My Perfect Bestie, No! Husband!

My Perfect Bestie, No! Husband!
Gaji Pertama


__ADS_3


Tasya menggeliat saat matanya terbuka, ternyata hari sudah pagi. Matanya menatap ke arah Al yang kini duduk di sampingnya. Karena masih mengantuk Tasya malah memeluk Al dan kembali tertidur.


Gemas sekali melihatnya, seperti kucing betina yang sedang bermalas-malasan. Al terkekeh melihat istrinya yang memang susah untuk bangun. Perlahan dia mengecup bibir Tasya dengan lembut. "Bangun, Sayang. Udah pagi ini, gak mau sarapan?"


"Eunghh aku masih ngantukk, Mas," keluh Tasya yang semakin mengeratkan pelukannya pada Al.


"Padahal aku mau ajak jalan-jalan hari ini, tapi ya udah kalau gak mau," gumam Al yang sontak membuat Tasya terkesiap.


"MAUU!!" Ucapnya antusias seraya menatap Al penuh harap. Mereka memang sudah jarang sekali jalan-jalan karena kesibukan selama intership.


"Makanyanya bangun dulu, Cantik." Al membawa Tasya dalam dekapannya, dia suka sekali wangi khas bangun tidur dari tubuh Tasya. Membuat rileks pikiran kalau menurutnya.


"Katanya mau ajak jalan-jalan, sekarang malah kaya nyuruh aku tidur lagi. Dipeluk kaya gini malah ngantuk tau!" Protesnya.


"Sebentar, aku mau ngomong dulu."


Seketika Tasya langsung memusatkan pandangan pada suaminya. Sepertinya sudah menjadi kebiasaan kalau bicara soal rumah tangga itu selalu Al lakukan setiap pagi. Padahal menurut Tasya semuanya enak dibicarakan saat malam hari.


"Kenapa, Mas?"


Al mengambil amplop dari balik bantalnya dan menyerahkan itu pada Tasya. Matanya memicing, untuk apa Al memberikan amplop padanya? Amplop rumah sakit lagi. "Ini apa?"


Karena penasaran tangannya tergerak membuka amplop itu dan melihat uang yang cukup banyak dari sana. "Ini kan gajihan dari kemenkes kan? Terus kenapa di kasih ke aku?"


Pertanyaan Tasya membuat Al terkekeh, tentu saja Al akan memberikannya pada Tasya. Kemarin kan mereka hanya mengandalkan uang tabungan untuk membangun rumah tangga mereka. Sekarang berbeda, Al sudah memiliki gaji. Tentu itu sebagai bentuk nafkahnya pada Tasya. "Lucu banget istri kaya kamu, polos. Itu gaji aku ya kamu ambil, aku harus menafkahi kamu dan sekarang aku punya gaji."


Bukannya mengiyakan Tasya justru tertawa sekarang. "Oh iyaa, makasih suamiii." Tasya menciumi pipi Al karena senang, bukan karena uangnya, tapi ya senang saja diberi nafkah dari hasil kerja keras Al dan Al malah memberikannya pada Tasya.

__ADS_1


"Aduh aduh, ini aku diterjang nih pagi-pagi?" Kata Al tertawa.


"Ya habis kamu bikin aku salting, gatau aku salting aja. Meskipun emang kewajiban kamu, tapi aku seneng," ucap Tasya.


"Tapi uangnya sedikit, belum bisa dipake kamu shopping setiap hari," balas Al.


"Gapapa, lagian aku udah jarang shopping kok. Aku kan juga punya gaji, tapi yang terpenting sekarang itu kita nabung buat masa depan, karena kita kan gak akan selamanya hidup berdua. Nanti kalau kita punya anak jadinya bisa serba mudah."


Tidak percaya, omongan seperti itu bisa terlontar dari wanita bernama Tasya Aurell. Anak manja yang selalu dipenuhi keinginannya dari sejak kecil. Al merasa bangga saja bisa melihat Tasya yang berada di versi sekarang. Ternyata melihat proses tumbuh kedewasaan istrinya sangat menyenangkan. Selalu ada hal mengejutkan setiap harinya dari Tasya.


"Ini beneran Tasya Aurell anaknya Papa Jonathan dan adiknya Abang Raditya Putra, kan?" Tanya Al seraya menangkup pipi Tasya dan menatapnya dengan lamat.


"Ya bener ihhhh!!! Kenapa sihh emangnya?" Tanya Tasya.


"Gapapa, jadi lebih dewasa aja soalnya. Jadi aku gak percaya," ledek Al.


"Ishhh, kan aku bukan anak kecil lagi. Aku udah punya suami, masa nanti kalau kita punya anak, terus anaknya liat mamanya masih kaya bocah?"


.


.


.


Benar saja, hari ini Al mengajaknya belanja ke Mall. Selain membelikannya tas dan dress baru, Al juga mengajak Tasya untuk belanja bulanan, karena ya memang akhir-akhir ini Tasya senang belajar memasak dan Al yang begini membuatnya semakin semangat untuk belajar terus.


Setelah selesai belanja, Al mengajak Tasya untuk mengunjungi Kakaknya. Ya karena Ibu dan Ayahnya sedang di luar kota, jadi Al mengajaknya ke rumah Radit. Kebetulan sekali mereka datang tepat waktu, karena di sana Amara dan Amanda sudah menyiapkan makan siang. Jadi mereka makan siang bersama.


"Gimana inteship kalian? Lancar?" Tanya Amara.

__ADS_1


"Lancar kok, Tan. Cuma ya emang kita sibuk aja, jadi jarang ke sini," ucap Tasya seraya menyuapkan makanan ke mulutnya.


"Susah tuh makannya, harus diingetin dulu baru makan," adu Al.


Tasya mencibir suaminya, memang Al ini pengadu. Sudah pasti setelah ini dia terkena ceramah dari Abang dan tantenya. Padahal Tasya bukan sudah makan, tapi ya dia memang malas saja.


"Gak boleh gitu loh, Sya. Kamu kan punya magh, nanti kalau kambuh gimana?" Ucap Amanda.


Tuh kan sudah Tasya bilang, kalau dia pasti terkena ceramah oleh orang-orang rumah. Iihat saja, akan Tasya balas nanti Al saat di rumah! Al yang mendapat tatapan jahat dari Tasya hanya terkekeh, dia tau kalau istrinya sedang kesal sekarang. Tapi biarkan saja, salah sendiri dia tidak mau mendengarkan Al.


Selesai makan, Tasya langsung menatap Radit yang nampak diam sejak tadi. Apa dia ada masalah ya? "Lo kenapa sih, Bang?"


Radit menghela napasnya, dia tidak tau keputusan dia ini sudah benar atau tidak. Tapi menurut Radit semuanya memang harus didiskusikan dengan Tasya, meskipun dia tau kalau resikonya Tasya akan marah besar.


"Mama udah bebas dari penjara, Dek," ucap Radit.


Tasya terdiam dan tetap menatap Radit tanpa mau berkomentar apapun. Al melirik ke arah Tasya, Radit sudah membicarakan ini memang via telepon, itu kenapa Al sengaja mengajak Tasya ke sini. Melihat ekspresi Tasya yang mendadak berubah Al, tau kalau sekarang Tasya sedang menahan sesuatu. Entah itu marah, kesal atau apapun.


"Abang, mau cari Mama ke Bandung dan bawa mama ke sini," lanjut Radit.


Tasya berdecak, kenapa juga Radit bisa berpikir ke sana. Jelas Tasya tidak akan setuju dan tida akan pernah menyetujuinya. "Gak usah, Bang!"


"Sya, Mama udah mengakui kesalahannya. Lagian mau gimana pun Mama tetep orang tua kita, kita punya kewajiban untuk merawat Mama yang sekarang gak punya siap-siapa," ucap Radit menjelaskan.


"Abang lupa ya waktu kita dibuang gitu aja? Lupa juga siapa yang ngancem aku untuk pergi dari kehidupan dia, lupa siapa yang bikin papa meninggal dan bikin akun menyesal seumur hidup cuma karena kesalah pahaman yang dia buat?"


Radit tidak bisa menjawab, kalau soal itu benar. Tapi Radit berpikir bukan ke sana. Dia tentu masih marah dan benci pada Ibunya. Tapi setelah dipikir dia ini anak tertua, dia harus mempunyai sikap dan tanggung jawab terlebih pada Ibunya yang sudah melahirkannya. Dia juga sudah berdiskusi dengan Amanda dan Amara. Mereka tidak keberatan, tapi memang mereka ingin Radit membicarakan ini dengan Tasya.


"Sya, coba pahami dari sisi agama, sebagai anak-"

__ADS_1


"Sebagai anak harus berbakti kepada orang tuanya apalagi Ibu, tapi aku tanya sekarang sama Abang. Apa Ibu yang membuat anaknya gila masih pantas disebut ibu?"


Tasya beranjak dari tempatnya, setelah itu dia berlari ke atas menuju kamarnya di rumah ini. Terserah Radit akan semarah apa tapi keputusannya kali ini membuat Tasya emosi, dia benar-benar kecewa dengan Radit. Katakan dia kekanak-kanakan, tapi untuk pulih dari trauma masa lalunya itu tidak semudah membalikkan telapak tangan.


__ADS_2