
Saat mendengar suara mobil dari luar, Tasya segera berlari dan menyambut suaminya di depan pintu. Al yang merasa lelah melihat Tasya yang sudah berdandan seperti itu merasa hilang lelahnya.
Tasya mengambil alih jas putih itu dan membawakan Tas Al. Setelah itu menyalaminya. Al gemas sendiri melihat istrinya seperti ini, jadi dia ciumi saja pipinya. "Mas belum mandi ih, bau."
"Bau? Padahal kata kamu aku selu wangi kapan pun," ucap Al meledek.
"Ohiya." Tasya menyengir kuda, dia pernah bilang begitu memang. Karena ya Al selalu wangi dan wangi maskulinnya itu menenangkan menurut Tasya. Dia hanya meledek saja tadi, tapi Al malah meledeknya balik.
"Kamu mandi dulu gih, udah aku siapin bajunya. Nanti setelah itu kita makan malam," kata Tasya.
Al mengangguk, Tasya membantu melepaskan kemeja Al. Setelah Al masuk ke kamar mandi dia menaruhnya di keranjang. Baru kali ini dia merasakan benar-benar menjadi seorang Ibu rumah tangga. Karena saat mereka menjadi pengangguran ya semuanya dikerjakan bersama. Ada kepuasan tersendiri dalam diri Tasya saat melakukannya. Meskipun melelahkan tapi dia jadi bisa belajar banyak hal untuk masa depannya dengan Al.
Setelah selesai di kamar, Tasya menunggu Al di meja makan. Dia juga menyiapkan makanan dan dua gelas susu, tidak lupa juga dengan suplemen agar imunitas tubuh mereka terjaga karena lelah beraktivitas. Sampai akhirnya Al yang sudah selesai mandi, duduk di samping Tasya.
"Kamu belum makan kan tadi di rumah sakit?" Tanya Tasya.
"Belum, karena aku tau kamu pasti udah sediain di rumah. Mana bisa aku makan di luar tanpa kamu," jawab Al.
Tasya tersenyum, memang benar-benar pengertian suaminya ini. Kalau saja Al tau sekarang tubuhnya dipenuhi kupu-kupu, pasti dia sudah tertawa mengejek karena melihat Tasya yang salah tingkah.
Tasya menyiukkan makanan ke piring Al, dengan telaten pokoknya dia mengurus Al sebaik mungkin, setelah itu baru dia mengalasi untuk dirinya sendiri. Al menyuapkan makanan pada mulutnya. Gadisnya ini memang belajar dengan cepat, pokoknya apapun yang Tasya buat sekarang akan menjadi makanan favoritenya.
"Mas, kerjaan kamu gimana? Cape ya? Kata Belva kamu juga ditugasin jadi dokter ruangan," tanya Tasya disela-sela aktivitasnya.
"Iya, tapi ya kaya visite biasa. Bedanya ini kita periksa lebih detail, kalau dulu kan cuma kaya basic gitu, kamu tuh malah kerjaannya yang lebih berat. Gimana, bisa?" Tanya Al berbalik.
"Bisa sih, cuma kadang aku takut salah aja. Karena kalau di UGD kita kan garda terdepan sebelum pasien masuk ke obsevasi sesuai penyakitnya kan? Kalau salah di awal kasian pasiennya nanti di oper sana sini. Tadi aja aku udah yakin tapi tetep minta bantuan Asa buat cek ulang," jawab Tasya jujur.
"Itu tandanya kamu gak percaya diri sama kemampuan kamu, Sayang. Padahal kamu itu kompeten, jadi jangan takut salah, banyak bertanya, banyak membaca, itu kuncinya. Tapi kamu udah hebat kok." Al mengusap puncak kepala Tasya dengan lembut.
"Makasih loh pujiannya, Dokter Aldo Prayoga," ucap Tasya terkekeh.
"Sama-sama, Dokter Tasya Aurell." Mereka berdua tertawa, ya ternyata enak juga menjadi suami istri dengan profesi yang sama, jadi mereka bisa berbagi.
"Kalau aku jadi istri kamu udah kompeten belum?" Tanya Tasya sembari menatap ke arah Al lagi.
__ADS_1
"Udah, sangat udah kompeten. Apalagi kamu setelaten ini buat urusin aku."
Tasya tersenyum mendengarnya. "I try my best."
.
.
.
Setelah selesai makan, Tasya dan Al kembali ke kamar. Bukannya tidur mereka malam membuka buku masing-masing. Seperti yang Al bilang kalau mereka memang harus banyak belajar.
Untuk seorang dokter tidak ada kata setelah lulus berhenti belajar, justru setelah lulus mereka harus lebih banyak belajar karena turun tangan langsung dan mempraktekannya juga secara langsung. Mereka juga harus menguasai teorinya.
"Mas besok aku bawa mobil sendiri aja ya," ucap Tasya tiba-tiba.
"Kenapa hm?" Tanya Al berbalik.
"Ya kalau misalnya salah satunya harus pulang malam jadi gak usah ngerepotin orang lain minta anter kaya tadi, Mas. Tapi kalau gak boleh gapapa, aku nurut sih gimana kamu aja," kata Tasya.
"Boleh, bener juga. Gak enak kalau nyusahin orang lain," jawab Al sambil mengangguk.
Tapi dia memilih mengabaikannya. Al menatap ke arah Tasya bingung. "Kenapa gak diangkat?"
"Aku gak tau Viko mau ngapain, tapi aku gak mau berurusan sama dia lebih dalam deh."
Al lega sih mendengarnya, lagi pula memang akhir-akhir ini mantan Tasya itu selalu mencoba menghubungi Tasya, sekali diangkat ya tidak apa-apa karena menurutnya siapa tau penting. Tapi makin kesini semakin tidak jelas.
Bukannya apa-apa, Al takut jika Viko berbuat nekad lagi seperti saat pertunangannya dulu yang mencoba melecehkan Tasya. Benar-benar di luar dugaan sekali karena dulu mereka memang dekat dan mengenal satu sama lain.
"Yaudah lanjut belajar," ucap Al tersenyum tipis.
Tasya memahami Al kalau dia cemburu, apalagi Viko masih menunjukkan ketertarikannya pada Tasya. Perlahan Tasya memeluk Al yang sedang membaca dari belakang.
"Suamiku cemburu engga?" Tanya Tasya lembut.
"Cemburu, kalau cemburu mau apa emangnya?" Tanya Al berbalik.
__ADS_1
Sebenarnya dia tidak cemburu sih, maksudnya kan Tasya juga tidak meladeninya. Tapi dia senang saja jika istrinya merayunya seperti ini. Menyenangkan menurut Al.
"Aku gak ladenin kok, itu tadi dia nanya aku intership di mana biar sekalian bisa makan siang like a friend. Aku bilang gak usah karena aku juga sibuk. Gitu, Mas."
"Like mantan, ralat Al."
"Mass ihhh jangan marah, aku gak mau dimarahin kamu."
Al tetap diam menikmati bujukan dari Tasya. Pantas saja Tasya suka marah, teryata seenak ini ya rasanya dibujuk? Baik akan Al pergunakan kesempatan ini.
"Masss." Tasya mengubah posisinya menjadi duduk di pangkuan Al. Dia juga menciumi pipi suaminya tidak ada ayang terlewat.
"Hm?"
"Jangan hm aja ihh??!!" Kesal Tasya.
"Apa, Sya?" Tanya Al meralat.
"Ihhh ga like lah, Sya Sya. Aku istri kamu bukan temen kamu lagi!" Sungut gadis itu.
"Ya terus harus gimana?"
"Apa, Sayang, Baby, apa kek gitu yang suka kamu bilang ke aku akhir-akhir ini. Jangan Sya Sya gitu," protes Tasya.
"Ya udah, apa Sayangku?"
Tasya tersipu mendengarnya, dia mengecup bibir Al dengan lembut. "Jangan marah ya?"
Al yang tidak menjawab membuat Tasya mengerucutkan bibirnya. Entah keberanian dari mana Tasya mendekatkan bibirnya pada Al, setelah itu mencium bibirnya dengan lembur. Perlahan dia menyesap bibir bawah Al dan mengajaknya bermain.
Al tersenyum dan memeluk pinggang Tasya, setelah itu dia membalas ciuman Tasya dan saling menyesap. Suara kecipak basah itu memenuhi ruangan. Mereka yang sama-sama dikukung aktivitas kini saling melepas penat dengan aktivitas nakal ini.
Cukup lama mereka bermain, perlahan Tasya melepaskan ciumannya dan menatap Al. Dia tersenyum, tidak menyangka juga sih kalau dia berani, karena Tasya kan si ratu gengsi. Al tertawa melihat pipi Tasya yang sudah memerah menahan malu.
"Kenapa pipinya merah, Sayang? Oh udah mulai nakal ya sekarang?" Goda Al yang membuat pipi Tasya semakin memerah.
Tasya membenamkan wajahnya di dada Al. "DIEMM AKU MALU!"
__ADS_1
Al tertawa melihatnya, entah malu kenapa. Padahal Al sudah melihat dan merasakannya semua, tapi tetap saja gadis kecilnya ini banyak malu. Memang-memang gadis polos ini menggemaskan.