
Kurang lebih 1 Minggu Tasya dan Al menghabiskan waktu di Lombok, mereka benar-benar menikmati waktu berduaan tanpa ada yang menggangu.
Kini semua orang nampak berkumpul mendengarkan cerita dari kedua pengantin baru itu. Apalagi Tasya yang bersemangat menceritakannya sambil terus berada dalam dekapan suaminya.
"Terus ada kejadian apa lagi di Lombok selain kalian main ke kebun duren?" Tanya Diana antusias.
"Oh ada, Bund! Bunda tau gak aku hampir mau pulang ke sini, padahal baru sehari di sana," adu Tasya.
Al menghela napasnya, pasti ini akan diungkit. Melihat itu Diana jadi curiga pada putranya. "Diapain sama Al?"
"Bukan, Mas Al. Tapi masa kita diikutin sama secret admirernya Mas Al. Sampe niat banget sewa kamar sebelahan," kesal Tasya.
"Wahh cantik gak tuh?" Tanya Radit mengompori, membuat Al membulatkan matanya. Sudah tau kalau istri sekaligus adik Radit itu kan cemburuan.
"Cantikan aku, Bang!" Sinis Tasya.
Radit terkekeh dengan respon Tasya. "Hahaha jadi terus gimana lagi?"
"Ya kan kita lagi quality time gitu, tiba-tiba dia ketok-ketok pintu minta betulin pintu, terus kedua kalinya dia minta betulin keran yang patah. Emang suami aku tuh room service! Jadi aku panggil aja room service, bodo amat keliatan kesel. Emang kesel banget, ganggu aja!" Jelas Tasya dengan menggebu-gebu.
"Tapi kan aku bantuin karena kasian aja," jelas Al.
"Ya tapi kamu tuh terlalu positif thinking sih. Kamu pikir aja, dia ada di pantai, terus dia tiba-tiba kamarnya sebelahan padahal kan itu kamar buat dua orang, terus kenapa tau kalau kamu sama aku di kamar sebelahnya dia."
"Tau, tapi ya udah. Dia kan gak ikut ke kamar." Al gemas sekali pada Tasya dan langsung saja menarik hidungnya.
"Tuh kan gitu kan, padahal ganggu terus loh. Sampe gak mood, emang kamu doang emang yang kaya gitu," kesal Tasya.
Semua orang tertawa mendengar cerita Tasya. Ya bagaimana tidak? Dia memang selalu bersemangat kalau menceritakan apapun sampai ekspresinya sangat lucu kalau sedang marah begitu.
"Emang kalian lagi ngapain sampe kesel banget?" Tanya Zea.
__ADS_1
"Kita tuh lagi-"
Al langsung menutup mulut istrinya. Begini nih kalau punya istri yang tidak bisa mengerem saat bicara. Salah-salah kan nanti dia malah menceritakan soal malam pertama yang gagal pada keluarganya. Akan ditaruh di mana muka Al. Sudah cukup Tasya hanya menceritakannya pada teman-temannya. Dia tidak ingin malu untuk kedua kalinya.
Tasya melirik ke arah Al seolah bertanya 'Kenapa' namun Al hanya tersenyum penuh makna. "Udah, cape cerita terus. Minum dulu, tarik napas terus buang."
Tasya melepaskan tangan Al dan menatapnya semakin aneh. "Gak cape, kenapa sih. Aneh kan aku cerita doang bukan mau lahiran."
"Betul tuh aneh, jadi gimana lagi, Sya?" Tanya Radit memancing, membuat Al menghela napasnya lagi dan kembali membungkam mulut istrinya lalu menenggelamkan wajah gadis itu di pelukannya.
"Ya udah tamat," ucap Al.
Radit paham sih apa yang disembunyikan Al. Dia sengaja saja menggoda Al, benar-benar adiknya ini polos sekali dan mudah diculik.
Tasya memukul lengan Al pelan. "Issh, Mas. Kdrt! Masa istrinya dibekep gitu, tuh liat Bund aku dinakalin."
Diana tertawa melihat menantu bungsunya itu, memang mereka berdua sangat menggemaskan meskipun sudah menikah seperti ini masih saja suka bertengkar.
.
.
.
Barang bawaan Tasya banyak sekali. Ya tidak heran juga, namanya juga Tasya. Ada beberapa koper dan dus. Belum lagi milik Al. Mereka rasa akan memerlukan bantuan teman-temannya juga. Ada dua mobil juga yang mereka bawa dan 1 motor. Agar mempermudah saat nanti mereka bekerja.
"Ini harus banget besok pindahnya?" Tanya Tasya pada Al.
"Harus, biar bisa berduaan," jawab Al asal.
"Ih mesum kamu mah!" Sungut Tasya.
"Loh aku bilang berdua loh gak ngapa-ngapain. Itu otak kamu aja sayang yang mesum," kata Al sembari memeluk istrinya yang memang sedang melipat beberapa baju.
__ADS_1
Tasya memejamkan matanya erat, benar-benar otaknya ini kenapa sih? Lagian kenapa juga dia kalau bicara tidak disaring dulu? dan jujur saja itu membuat Gala tertawa.
Namun itu tidak lama karena mereka mendengar keributan dari kamar sebelah. Malam-malam begini apa yang diributkan oleh Zea dan Fadil? Keduanya terdiam, bukan maksud untuk menguping, tapi mendengar Zea menangis membuat mereka jadi penasaran.
Untuk beberapa saat mereka seperti itu. Namun Tasya tenggelam dalam pikirannya masing-masing. Dia merasa menjadi penyebab pertengkaran Zea dan Fadil karena namanya terseret di sana.
Apa perasaan Fadil padanya begitu dalam sampai dia sulit untuk melupakan? Padahal sudah berjalan beberapa tahun. Tasya menatap Al sendu. "Aku salah kayanya."
"Ehh kenapa bilang kaya gitu?" Tanya Al yang lalu membawa Tasya dalam pelukannya.
"Itu kak Fadil bawa-bawa nama aku. Apa aku ya yang buat pernikahan mereka berdua gak berjalan dengan semestinya?" Tanya Tasya yang mulai overthinking.
"Bukan salah kamu, tapi kita gak bisa memaksa seseorang soal perasaan, Sayang. Walaupun sebenernya aku juga kesel. Pernikahan mereka dari awal aja udah salah, tapi mereka memaksa buat terus berjalan," ucap Al.
"Tapi seharusnya kita berusaha lebih keras buat berhentiin pernikahan itu kan, Mas? Coba kamu bayangin, udah dua tahun lebih mereka kaya gini. Masih belum ada perasaan, konsepnya gimana? Apalagi kak Zea bilang kak Fadil main perempuan di luar sana buat pelarian."
Al terdiam, dia tau soal ini sih. Dia sudah memperingati Zea dari awal tapi dia tetao kukuh pada pendiriannya. Kalau sudah begini ya dia jadi khawatir. Mengetahui Zea curhat dengan istrinya, apa mungkin Zea sudah mencintai Fadil?
"Mas, boleh aku ajak kak Fadil bicara?" Tanya Tasya.
"Bicara apa, Sayang. Itu bukan urusan kamu. Lagi pula apa yang mau dibicarain? Suruh dia lupain kamu?" Tebak Al.
"Engga, emang ada yang mau aku bicarain aja. Karena ngeganjal di akunya. Gak bicara apa-apa atau terlalu jauh ikut campur kok," ucap Tasya.
"Kamu juga bicara sama kak Zea. Biar kita bisa nemuin titik temu hubungan mereka. Mereka gak akan maju dan bakalan di situ-situ aja kalau kita gak bergerak," lanjut Tasya.
Al terdiam, Tasya menatap suaminya itu dengan lamat. Mencoba menerawang apa yang dipikirkan oleh Al.
"Besok kita pindah lih, kamu yakin mau pergi gitu aja ninggalin kak Zea dalam keadaan kaya gini?" Tanya yang merasa tidak mendapat respon dari Al.
Al berpikir lalu mengangguk-nganggukan kepalanya pelan. Mungkin Tasya ada benarnya, tidak mungkin Al membiarkan Zea larut dalam permasalahan yang sama seperti ini.
Urusan mereka berpisah atau tidak itu keputusan mereka. Tapi akan lebih baik mereka mempunyai keputusan untuk lanjut atau tidak. Karena sekarang ini mereka terjebak di dalam pernikahan mereka sendiri.
__ADS_1
Malam ini adalah malam terakhir mereka di rumah ini, memang ada baiknya sebelum pindah dia membantu Zea terlebih dahulu. Setelah itu kan dia dan Tasya akan pindah. Jadi akan mempermudah jalan untuk Zea dan Fadil.
Itulah alasan utama Al ingin segera pindah, karena dia tau kalau kakak iparnya itu masih menaruh rasa pada istrinya. Tidak baik kalau mereka satu lingkup seperti ini. Tidak sehat juga untuk hubungan keduanya.