
Tasya berdandan di depan cermin entah kenapa Al menyuruhnya memakai dress seperti ini. Padahal biasanya dia meminta kalau bagian atasnya tidak boleh terlalu terbuka. Tapi, karena Al yang meminta oke akan dia lakukan.
Rambutnya hanya ditata rapi dengan gaya simple bun. Tidak lupa juga dia memakai aksesoris dan juga perhiasan. Pokoknya dia akan berdandan secantik mungkin untuk suaminya. Sebagai penutup, Tasya menyemprotkan parfum ke titik-titik nadi agar wanginya awet.
Al yang baru masuk ke dalam kamar dibuat terpaku sih dengan penampilan Tasya, dia terlihat dewasa menggunakan long dress berwarna hitam seperti itu, Al sangat suka warnanya. Karena saling melengkapi dengan tubuh Tasya.
Dengan lembut Al memeluk Tasya dari belakang dan menciumi ceruk lehernya, membuat Tasya sedikit menggeram karena ya memang geli jika Al memperlakukannya seperti itu.
"Gak usah jadi makan malam ya? Aku jadi mau makan kamu," ucap Al jujur.
Tasya memajukan bibirnya, bagaimana bisa Al membatalkan rencana makan malam ini. Padahal Tasya sudah berdandan secantik mungkin untuk menyenangkan suaminya, kan kecewa kalau sampai tidak jadi. "Pemberi harapan palsu!"
Mendengar itu Al terkekeh, sudah mulai merajuk kan. Gemas sekali. "Iya-iya jadi, jangan ngambek. Nanti suasananya jadi gak romantis."
Suka sekali memang Al romantis-romantisan setelah menikah, tapi sebenarnya mereka ini satu aliran. Mereka lebih suka hubungan yang romantis tapi humoris. Karena kebanyakan bercanda juga tidak akan baik. Tapi semuanya kembali lagi pada persepsi masing-masing memang.
Al mengulurkan tangannya, dengan senang hati Tasya menerimanya. Namun, saat keluar kamar, alih-alih keluar dari rumah Al malah mengajak Tasya ke lantai dua. "Loh, kok ke atas?" Tanya Tasya.
"Emang ada bilang kalau makan malam di luar?"
__ADS_1
Tasya mengerutkan keningnya, pasalnya seharian Al bersamanya. Kok bisa dia menyiapkan makan malam di lantai dua. Apalagi saat sampai di atas dia diajak masuk ke kamar yang sudah dihias seromantis mungkin. Di sana juga sudah ada meja makan yang sudah siap dengan berbagai makanan.
"Mas ... Kapan kamu siapin ini buat aku?" Tanya Tasya.
Al tidak menjawab, dia tidak akan memberitahu Tasya. Ini cukup menjadi rahasianya yang meminta bantuan Angkasa dan Yoda waktu mereka sedang berada di rumah orang tuanya. Dan untuk penambahan lainnya tadi dia siapkan saat Tasya sedang mandi dan bersiap-siap. Mudah kan?
Al menarik kursi untuk Tasya, setelah itu dia duduk di hadapan gadis itu seraya tersenyum penuh arti. Berharap kalau Tasya menyukainya meskipun tidak di luar rumah. "Kamu suka?"
Tentu suka, Tasya suka sekali dengan kejutan dan ini kejutan di luar ekspetasinya. Memang siapa sangka, lantai dua yang jarang mereka tempati ini di sulap menjadi sebuah kamar seperti di hotel mewah. Apalagi dengan jendela yang dibuka menampakkan pemandangan indah dari lampu-lampu rumah di bawah sana. Sangat indah sekali malam ini. "Aku suka. Tapi kenapa harus di kamar?"
"Pingin aja biar beda." Al menuangkan red wine ke gelasnya dan juga Tasya. Mereka jarang minum sih tapi ya untuk menambah suasana romantis saja.
Sengaja juga Al memang memilih di dalam kamar, jadi kalau mereka ingin melakukan apa-apa ya tinggal langsung gas saja tanpa perlu berpikir harus melakukannya di mana. Memang itu sih tujuannya. Tapi Tasya untuk ini juga tidak perlu tau.
Al menggeleng, bukan aneh. Lebih tepatnya dia terpesona saja dengan dandanan Tasya yang seperti ini. Dia mengizinkan memakai gaun itu karena untuk dinikmatinya sendiri. "Kamu cantik banget, aku jadi semakin beruntung punya kamu."
"Aku juga cantik karena kamu suport aku, dari finansial atau batinnya. Jadi aku juga harus berterima kasih untuk itu. Karena.
Benar, kan? Di balik suami yang sukses ada istri hebat di belakangnya dan di balik istri yang cantik, pasti ada suami yang mensuport serta menunjang baik kebutuhannya. Jadi Al hanya terkekeh saja dengan jawaban bijak Tasya.
Setelah selesai menghabiskan makan malam, Al menggenggam tangan Tasya dengan lembut. "Aku punya hadiah lagi buat kamu."
__ADS_1
"Hadiah apa? Emang aku ngelakuin apa sampai kamu kasih aku hadiah?" Tanya Tasya heran. Lagi-lagi Al memberinya hadiah padahal dia tidak melakukan apapun atau tidak merasa melakukan hal yang waw.
"Karena kamu udah jadi istri yang baik dan bisa mengerjakan apapun dengan hebat. Kamu istri aku yang hebat," puji Al.
"Mas, itu udah tugas aku. Ga perlu berlebihan! Aku ngejalaninnya karena kewajiban, jadi aku rasa kamu gak perlu mengapresiasi setiap hal. Apalagi karena kewajiban."
"Aku emang mau kasih kamu hadiah, karena buat aku itu bukan hal yang mudah. Apalagi kamu yang memang belajar dari nol, aku aja kaget dengan semua perubahan kamu sampai hari ini. Jadi biarkan aku apresiasi semua usaha kamu dan sekarang tutup mata kamu, Cantik," Perintah Al.
Tasya menghela napas, baik mungkin dia harus menurut. Lagi pula dia juga harus mengapresiasi dan menghargai apa yang suaminya berikan. Jadi dia mengikuti alur malam ini saja. Al melihat itu tersenyum, lalu dia berjalan ke sofa untuk mengambil sebuah kotak dari paper bag.
Setelah itu dia menaruh box itu di hadapan Tasya dan mengistruksinya membuka mata. Dari boxnya dia kenal! Tapi ini terlalu mewah saja baginya, apalagi saat dia membuka isinya dan ternyata adalah tas koleksi terbaru dari brand ternama. Ini pasti sangat sulit untuk masuk di Indonesia, belum lagi dia tau ini pasti harganya selangit. Ini tas yang pernah sempat menjadi incarannya.
Belum lagi, Tasya mendapatkan tanda tangan artis brand ambassador Tas ini. Artis yang juga menjadi idolanya. Pasti Al memperjuangkannya dengan sulit, Tasya tau itu. Ahh dia tidak tau bagaimana mengungkapkan kebahagiannya sekarang.
"Mas ... Ini Tasya yang aku pingin. Kenapa bisaa, aahhh Mass!!!" Tasya terharu, dia berdiri dan langsung memeluk suaminya dengan erat. Dia tidak menyangka Al sampai rela membelikan ini untuknya, tidak menyangka kalau Al setau itu tentang apa yang dia inginkan.
"Hahahaha kenapa-kenapa, Sayang? Suka hadiahnya gak?" Tanya Al seraya membalas pelukan Tasya. Dia juga menyamankan posisi agar Tasya duduk di menyamping di pangkuannya.
"Sukaa, aku suka banget. Aku sampe gak bisa berkata-kata. I love you soo much!" Ucap Tasya seraya mencium pipi suaminya dengan lembut. Dia sangat senang malam ini mendapatkan hadiah dari Al dan disiapkan makan malam romantis seperti ini.
"Apapun yang kamu mau pasti akan aku penuhi, karena aku sayang kamu." Al mencium punggung tangan Tasya dengan lembut. Menciuminya sampai beberapa kali sampai membuat gadis itu tersipu.
__ADS_1
Akan sangat tidak bersyukur kalau Tasya merasa tidak beruntung memiliki suami seperti Al. Dia sangat bersyukur, dia sangat mencintai suaminya. "My perfect bestie." Tasya mencium bibir Al dengan lembut lalu kembali menatap Al dengan penuh cinta. "Ohh Nonono, My perfect husband!" Tasya kembali memeluk Al dan menciumi bibir suaminya itu.
Membuat Al salah tingkah sebenarnya, tapi dia senang. Berartu misinya malam ini membuat Tasya bahagia sukses. "You are my perfect wife, Baby," balas Al dengan senyum terbaiknya.