
Tasya sudah sampai di ruangannya, pagi ini dia nampak lesu karena memang sedang bertengkar dengan Al. Meskipun mereka dalam mobil yang sama tetap saja mereka tidak saling bicara. Belum lagi saat Tasya terbangun biasanya ada Al di sampingnya.
Tapi tadi malam Al tidak tidur bersamanya. Bahkan dia menyiapkan baju dan makanannya sendiri. Meskipun dia masih sempat-sempatnya menyiapkan susu hamil untuk Tasya.
Mereka sering bertengkar tapi tidak begini, jadi Tasya merasa kesepian tapi untuk bicara dengan Al pun tidak mau. Beberapa kali dia berusaha menetralkan pikirannya. "Fokus kerja, sekarang harus fokus kerja dulu, jangan mikirin yang lain!"
Tasya merapikan tempat kerjanya dan mengeluarkan laptopnya, karena masih belum ada pasien jadi lebih baik dia mengerjakan apa-apa saja yang bisa dia kerjakan.
Tak lama kemudian suster mengantarkan pasien ke ruangan. Dengan senyum Tasya menyambut pasiennya dan mempersilahkan untuk duduk. "Jadi, ada keluhan apa, Bu?"
"Begini, Dok. Akhir-akhir ini perut saya keram, saya juga merasakan mual-mual dan kemarin saya pingsan di kantor. Belum lagi emosi saya naik-turun saya takut terkena darah tinggi, Dok," jelasnya.
"Oh begitu, kalau boleh tau nama Ibu siapa dan apa ada keluhan lain?" Tanya Tasya sembari mencatat keluhan pasien.
"Sana."
"Baik kalau begitu, kalau boleh tau kapan terakhir Ibu sana menstruasi ya?" Tanya Tasya.
"Kayanya– lupa dok tapi kayanya sudah 1 bulan ini saya tidak menstruasi, itu kenapa ya, dok?" Tanya Sana.
Tasya mencoba memberikan dugaan diagnosanya, sepertinya memang ini calon ibu baru, karena kalau diliat dari usianya juga masih muda, lebih muda dari Tasya malah.
Jadi Tasya mempersilahkan agar pasiennya menampung urine ke kamar mandi dan setelah itu sambil menunggu hasil testpack Tasya memeriksa keadaannya terlebih dahulu.
Tasya mendekat ke arah pasiennya seraya memasang eaerpieces stetoskop ditelinga. Setelah itu dia menempelkan diaphragm pada dada pasiennya untuk mengetahui detak jantung.
Beres melakukan pengecekan dilanjutkan dengan tensi darah dan pengecekan diperut kalau-kalau terjadi peradangan. Dia jadi tersenyum saja, lucu orang hamil memeriksa orang hamil juga.
Itulah kenapa yang membuat Tasya senang menjadi dokter, dari berbagai banyak penyakit, dia bisa sharing juga dengan pasien-pasiennya dan itu menyenangkan.
Semua pengecekan sudah dilakukan dan kini Tasya memeriksa hasil testpacknya. "Selamat ya, Bu. Sekarang ibu sedang mengandung, perkiraan janinnya sudah berumur 1 bulan 2 Minggu."
Tasya dapat melihat raut bahagia dari wajah pasiennya, dia jadi teringat bagaimana saat dia tau kalau dirinya hamil. Tasya dapat merasakannya sendiri kalau dia sangat bahagia.
Belum lagi sekarang datang seorang pria yang ternyata adalah suami pasiennya, ya untuk sejenak Tasya membiarkan mereka berbahagia dulu atas kedatangan buah hati mereka.
__ADS_1
"Mulai sekarang kamu berhenti kerja dulu ya, nanti setelah anak kita lahir kamu boleh kerja lagi, apapun Mas dukung. Sekarang kamu fokus dulu dengan kehamilan kamu dan anak kita."
"Tapi Mas–"
"Uang itu bisa dicari, Sayang. Mas masih bisa membiayai kalian, tapi anak itu titipan luar biasa dan harus dijaga semaksimal mungkin. Apalagi kamu ada anemia parah."
"Setelah melahirkan aku boleh kerja lagi?" Tanya Sena.
Suaminya mengangguk. Tasya yang mendengar percakapan mereka langsung tertegun. Sesimpel itu memang komunikasi tapi kemarin dia malah langsung emosi pada Al. Belum lagi dia malah termakan omongan Viko.
Tasya menghela napasnya, tapi apa memang dia harus berhenti kerja dulu? Tasya masih tidak bisa melakukan itu.
.
.
.
"Makan, dari Al." Angkasa menaruh makanan di meja Tasya.
"Makan, Cil."
Tasya menghela napas dan menyingkirkan pekerjaannya sejenak. Bukan untuk makan, tapi menatap Angkasa dengan serius.
"Kenapa?" Tanya Angkasa yang tau pasti kalau Tasya ingin menceritakan sesuatu tapi masih nampak ragu-ragu.
"Lo tau gue sama Al berantem karena apa? Dia ada cerita?" Tanya Tasya. Angkasa ini memang tumpuan teman-temannya, dia yang selalu dijadikan tempat cerita oleh masing-masing orang.
"Ada."
"Dia marah banget sama gue ya?" Tanya Tasya yang memang khawatir sekali kelihatannya.
"Menurut lu?"
Tasya menyenderkan punggungnya di kursi dan menjepit rambutnya. Rasanya gerah sekali padahal sedang di ruangan ber-AC iya se-kepikiran itu memang Tasya karena Al mendiamkannya.
"Al itu orang yang paling ngertiin lu, lu tau itu perasaan," ucap Angkasa.
__ADS_1
Tasya terdiam, mengingat bagaimana kemarin dia marah pada Al dan mengatakan kalau Al tidak pernah mengerti dirinya. Padahal selama ini Al selalu melakukan yang terbaik. Bahkan rasanya Tasya yang selalu kurang sebagai seorang istri.
"Tapi kemarin gue udah ngalah, gue bilang kalau oke gue bakalan resign."
"Nadanya gimana? Lu kalau bicara juga harus perhatiin itu. Kalau lu ngalah itu gak gitu, Tasya. Lu deketin Alz bicara baik-baik, lu minta maaf dulu sama dia soal permasalah kalian, setelah itu lu bilang kalau dia ada benernya dan lu mutusin buat resign. Begitu."
"Kan sama aja."
"Beda, itu lu ngambil keputusan karena lu marah didiemin Al. Lu ambil keputusan bukan diliat dari sisi baik yang Al ucapin."
Tasya berpikir sejenak. Memang benar sih semalam dia kesal sekali pada Al itu kenapa dia bicara begitu. Tasya menutup wajahnya dengan kedua telapak tangan. "Gue gak mau resign, Saaaaa."
"Lu yang tau kondisi lu gimana, jangan sampai lu kehilangan anak karena gara-gara ini. Al itu laki-laki dengan pemikiran yang matang. Lu tau sendiri laki lu gimana. Turunin ego dan pikirkan ulang."
"Tapi masalahnya Viko kemarin bilang harusnya Al dukung gue dalam segala hal."
"Omongan Viko lu dengerin. Dia gitu karena tau lu berantem sama Al. Lu ini pinter tapi kadang bloon dah. Jangan biarin orang masuk ke dalam hubungan kalian. Lu cuma boleh percaya sama gua, Yoda, Belva, Monik sama Arkan. Karena sisanya itu bajingan."
"Gue egois ya?"
"Gak egois, tapi lu emang sensitif aja. Lu pikirin aja apa yang Al bilang. Dia itu mau yang terbaik buat lu kok, emang apa di dunia ini yang gak dia kasih buat lu? Sejak dulu selalu lu prioritasnya dia."
"Gimana caranya gue Mina maaf ya?"
Angkasa mendekatkan wajahnya. "Gua ada ide."
Angkasa dan Tasya saling berbisik untuk menyusun sesuatu, mungkin ada kali ya 10 menit mereka berdiskusi. Sampai akhirnya Tasya nampak berpikir.
"Menurut lo ini udah bener?" Tanya Tasya.
"Lu percaya deh, semua ini udah jalan yang terbaik buat lu, Al sama anak kalian."
Tasya menghela napasnya, untuk sejenak dia memejamkan matanya, mencoba untuk meyakinkan dirinya sendiri tentang semua ini. Setelah itu dia berlari ke arah Angkasa dan memeluknya. "Aaaaaa lo emang bestie gue paling gemesin, paling bisa diandalkan, gue sayang banget sama lo baby Asa."
Tasya mengunyel-unyel pipi Angkasa. Percayalah, Angkasa sedikit menyesal menjadi penengah diantara mereka. Pasalnya Tasya itu begini nih, selalu mengajaknya bertengkar.
Tapi diluar itu dia senang kok kalau Tasya dan Al berbaikan. Karena gerah juga dia melihat kedua pasangan bucin ini mendadak diam-diam begini. Rasanya ada yang kurang tanpa kebucinan mereka walaupun itu menyebalkan.
__ADS_1