebelumnya, meskipun dokter mengatakan padanya secara pribadi untuk memperhatikan makanan suaminya, semalam karena keduanya bertengkar hebat, ia memberikan mentega almond pada saus kacang yang dibuatnya untuk mereka makan.
Memang benar, itu baik-baik untuk mereka bertiga, namun tidak dengan pria bodoh yang menjadi suaminya ini. Pria itu pingsan setelah makan malam dan harus dilarikan ke rumah sakit. Namun, dia lolos saat itu
Suaminya ternyata masih diberi kesempatan untuk bertemu dengan putrinya, namun dia, Nyonya Park tidak senang dengan semua ini. Suaminya memiliki asuransi yang sangat besar, dia ingin mendapatkan semua uang itu, akan sangat berguna baginya dan putri kesayangannya, Ju-Kyun.
Putra yang ia lahirkan ini, sebenarnya dia menganggap Min-Hyuk sebagai kesialan. Dia terjebak tahun itu dengan Tuan Park, dia sudah hamil lagi setelah mereka menghabiskan waktu satu malam. Namun karena pria itu memiliki uang yang cukup untuk membuatnya senang, tentu saja dia tak menyia-nyiakan nya dan merebut kebahagiaan wanita lain. Ia berhasil merebut suaminya ini dengan alasan hamil saat itu, ia merasa cukup bahagia saat itu setelah melahirkan Min-Hyuk.
Namun, perusahaan malah bangkrut? Tentu saja dia, yang suka boros terhadap uang sangat mementingkan uang dari pada suami dan putranya. Lebih baik memilih anak perempuan untuk dibesarkan dari pada anak laki-laki
Melihat suami yang sudah pergi ini.. Hatinya cukup puas!
Yah, hanya dia yang tahu apa yang dikatakan dan berhasil memicu penyakit itu hingga akhirnya Tuan Park-lewat.
.............
Saat ini, situasi kematian berada dimana-mana. Dengan larangan yang beredar di masyarakat, mereka dilarang untuk berkumpul disuatu tempat. Namun karena kematian kali ini almarhum tidak bersangkutan dengan Corona, mereka diijinkan untuk berkumpul namun dengan terbatas.
Pada pukul 12 siang, jenasah Tuan Park akhirnya dibawa masuk ke ruang dimana proses kremasi akan dilakukan.
Seluruh keluarga berdiri didepan pintu, melihat para petugas yang memasukan peti kedalam oven kremasi.
__ADS_1
Nyonya Park tetap dengan kepura-puraan nya, menangis histeris saat melihat tubuh suaminya yang perlahan dimasukan kedalam even kremasi.
Ini mengundang iba beberapa kerabat dan teman dekat yang hadir. Ju-Kyun tetap berada disamping ibunya, memeluk dan mendukung wanita itu agar tetap tegar
Min-Hyuk, tatapan kosong saat melihat peti perlahan memasuki oven kremasi yang kemudian benda itu tertutup dan mulai proses pembakarannya. Air mata kesedihan menetes dari matanya, dia menyembunyikan wajahnya di pelukan sang kakak perempuan, Eun-Kyun dan menangis disana.
Mereka diberikan ruang tunggu, dimana tempat untuk menunggu abu jenazah Tuan Park. Saat ini, Jun-Hee tetap berada di sisi tunangannya sambil memegang tangan kecil Do-Hyun.
Sepasang ibu dan anak yang sejak tadi berpelukan, kini menenangkan diri disana. Para teman dan kerabat telah pergi, mereka harus kembali ke tempat tinggal mereka sesegera mungkin. Menyisahkan keluarga yang sedang berduka
Selama waktu itu, mereka tak memperhatikan Jun-Hee yang selalu berada di samping Eun-Kyun, sekarang barulah mereka melihat wajah pria itu.
Namun, Jun-Hee yang sepertinya melihat rencana mereka segera mengalihkan pandangannya pada Do-Hyun
"Apa kau lapar, hmm?" tanya Jun-Hee
"Tentu, ayo ikuti Papa. Kita belikan untuk semua orang, ayo." ajak Jun-Hee. Ia berbalik pada Eun-Kyun yang masih menenangkan Min-Hyuk
"Sayang, aku akan keluar dan membelikan makanan untuk semua orang. Kini sudah waktunya makan, kalian harus makan juga. Oke?" ucapnya dengan suara halus
Eun-Kyun menoleh, "baiklah. Belikan permen dan cokelat juga, ini dapat menghibur Min-Hyuk." balas Eun-Kyun
Jun-Hee mengangguk, kemudian membawa Do-Hyun pergi dari sana. Dari yang dia tahu, keluarga itu pasti ingin membicarakan sesuatu tanpa diketahui oleh orang lain.
Yah, meskipun dia bukan orang lain bagi Eun-Kyun dan Do-Hyun, namun dia masih orang asing bagi Min-Hyuk dan yang lainnya.
"Tuan, apa Anda membutuhkan sesuatu?" tanya sang asisten saat melihat Jun-Hee yang meninggalkan ruang tunggu.
__ADS_1
"Tidak usah, kami akan pergi membelikan makanan untuk semua orang disana. Ayo setir mobilnya untuk kami berdua," ucap Jun-Hee.
"Baik, Tuan." balas pria itu mengikuti Jun-Hee dan Do-Hyun dari belakang.
............
Di sisi lain, Ju-Kyun tadi memperhatikan Jun-Hee. Dia pikir, pria ini terlihat familiar. Apakah itu seorang teman dari kelas saat ia masih sekolah dulu?
Atau seseorang yang tak sengaja ia lihat disuatu tempat? . Entahlah, namun wajahnya terlihat cukup familiar.
"Ayahmu sudah tak ada lagi, mulai besok, sebaiknya kau tak pernah mengganggu kami lagi." tiba-tiba nyonya Park bersuara
Eun-Kyun mengerutkan keningnya, "Aku masih memiliki Min-Hyuk sebagai adikku. Namun tenang saja, aku tak akan mengganggu kalian berdua," balasnya
"Oh, anak sialan ini? ..Bawa saja dia. Kami tak membutuhkan seseorang yang hanya tau merepotkan saja," sambung Ju-Kyun. Dia dan ibunya sudah membicarakan tentang hal ini.
Mereka tak mau membagi uang asuransi itu pada kedua bersaudara ini, dia juga tak menyukai adik laki-laki yang menyebalkan dan merepotkan ini dalam hidupnya.
Ia melihat sendiri bagaimana ibunya dulu sangat membenci ketika dia tahu dia sedang mengandung anak dari seorang pria lain, yah meskipun ayah tirinya cukup kaya dengan perusahaan itu.
Namun, ayah tiri ini sangat mementingkan anak-anaknya saja. Dia benci pada Min-Hyuk dan Eun-Kyun yang mendapatkan semua perhatian.
"Ketika kita keluar dari sini, sebaiknya kau pergi dengan kakakmu yang tersayang itu. Jika tidak, aku mungkin akan membunuhmu di rumah nanti, adik tersayang." ucap Ju-Kyun dengan kejam
Min-Hyuk menatap keduanya dengan dingin, dia tahu mereka berdua tak pernah menyukainya namun dia tak menyangka jika wanita yang melahirkan nya ini bahkan sangat kejam pada darah dagingnya sendiri.
"Aku juga tak ingin mengenali kalian sebagai keluarga ku, dasar pembunuh!"
__ADS_1