
📍Bandara Internasional Juanda
Tasya tersenyum lebar kala seorang pria melambaikan tangannya dari ujung sana, dia Arka. Benar-benar Arka, ternyata pria itu benar-benar ke sini, Tasya pikir hanya sekedar bualan agar Monik mau menerimanya.
Tidak menyangka juga sih kalau sekarang penampilan Arka jauh lebih dewasa dari sebelumnya. Kemeja biru dengan celana bahan dan sepatu pantopel, menggambarkan sekali kalau dia Staff ahli kementrian. Tasya ya senang, dia pernah tau Arka sebadung apa, se tidak siap apa dia mempersiapkan kehidupannya, tapi sekarang dia sudah bisa dewasa dengan berdiri di atas kaki sendiri.
"Gila orang kepercayaan Pak Menteri, welcome to Surabaya," ucap Tasya seraya tersenyum lebar.
Arkan mengusak rambut Tasya gemas, dia sudah menjadi seorang istri namun masih nampak gemas. Memang dasar bocil. "Bocil bocil, gimana kabarnya Bu Ketos?"
"Baik kok dan masih bersama ayang." Tasya menggandeng Al seolah memamerkan suaminya, membuat yang lain menggeleng.
Setelah itu Arka hanya menggeleng saja melihat kelakuan Tasya dan beradu tos dengan yang lain. "Sehat?" Tanya Al.
"Lu bisa liat lah, btw kita ngobrol di rumah aja. Gua juga dikasih rumah dinas, sekalian nongkrong," ajak Arkan.
"Boleh-boleh." Yoda merangkul Arka lalu mereka semua berjalan ke luar Bandara.
Untuk sekilas, tatapan Arka dan Monik bertemu. Mereka nampak masih canggung satu sama lain, tapi Al dan Tasya terkekeh geli. Bayangkan saja, dua orang yang mereka kenal hiper aktif, kini hanya saling diam dan sesekali melirik satu sama lain. Bukannya gemas?
"Kangen pacaran," gumam Tasya.
"Oh kangen mantan, cukup tau," balas Al dengan wajah datarnya. Mereka jalan berdua di belakang jadi ya mau bicara apapun hanya mereka berdua yang mendengar.
Tasya menoleh dan menatap Al. "Loh kok mantan, kamu lah! Ngaco kalau ngomong."
"Kita kan gak pernah pacaran," ucap Al.
Tasya berpikir sejenak, oh iya mereka kan tidak pernah pacaran. Semasa KKN mereka tidak ada kejelasan dan sewaktu pulang KKN mereka menyetujui untuk bertunangan. Jadi ya memang tidak melalui masa pendekatan atau pacaran. Semuanya mengalir sampai sejauh ini.
__ADS_1
"Maksudnya kangen waktu di mana kita awal-awal komitmen. Masih malu-malu, ya lucu aja gak sih? Aku selalu suka kalau liat orang awal-awal pendekatan atau pacaran. Karena hubungannya masih lucu, belum ada masalah, belum ada berantemnya," jelas Tasya.
"Hubungan kita lebih lucu. Sahabatan dari kecil, tiba-tiba kamu putus dan aku ada kesempatan, setelah itu kita nerima perjodohan dan menikah. Lebih lucu lagi kita gapai impian kita sama-sama."
"Ya lucu, Mas. Tapi kan kita suka ada masalah, bukan karena masalahnya. Tapi maksud aku ya lucu aja gitu masa-masa awal pacaran tuh."
"Iya paham, tapi kamu harus lihat sudut pandang lain dari hubungan lama, Sayang. Justru masalah itu yang memperkuat rumah tangga kita sampai bisa berjalan sejauh ini, right?"
Benar juga, Tasya mengangguk. Ya kalau dipikir mereka memang banyak masalah. Tapi mereka tidak pernah saling melepas satu sama lain. Bahkan sepertinya mereka jarang bertengkar, ya kecuali kalau memang kesalah pahaman kecil saja.
Apalagi jika membayangkan mereka akan punya anak nanti, pasti lebih lucu lagi. Ini nih yang Tasya suka dari Al, dia selalu bisa memberi pemahaman baru yang tidak pernah Tasya pikirkan dan Tasya memang butuh orang-orang seperti Al untuk memahami dunia.
.
.
.
Meskipun kebersamaan Arkan ini baru kalau di sirkel Al yang di Surabaya ini. Tapi ya lebih nyaman saja karena dia memang sudah tidak bersama Bagus, Reza dan Viko semenjak kejadian malam itu. Dia benar-benar kecewa dan memilih berjalan sendiri tanpa mereka. Sedih sebenarnya, tapi seperti yang pernah Tasya katakan, ini hidup. Mereka harus realistis dan terus melangkah ke depan.
"Kapan lu mulai kerja?" Tanya Angkasa.
"Ngurus berkas dulu paling, setelah itu Minggu depan gua udah bisa kerja. Kalian sendiri gimana?" Tanya Arka.
Arka sudah mengerti sih mereka kalau apa-apa akan melakukannya bersama. Universitas sama, Jurusan sama, KKN dan skripsi bersama, koas dan intership pun bersama. Jadi sudah pasti untuk pekerjaan mereka akan mengusahakan untuk selalu bersama-sama.
"Nikmatin waktu dulu lah bro, suntuk rumah sakit terus," ucap Yoda.
"Bener, mumet banget gila. Sampai rasanya buat nongkrong aja kemarin gak ada waktu. Bener-bener sibuk, jadi lebih baik rehat sejenak dari aktifitas yang bikin mumet otak," timpal Belva.
"Iya, apalagi dokter gigi itu nanti ada beberapa test lagi kalau masuk rs. Lebih baik rehat dulu deh biar gak gila," timpal Monik.
__ADS_1
"Bener sih, gila perjalanan dokter gak mudah ya? Gua kira lulus, bisa langsung jadi dokter," kata Arka dengan kekehannya.
"Itu serunya, coba lu bayangin kalau kita lulus langsung terjun. Mau seburuk apa tenaga medis Indonesia karena kurang pengalaman," ucap Al.
"Bener dah, gak heran sih perjuangannya susah, emang pekerjaannya gak main-main." Arka mengangguk-nganggukan kepalanya.
Sebenarnya dia ingin membicarakan soal Viko tentang masalah kemarin-kemarin, tapi rasanya akan tidak enak. Apalagi dia tau kalau sekarang Viko sudah menjadi pengusaha ternama di Bandung. Sebenarnya banyak ke khawatiran yang Arkan simpan, apalagi mendengar Viko masih terobsesi dengan Tasya. Tapi itu dia bicarakan nanti saja.
"Oiya, ajak gua main kek keliling Surabaya. Mumpung gua masih belum ada kesibukan, main nongkrong, atau apapun ajak gua."
Mendengar itu Al langsung tersenyum, ya kebetulan sekali kan dengan rencana liburan Tasya dan Al. Jadi dia mengutarakan apa-apa saja yang menjadi tempat tujuan dan rencana liburan mereka.
Yang lain hanya menghela napas, ya karena tau mereka hanya akan menjadi cameo di hubungan Tasya dan Al. Jelas mereka mau honeymoon lah. Apalagi semalam mereka sudah membahas anak saja, sedikit terpental mereka mendengarnya. Meskipun pasti akan lucu jika di tengah-tengah mereka ada manusia kecil.
"Kok kalian kaya gak seneng?" Tanya Tasya.
"Tau kita mah tujuan lu berdua ajak liburan, emang kalian pikir semalam kita gak nguping!" Ucap Yoda blak-blakan.
"Tau ya anjir, mereka honeymoon berdua. Kita jadi apa? Penari latar?" Balas Angkasa.
Tasya dan Al hanya terkekeh tanpa dosa. Ya maksudnya mereka kan bukan untuk menjadikan mereka pajangan. Tapi berlibur bersama, karena akan semakin seru saja. Honeymoon itu anggap saja opsi kedua. Karena kalau berdua saja seperti ada yang kurang menurut mereka.
"Beda ya suami istri, nanti gua sama Monik nyusul," kata Arkan blak-blakan.
Monik membulatkan matanya, ya tidak percaya saja kata-kata itu terlontar. Mereka kan baru bertemu, maksudnya ada beberapa hal yang harus mereka bahas dulu berdua, ada hal yang memang harus diluruskan dan dijelaskan. Memang Arka ini orangnya sat set sat set.
"Ar!"
"Apa, Mon?" Balas Arka setengah tertawa.
Sudah nih kalau begini Monik pasrah, terbukti kan sekarang dia jadi bahan godaan oleh teman-temannya. Sungguh Monik malu! Awas saja Arka, tidak akan dia biarkan lolos setelah ini.
__ADS_1