
"Bunda masa Mas Al semalem ngidam," adu Tasya saat di meja makan.
Mereka semua tertawa mendengar ucapan Tasya. Tau siapa yang paling kencang tertawa. Tentu Zea sang kakak. Al menghela napasnya, mau ditaruh di mana mukanya?
"HAHAHAHA Bucin banget lo sampe ngidam? HAHAHAHAHAHA." Zea tertawa semakin kencang, membuat Fadil menutup mulutnya karena terlalu lebar.
"Jangan gitu, kalau kamu hamil dan saya ngidam bagaimana?" Ucap Fadil.
Zea mendengus sebal dengan ucapan suaminya, tapi dia malah seolah tak mengindahkan perkataan suaminya dan kembali menertawai adiknya yang memang sejak dulu bucin akut. Membuat Tasya kembali ikut tertawa.
Al menghela napasnya, bisa-bisanya pagi ini dia diledeki oleh istri dan kakaknya sendiri. Bahkan ibunya saja mengulum tawanya, berarti memang ini dia butuh menenggelamkan diri.
"Gapapa loh, Sayang. Itu artinya anak bunda itu perhatian. Gak mau istrinya ngerasain aneh-aneh."
"Tuh." Al merasa senang mendapatkan pembelaan dari ibunya.
"Tapi emang kamu kayanya tuh cinta sekali ya sama Tasya. Sama kaya ayah, dulu dia yang ngidam. Lucu sekali, kamu memang ngidam apa?" Diana kini malah tertawa membuat Al gagal senang karena mendapatkan pembelaan.
"Ngidam martabak, niatnya mau nutupin biar ga diledek karena Tasya suka makan martabak keju, tapi dia yang mual. Padahal Tasya suka banget martabak keju."
"Orang hamil biasa begitu, Bundamu aja malah gak mau ayah peluk. Jadi ayah harus tidur di luar waktu hamil Zea," kata Haris.
Al langsung menelan salivanya dan mengusap perut istrinya dengan lembut. "Nak, kamu jangan ngidam aneh-aneh ya sampe papanya di suruh tidur di luar. Nanti kamu anehnya sama kaya aunty Zea," ucap Al.
Plakk...
Langsung saja kepala Al mendapatkan sarapan dari tangan Zea yang berada di sampingnya. "Sekata-kata, tar pas lahir anak lo malah anggap gue aneh!"
"Emang aneh!" Balas Al tak mau kalah.
Tasya terkekeh melihat perdebatan suami dan juga kakak iparnya. Mereka sangat lucu sekali kalau sedang bertengkar begini. Meskipun membuat pusing kepala karena tidak ada yang mau mengalah.
Setelah selesai sarapan Tasya mengantarkan Al ke depan sekaligus menyalaminya. "Mas aku mau ke rumah sakit. Aku udah gapapa."
__ADS_1
"Kamu masih perlu istirahat, Sayang. Sabar ya? Kamu fokus istirahat, baru setelah itu kembali kerja."
"Lama ... "
"Sebentar, kamu jangan banyak pikiran dulu pokoknya. Jangan lupa makan, jangan lupa ngapa-ngapain. Kalau ada apa-apa hubungi aku ya?"
Tasya mengangguk lemas, dia sebenarnya butuh peralihan. Dia tau kalau Al khawatir dia akan seperti kemarin malam. Tapi berdiam diri juga dia tidak tau harus apa selain bicara dengan mertuanya dan jalan-jalan kecil.
Al paham dengan kondisi Tasya yang memang sebenarnya butu untuk sibuk. Tapi yang dia pikirkan bukan masalah mental Tasya saja, Tasya memang kelelahan dan dia memang perlu istirahat. Jadi sekalian aji mumpung juga untuk mengistirahatkan diri.
"Sayang ... Jangan cemberut gitu dong mukanya," ucap Al seraya menangkup pipi Tasya dengan lembut.
"Aku mau pulang ke rumah, Mass," ucap Tasya jujur.
"Kenapa, kamu gak betah di sini hm?" Tanya Al.
"Bukan, bukan gak betah. Tapi aku ngerasa gak enak kalau lama-lama di rumah Bunda sekarang. Kaya sekarang tuh sungkan aja kalau lama-lama nyusahin Bunda."
"Nanti kita pulang, tapi sekarang kita di sini dulu ya?"
Tasya menghela napas, dia mengangguk pasrah, sekarang ini dia mengikuti suaminya kan. Jadi kemana pun Al pergi, Tasya harus mengikutinya saja.
Al berlutut di hadapan Tasya, lalu mengecup perut Tasya dengan lembut sembari mengusapnya. "Papa pergi kerja dulu ya sayang. Gak boleh rewel, kalau mau apa-apa bilang sama Mama. Gak boleh bandel oke jagoan?"
Setelah itu Al kembali mencium perut Tasya dan berdiri menghadap istrinya. "Jaga diri di rumah." Al tersenyum dan mencium kening Tasya lama. Beres dengan ritual itu dia melambaikan tangan pada istrinya dan pergi kerja.
Tasya tersenyum, dia tidak memutuskan untuk langsung masuk ke dalam. Mungkin Al ada benarnya dia butuh istirahat dan dia juga perlu melakukan hal-hal ringan sepertinya. Misalnya jalan-jalan di halaman rumah.
Tiga puluh menit, waktu yang ditempuh dari rumah Ibunya ke rumah sakit. Akhirnya Al sudah sampai di rumah sakit. Namun saat di koridor rumah sakit tiba-tiba Viko menghentikan langkahnya.
"Tasya mana?" Tanya Viko.
"Bukan urusan lu juga Tasya kemana."
Viko tersenyum sinis. "Heran, kok ada orang yang bisa songong ke orang yang udah kasih lo sesuatu yang pernah dia miliki. Tasya itu bekas gua. Kalau kejadian itu gak terjadi lu cuma dianggap sahabat sama dia."
__ADS_1
Mendengar itu Al malah terkekeh. "Dia bukan bekas lu menurut gua, karena lu gak tau aja kalau berlian itu akan tetap bernilai tinggi meskipun bekas. Bisa jadi harganya lebih fantastis kalau sedang naik."
Viko terdiam.
"Lebih malu kalau lu udah buang seseorang layaknya sampah dan sekarang dia ngemis sampah itu lagi ke seorang pemulung yang beruntung karena udah mungut. Gak punya malu lu."
Setelah mengatakan itu Al tidak peduli bagaimana reaksi Viko. Kalau dia ingin bermain-main dengan Al mari kita bermain sekarang. Karena Al tidak akan membiarkan siapapun mengalahkannya dalam sebuah permainan.
"Arghhhtt Aldo siala! Dia pikir gua bakalan mundur gitu aja setelah penantian panjang ini? Lu gak pernah kenal gua! Tunggu tanggal mainnya!" Viko yang geram pun meninggalkan tempatnya, membuat Angkasa yang sedari tadi melihat itu tersenyum remeh.
Dia senang saja melihatnya. Bermain-main dengan Al sama dengan bermain-main dengannya juga. Karena Viko memang sudah salah melawan orang sejak awal. Bahkan pukulan terakhir Al pada saat Viko menyakiti Tasya saja dilupakannya. Padahal itu adalah SP pertama dari mereka untuknya. Menarik sekali berhadapan dengan seorang Viko ternyata.
Angkasa berjalan ke ruangan Al, terlihat sudah ada Belva, Monik dan Yoda juga di sana. Mereka memang sengaja menemui Al pagi-pagi begini, apalagi kalau bukan menanyakan tentang Tasya.
"Si bocil gimana?" Tanya Angkasa.
"Aman, walaupun dia ngerengek mau pulang."
"Dia gitu gak sih, kalau gak sibuk rasanya kaya ada yang kurang," kata Monik.
"Iya tapi dia perlu istirahat, Mon. Kecapean dia," ucap Yoda yang memang kemarin ikut memeriksa keadaan Tasya dengan Al dan Angkasa.
"Gila sih gue jadi dia juga bakalan down parah lah, gue gak tau ibu kandungnya Tasya tapi denger cerita Al waktu itu aja gue kesel banget," balas Belva.
"Tapi tetep, Bel. Sekarang gua suaminya, mau gimana pun gua harus bimbing dia supaya bisa berdamai sama keadaan. Gua sebenernya juga kaget sama keputusan Bang Radit, tapi kalau dicerna dan di balik posisinya, gua juga pasti bakalan ngelakuin hal yang sama.
Susah sih memang keadaannya, mereka juga tida bisa berbuat banyak kalau soal itu. Tapi yang mereka tau adalah, mereka harus mendukung Tasya dalam kondisi apapun.
"Btw lu udah dapet martabak keju?" Tanya Angkasa, memang sengaja sih dia ingin meledek Al yang kemarin uring uringan ingin martabak keju.
"Sialan!" Al melempar pulpennya ke arah Angkasa , membuat Angkasa tertawa puas. Iya dia senang sekali meledek Al kemarin.
"LO NGIDAM?" Tanya Monik tak percaya.
"HAHAHAHAAH NGIDAM DIA." Belva pun tak kalah kagetnya, bagaimana coba dia bisa menahan tawanya.
__ADS_1
"Gak heran sih gua, dia bucin banget dari semenjak SMA. Gak heran kalau dia yang ngidam," ucap Yoda seraya menepuk-nepu bahu Al.
Sial memang, terlepas dari Zea kini Al malah digoda habis-habisan oleh temannya, ya bagaimana ya? Bukan bucin, tapi memang sesayang itu Al pada Tasya.