
Hari pertama intership, mereka di bagi dalam beberapa kelompok. Kini Tasya dan Angkasa mendapat kelompok yang sama berjaga di UGD, Monik di bagian poli gigi karena memang berbeda jurusan sendiri, sementara Belva, Yoda dan Belva mendapat tugas di poli umum.
Intership ini berbeda dengan zaman koass, kalau koas mereka dipanggilnya dokter muda atau dek koas. Kalau sekarang mereka resmi di panggil dokter. Bukannya itu menjadi kebanggan tersendiri?
Al dan yang lainnya di hari pertama masih santai, berbeda dengan Tasya dan Angkasa. Bertugas di UGD mereka harus siap sedia karena pasti aja ada yang di rujuk 1 sampai 2 jam sekali.
Seperti sekarang, Tasya sedang menangani pasien yang kehilangan kesadaran karena penurunan tekanan darah. Sebagai dokter umum ini peranan penting untuk tahap pertama menyetabilkan keadaan pasien seperti pemberian an pemasangan infus untuk memenuhi cairan.
Tasya cukup kaget sih sebenarnya, di hari pertamanya intership sudah diberi hal berat. Tapi sepertinya memang tugasnya seperti ini. Untung saja dia orang yang cepat tanggap dan cekatan.
Tasya keluar untuk memberi analisis sementara sembari membuat rujukan untuk rawat inap. Angkasa yang melihat Tasya kebingungan kini menghampirinya. "Kenapa?"
"Gue bingung keadaan pasien gue. Diagnosisnya antara serangan jantung tapi gue yakinnya Diseksi Aorta."
"Hasil pengamatan lu apa?"
"Sesak dada, sakit si bawah perut, kelumpuhan di setengah badan seperti stroke, tekanan darah pasien rendah, pasien kesulitan untuk berbicara, dan pasien dalam keadaan pingsan saat di bawa ke rumah sakit."
"Diseksi Aorta, setelah ini lu Konsul sama dokter senior dan saranin pasien untuk di observasi dokter bedah toraks kardiovaskular."
Tasya tersenyum dan menatap Angkasa senang. "Membantu sekali, terima kasih baby Asa!" Tasya mencubit pipi Angkasa karena merasa tidak ada siapa-siapa, setelah itu dia berlalu begitu saja. Tasya benar-benar anak ajaib.
Jam istirahat sudah tiba, namun sepertinya Tasya masih belum selesai karena memang Angkasa bilang kalau Tasya sangat sibuk. Jadi dengan inisiatif Al memesankan makanan untuk Tasya terlebih dahulu.
"Dia nanganin pasien yang berat-berat gila, gua aja kaget," ucap Angkasa.
"Gapapa, dia mudah belajar. Pasti bisa," jawab Al santai, dia sangat tau kemampuan istrinya dan pasti Tasya bisa melaluinya dengan baik.
Tak selang beberapa lama Tasya berlari menuju ke arah mereka. "Maaaaffff, maaf telat. Tadi diskus dulu sama dokter kandungan." Tasya duduk di samping dan sedikit tersenyum ke arahnya. Tidak enak kalau di rumah sakit tiba-tiba minta pelukan.
"Kenapa? Mau program hamil lo?" Tanya Belva.
__ADS_1
Tasya menggeleng cepat. "Bukaannn itu ada ibu-ibu keguguran, harus segera di operasi. Harusnya gue ikut tapi ada dokter senior yang gak percaya gue bisa, jadi gue gak diajak. Ya udah."
Al mengusap puncak kepala Tasya dengan lembut. "Gapapa, kamu udah hebat. Cape ya?"
Tasya mengangguk. "Hmm, sedikit. Tapi udah gak lagi kok, kan disemangatin kamu."
Ini bukan pertama kalinya mereka merasa menjadi nyamuk ditengah Tasya dan Al. Mereka jadi biasa saja dan memutar bola matanya malas. Mereka jadi merasa jomblo pasalnya.
"Beda ya, kalau udah punya suami disemangatin suami, pulang juga bisa cuddle, lah kita?" Celetuk Monik.
"Makanya cari suami," balas Tasya sambil terkekeh.
"Ngomong sih gampang, carinya susah. Mentang-mentang udah nikah lu berdua," cibir Yoda.
Mereka tertawa, ya menurut Tasya senang saja menjahili mereka seperti ini. Padahal mereka mau menikah ya tinggal menikah karena sebenarnya memiliki pasangan juga, hanya kesiapannya saja yang belum terkumpul.
.
.
.
Tasya mengerti sih, apalagi dia tau dari Belva kalau mereka tak kalah sibuk. Sepertinya besok memang harus memikirkan untuk membawa kendaraan masing-masing. Jadi kalau begitu tidak usah saling menunggu. Lagi pula di rumah juga ada 2 mobil yang bisa mereka pakai.
Tasya tadi mau menunggu, tapi Al bilang kalau dia pulang duluan saja karena akan lama. Jadi Al meminta Angkasa untuk mengantarkan Tasya pulang.
"Makasih Baby Asa, jadi makin ganteng karena anterin gue," ucap Tasya sembari mengulurkan helm pada Angkasa.
"Bener-bener minta gua ceburin ya lu, Bocil," ketus Angkasa yang memang kesal jika Tasya mulai alay dengan memanggilnya dengan sebutan 'Baby Asa' menggelikan sekali menurutnya.
"Jutek banget Baby Asa padahal gue lagi mencoba ramah dan tidak memulai pertengkaran antara kita berdua," balas Tasya.
"Lu begini aja mulai pertengkaran, Sya."
__ADS_1
Tasya terkekeh, pokoknya sampai kapan pun dia tidak akan berhenti menjadi pengganggu dalam hidup Angkasa. Tapi melihat Tasya kasian juga, dia di rumah pasti sendirian. Apalagi Tasya sudah dia anggap sebagai adiknya sendiri, ada rasa cemas ketika harus meninggalkan Tasya seorang diri di sini.
"Ini lu gapapa di rumah sendirian? Itu si Al bisa sampe malem banget, berani?" Tanya Angkasa tak yakin.
"Berani lah, tenang aja. Gue kan jadi bisa siapin kebutuhan Al kalau pulang nanti. Gue juga jadi bisa istirahat dulu, gue bukan bocil lagi elah," ucap Tasya sambil cemberut.
"Tetep aja. Yaudah lu hati-hati di rumah, kalau ada yang nawarin permen jangan ikut, nanti dijual," goda Angkasa sembari mengacak rambut Tasya dan pergi dari pekarangan rumah itu.
"ASAAA!!!" Setelahnya Tasya terkekeh, memang ada-ada saja kelakuan Angkasa yang membuatnya kesal. Memang mereka musuh bebuyutan.
Tasya memasuki rumah, hal yang dia lakukan pertama kali adalah memasak. Pulang nanti pasti Al akan lapar, kerena Al tidak biasa makan di luar jika tanpa Tasya.
Ya seperti biasa, di saat seperti ini youtube dan buku resep sangat berguna untuk Tasya. Dia suka belajar, makanya dia suka memasak akhir-akhir ini. Pokoknya dia akan membiasakan diri untuk memasak agar nanti sejago Ibu mertuanya dan membuatnya senang.
Setelah selesai masak, barulah dia membersihkan diri dan berdandan sedikit agar terlihat fresh. Dia sering melihat di drama Korea kalau istri menyambut suaminya mereka akan selalu terlihat cantik dan membuat suaminya menjadi betah di rumah. Memang konyol sebenarnya, tapi tidak ada salahnya juga.
Jam menunjukkan pukul 7 malam, sambil menonton drama Korea, Tasya mengecek ponselnya beberapa kali, berharap kalau Al menghubunginya, namun masih belum ada tanda-tanda. Ternyata membosankan juga menunggu seperti ini sendirian.
Sebua notif pesan muncul di ponsel. Tertera Al di sana, Tasya yang semangat langsung saja membuka pesan dari Al.
Mas ❤️ : Sayang aku sebentar lagi pulang
Mas ❤️ : Baik-baik aja kan di rumah?
Mas ❤️ : Aku langsung pulang nanti, jangan nangis aku tinggal lembur
Mas ❤️ : Jangan overthinking
Mas ❤️ : I love you
Mas ❤️ : And i really do ❤️❤️
Tasya tersenyum melihat pesan yang Al berikan, ya memang kabar seperti ini sangat dia butuhkan. Sesingkat apapun dia jadi merasa lega kalau suaminya baik-baik saja. Dan Tasya jadi senyum-senyum sendiri sih. Lihat saja betapa manis suaminya itu, bikin tergila-gila kan jadinya Tasya pada Al.
__ADS_1
Tasya mengetikkan beberapa kalimat di sana, setelah itu dia mengirimkannya pada Al agar dia juga semangat dan cepat mengerjakan pekerjaannya.