
Beberapa hari ini, kehidupan ibu tunggal ini terasa damai. Dia sedang menjalani kehidupan yang damai dan monoton
Kehidupan seperti ini, meskipun membosankan namun tenang sehingga ia menyukainya.
Eun-Kyun menatap keluar jendela, melihat pemandangan yang biasa-biasa saja. Ia kembali merenungkan kehidupannya sebelum ini, hari-hari yang mengerikan dalam 'Organisasi Rahasia' yang harus ia lalui saat masih kecil hingga dewasa.
"Hufftt.. Hari ini juga tenang," gumam Eun-Kyun
Do-Hyun yang baru menyelesaikan permainannya di iPad menoleh kearah tumpukan kardus yang berada di sisi ruangan yang lain.
"Eomma," panggil Do-Hyun
Panggilan Do-Hyun membuyarkan lamunannya, menoleh pada anak yang sedang menatapnya sambil memegang iPad "Hmm?"
"Besok akan natal, kita tak memasang pohon natal?" ucapnya mengingatkan.
"Ehh... yah, kau benar... Ayo kita memasangnya," Eun-Kyun beranjak dari duduknya, ia pergi ke sisi ruangan lalu mengambil kardus-kardus berisi pohon natal buatan (imitasi)
Do-Hyun meletakkan iPad nya dan mengikuti Eun-Kyun. Mereka membuka kardus, terlihat pohon natal yang bisa dirancang sendiri. Itu telah dibagi menjadi beberapa bagian agar bisa disimpan kedalam kardus
Keduanya kembali bersenang-senang, mengatur dari sisi pohon yang paling besar sampai yang terkecil di puncaknya.
Eun-Kyun mengambil hiasan pohon natal, dia bersama Do-Hyun mulai menggantung nya, tak lupa memasang lampu hias yang berkelap-kelip dengan berbagai warna.
Meskipun telah membelinya dari dua Minggu lalu, namun hari itu merupakan hari dimana penyakitnya kambuh sehingga harus dilarikan ke rumah sakit. Setelah keluar dari sana, dia melupakan untuk memasang pohon natal yang sudah mereka beli, untunglah Do-Hyun mengingatnya jika tidak mereka mungkin tak akan memasang pohon natal dalam rumah.
Malam hari tiba, mama Inna sedang melakukan panggilan video dengan Do-Hyun, mengatakan rindunya pada keduanya.
Hari ini, kembali berlalu dengan tenang tanpa gangguan dari siapapun.
Tidak sampai esok harinya, Jun-Hee muncul di rumah pada pagi-pagi sekali, bahkan saat keduanya belum bangun tidur.
"Jadi, apa yang kau lakukan pagi-pagi begini disini?" tanya Eun-Kyun menyelidik
"Ehh, jadi aku tak diharapkan ada disini?" balas Jun-Hee seakan merasa sangat sakit dihatinya, Eun-Kyun memutar mata melihat akting pria ini.
__ADS_1
"Eomma, bukankah tidak baik mengusir Papa? ..Dia pasti merindukan kita, itulah kenapa dia datang pagi-pagi sekali." ucap Do-Hyun
Eun-Kyun merasa dikhianati, sedangkan Jun-Hee merasa sangat senang karena di bela oleh anak yang manis dan pintar ini.
"Ouhhh... Do-Hyun memang paling terbaik." puji Jun-Hee sambil mengecup pipi anak itu dengan gemas, terlebih saat ini dia sedang menemani Do-Hyun bermain rubik
"Oooo... kenapa kau membelanya? ..Aku ibumu, mengapa aku yang dikhianati olehmu?" protes Eun-Kyun tak terima
"Ehh?" Do-Hyun menatap Eun-Kyun dengan bingung, lalu mengarahkan pandangan pada Jun-Hee. "Bukankah Paman Jun-Hee akan menjadi Papa ku dimasa depan?" ucapnya dengan polos sambil menatap kearah Jun-Hee dengan bertanya
Mata Eun-Kyun membesar, "kau- apa yang kau bicarakan?" tentu saja dia terkejut, mengapa dia malah berkata seperti itu?
Jun-Hee malah mengangguk. "Hmm.. Kau benar, aku akan menjadi ayahmu dimasa depan," ohh.. apakah dia sudah mendapatkan persetujuan dari anak ini? ..Kalau begitu, bukankah dia bisa mendapatkan Eun-Kyun dalam waktu dekat? Hehehee..
"Kau- Do-Hyun, apa Papa Nathan tidak cukup untukmu?" Eun-Kyun
"Papa Nathan? ..Tentu saja tidak, dia itu Ayah baptisku, Papa Nathan juga sudah memiliki wanita yang dia suka, dia perawat di rumah sakit. Jika tidak salah, itu asisten dokter..Aku tak mengerti." ucap Do-Hyun, lalu dia menoleh pada Jun-Hee, "apa Paman Jun-Hee tak akan menjadi Papaku, Eomma?"
"Ehh... apa kau kau bicarakan, hentikan pembicaraan ini!" Eun-Kyun tanpa sadar malu sehingga telinganya merah, beruntung itu tertutup oleh rambut yang ia biarkan tergerai begitu saja.
"Hahahaha.." Jun-Hee tertawa senang saat Eun-Kyun tak bisa menjawab pertanyaan putranya, namun dia juga sedikit penasaran dengan jawaban dari wanita itu.
"Kau bermain sendiri dulu yah, Papa mau melihat laporan pekerjaan sebentar."
Do-Hyun mengangguk setuju, "He'em."
Jun-Hee beranjak dari lantai dengan karpet bulu yang hangat berpindah ke atas sofa dan menjaga sedikit jarak. Mengambil ponselnya, pria itu mencari-cari cincin lamaran di internet, apakah ada yang cocok atau tidak.
Dia harus menyesuaikan dengan karakter Eun-Kyun. Dia pikir, dia bisa melamar Eun-Kyun dalam waktu dekat.
Namun, apa yang diharapkan tidak ada, semua cincin itu tak ada yang cocok dengan Eun-Kyun. Dia hanya bisa menyuruh asistennya untuk membuat janji dengan toko perhiasan, dia ingin melihatnya siang ini.
Tak beberapa lama setelah menghubungi asistennya, Pesan itu kembali dengan mengatakan; jika janji telah dibuat. Toko perhiasan Xxx di Mall Gangnam
Jun-Hee menoleh kearah Eun-Kyun yang saat ini sedang membuat sarapan, dia menyimpan ponselnya dan menghampiri Eun-Kyun.
__ADS_1
"Apa yang bisa kubantu?"
Eun-Kyun menoleh kearah Jun-Hee sebentar, "memangnya apa yang bisa kau lakukan?"
"Bukankah kau akan menyiapkan sarapan? ..Biar kubantu, kau ingin membuat nasi goreng kimchi 'kan? Aku ahli dalam hal ini," Jun-Hee menggulung lengan bajunya lalu mengambil celemek yang berada dalam laci.
"Ehh?" Eun-Kyun terkejut melihat pria itu yang sedang mengikat tali celemek.
"Kau bisa menonton ku memasak, ini mudah. Kau pasti akan menyukai rasa masakan ku," ucap Jun-Hee dengan percaya diri, dia mendorong Eun-Kyun keluar dari dapur
"Ehh.. ehh..ehh.." Eun-Kyun yang didorong hanya bisa keluar dari dapur, namun dia mengikuti ucapan Jun-Hee dengan menonton pria itu memasak.
Apa yang harus dia katakan, pria itu terlihat sangat tampan dan mempesona saat sedang serius bekerja. Apakah ini halusinasi nya? Kenapa dia bisa melihat cahaya disekitar Jun-Hee?
Tentu saja, Jun-Hee yang sedang ditatap oleh Eun-Kyun merasa senang. Senyum di bibirnya tak hilang, sepertinya dia sudah bisa melakukan apa yang dia inginkan.
Melamar Eun-Kyun dengan cepat!
Ahh.. memikirkan nya saja sudah membuatnya senang, senyum di bibirnya semakin melebar g
Melihat Jun-Hee yang tersenyum, jantung Eun-Kyun tiba-tiba berdetak dengan cepat, pipinya juga terasa panas.
Apakah Jun-Hee tersenyum karena menangkap basah dia sedang menatapnya?
Eun-Kyun langsung melarikan dirinya, dia tak mau melihat pria itu untuk saat ini. Rasanya, dia ingin bersembunyi di dalam suatu tempat yang tak ada orangnya. Terlebih, kenapa pikirannya melayang pada hari itu lagi?
Pipinya semakin memanas karena mengingat hari dimana dia dan Jun-Hee berciuman.
Jun-Hee menatap heran saat Eun-Kyun pergi dan tak lagi menontonnya, apa dia telah melakukan sesuatu? Dia pikir, tidak ada. Lalu, kenapa wanita itu pergi?
.
.
__ADS_1
.
.