
Sekarang menunjukkan pukul 2 pagi, Tasya dan Al baru mengakhiri pertempuran mereka setelah beberapa kali melakukanya. Memang pada dasarnya hubungan yang dilakukan atas dasar cinta akan terasa lebih enak.
Untung saja beberapa hari lalu dia sudah meminum pil KB karena memang ingin menunda kehamilan. Kalau tidak sudah pasti akan langsung jadi karena Tasya juga sedang dalam masa subur.
Al menatap Tasya yang berada di sampingnya, dia nampak kelelahan dan masih mengatur napasnya yang belum beraturan. Dia bahagia karena malam ini banyak bergerak. Membuktikan kalau Tasya menjaga kehormatannya selama ini dan berakhir padanya.
Dengan lembut dia menarik selimut dan membawa Tasya ke dalam dekapannya. Dia tersenyum saat menatap Tasya tidak menggunakan sehelai benang pun sekarang, gadisnya tidak polos lagi akibat ulahnya.
"Cape ya? Thanks for tonight, Baby," ucap Al sambil mengecup keningnya dan mengelap keringat yang mengalir dari pelipis istrinya.
Tasya mengeratkan pelukannya pada Al. Dia merasa bahagia dan semakin mencintai suaminya. Sangat. Meskipun kini bagian bawahnya masih terasa sakit. "Masih sakit punyaku yang di bawah?" Tanya Al.
Tasya mengangguk, dengan senyum Al mengubah posisinya menjadi duduk. Dia sudah menyiapkan antibiotik dan juga air putih untuk Tasya. Ya beginilah kalau dokter, dia sudah pasti tau penanganan yang tepat di saat seperti ini.
"Minum ini, takut ada infeksi," ucap Al.
Tasya menatap Al lalu mengubah posisi duduknya, dia menurut saja dan meminum antibiotik itu. "Makasih ya, Mas perhatian banget sama aku."
Tanpa menjawab Al kembali memeluk Tasya untuk kembali berbaring bersamanya. "Jangan makasih, udah seharusnya aku perlakuin kamu dengan baik."
Tasya tersenyum sembari menatap wajah suaminya. "Mas, jangan pernah tinggalin aku ya. Ayok kita sama-sama untuk waktu yang lama."
"Tentu bakalan kaya gitu, Sayang. Aku gak akan kemana-mana. Aku akan terus sama kamu. Jadiin kamu satu-satunya dalam hidup aku. I promise you." Al mengecupi pipi istrinya itu dengan perhatian. Aneh, meskipun berkeringat tapi dia tetap wangi, membuat Al candu saja.
Malam ini malam yang panjang bagi mereka, tapi keduanya masih belum terlelap. Jadi mereka habiskan untuk membahas apa-apa saja yang akan mereka susun ke depannya.
Mereka sudah dewasa sekarang, mereka harus memiliki tujuan sendiri tanpa campur tangan orang lain. Termasuk untuk tinggal di rumah mereka sendiri yang akan mereka tempati setelah pulang dari sini.
__ADS_1
"Tapi kasian gak sih, Mas kalau Ayah sama Bunda kita tinggalin?" Tanya Tasya yang kini menatap suaminya.
"Kasian, tapi kan masih ada Zea sama bang Fadil di sana. Kalau mereka gak mau mandiri ya kita aja," ucap Al.
"Yakin kamu siap? Masakan aku gak kaya bunda loh?" Tanya Tasya meyakinkan.
"Udah aku bilang kita mulai dari awal, kamu gak harus pinter. Minimal kamu bisa, kita belajar bareng-bareng. Jadi aku yakin bisa bangun rumah tangga kita sendiri, Sayang. Karena kamu juga yakin sama aku," ucap Al sungguh.
"Ya udah kalau itu keputusan kamu, aku ikut aja. Tapi kalau aku ada salah atau bikin kamu kecewa bilang sama aku ya. Jadi aku bisa perbaiki," pinta Tasya.
"Kita saling aja ya, Sayang?" Al mengeratkan pelukannya pada Tasya. Menyamankan diri mereka masing-masing. Karena kelelahan dan memang sudah hampir pagi, mereka pun sama-sama ketiduran.
.
.
.
Jam sudah menunjukkan pukul 10 siang, mereka tidur saat pagi menjelang, wajar saja sih jika bangun jam segini. Hari ini rencananya mereka akan kembali menelusuri tempat-tempat yang Tasya inginkan. Jadi mereka harus segera bangun agar tidak terlalu siang.
Dengan lembut Tasya mengusap pipi Al. "Mas, bangun. Udah siang, kita kan mau keliling lagi. Mass, sayang, suami aku."
Namun bukan bangun Al malah menarik Tasya lebih dekat untuk mengeratkan pelukannya dan membenamkan wajah di ceruk leher istrinya. "Hmm, bentar lagi ya, Cantik."
Menurut Al ini adalah posisi ternyaman untuknya sekarang, apalagi menciumi aroma tubuh Tasya membuatnya tenang. Dia pastikan akan melakukan itu setiap hari.
"Mas, Al. Aku mau mandi, badan aku keringetan semalem," balas Tasya yang masih mencoba membangunkan Al.
"Gini dulu aja. Kamu nyaman banget sih, jadi aku betah," puji Al.
__ADS_1
"Ishh kamu nih, ayok bangun ga boleh males-malesan. Mas aku mau ih belum pake apa-apa." Tasya mencoba melepaskan diri dari Al namun tentulah tenaganya kalah dari Al.
"Masss," rengek Tasya.
Membuat Al terkekeh melihatnya gemas seperti itu, dia pun melepaskan pelukannya dan menciumi bibir Tasya. "Iya ini dilepasin iyaa, bawel."
Tasya mengubah posisi menjadi duduk dan memakai kimono tidurnya yang semalam belum sempat dia pakai. Namun, saat akan beranjak bagian bawahnya terasa sakit sampai membuatnya meringis.
Al yang mengerti langsung memakai trainingnya dan mengecup bibir Tasya. "Tunggu dulu, biar aku siapin air buat kamu, jangan banyak gerak."
Membuat istrinya kesakitan membuat Al merasa harus bertanggung jawab padanya pagi ini, ya sekiranya sampai rasa sakitnya hilang.
Tak lama kemudian Al keluar dari kamar mandi, dia langsung menggendong istrinya ala brydal ke kamar mandi. "Kalau udah beres dan masih sakit, panggil aku aja. Kasian aku usilin semalem jadi kesakitan, maaf ya."
Tasya tersenyum mendengarkan perkataan suaminya, bisa-bisanya dia selembut itu? Kan Tasya jadi salah tingkah kalau begini. "Iya, Mas gapapa."
Sesampainya di dalam, Al membantu Tasya melepaskan kimono tidurnya dan membantu Tasya masuk ke dalam bathtub yang sudah dia campurkan dengan aroma lavender agar Tasya rileks.
"Enjoy, Baby." Al mencium kening istrinya cukup lama, setelah itu keluar dan mebiarkan Tasya bersantai sejenak untuk merenggangkan otot-ototnya. Karena kalau Tasya mau hari ini mereka akan berkeliling lagi untuk melakukan perjalanan bulan madu, jadi tubuhnya harus fresh.
Tasya memejamkan matanya, tubuhnya terasa berat sih. Seperti melakukan kerja berat, tapi tidak salah juga. Dia bekerja bersama Al semalaman. Dadanya juga sedikit perih karena Al memainkannya terus menerus. Jadi berendam dengan air hangat ini membuat sedikitnya merasa jauh lebih baik.
Ini masih hal baru sih untuk Tasya, dia juga sebenarnya malu berhadapan dengan Al. Membayangkan bagaimana reaksinya semalam membuat dia berpikir apa dia berlebihan atau tidak, dia terlihat liar atau tidak. Pokoknya banyak sekali yang dia pikirkan.
Tapi memang kehidupan pernikahan seperti ini, dia harus menyesuaikan diri lebih cepat. Kalau dia tidak membiasakannya malah akan membuatnya tidak nyaman. Jadi mulai sekarang dia harus mulai banyak belajar dalam segala hal.
Di sisi lain Al tertawa saat melihat kamar ini begitu berantakan. Apalagi baju Tasya berserakan di bawah, memang tangannya semalam tida bisa dikontrol. Pelan-pelan dia mengambil satu-persatu pakaian Tasya dan menaruhnya di keranjang.
Sejenak dia merasa bangga saat melihat noda darah yang ada di sprey ranjang yang mereka tempati. Ada kebanggan tersendiri dalam dirinya, walaupun dia tidak tega juga melihat Tasya kesakitan
__ADS_1
Mulai hari ini Al berjanji akan memberikan seluruh perhatiannya lebih dari kemarin pada Tasya. Gadis itu telah memberikan segalanya, oleh karena itu dia juga akan memberikan segalanya pada Tasya. Termasuk kebahagiaan yang ada di dunia ini.