My Perfect Bestie, No! Husband!

My Perfect Bestie, No! Husband!
Parfum Baru, Suasana Baru


__ADS_3


Angkasa menatap Tasya yang nampak sedang banyak pikiran. Dia tau sih apa saja yang menjadi pikiran Tasya. Al memang sering berbagi apapun, apalagi kalau mengenai kondisi Tasya. Karena ya mereka berteman, jadi apapun keadaannya mereka harus saling pikul..


Gadis itu nampak murung, belum lagi memang kurang tidur. Dia jadi khawatir juga kalau Tasya down. Heran saja, dari semenjak mereka remaja, sampai sekarang sudah dewasa kenapa Tasya selalu di hadapkan dengan hal-hal yang berat. Untung saja dia memang kuat.


"Kenapa?" Tanya Angkasa seraya mendudukkan dirinya di hadapan Tasya.


Tasya menghela napas seraya membenarkan posisi duduknya. Sekarang memang tidak ada tugas sih, jadi mereka bisa bersantai sejenak dan mengobrol seperti ini. Rasa-rasanya memang ada sesuatu yang tidak bisa dibagi dengan Al tapi bisa dia bagi dengan teman-temannya. Tapi wajar kan? Manusia kan memang begitu.


"Menurut lo kalau gua curiga sama Viko apa gue salah ya? Maksudnya itu gue tau dia mau berteman tapi gue ngerasa sikapnya aneh tau gak?"


"Aneh gimana?" Tanya Angkasa.


"Gue gak bilang ini sama Al, gue gak mau dia jadi emosi atau nimbulin perselisihan. Makanya gue bicara sama lo dulu karena gue ga tau harus gimana."


"Iya apa?" Tanya Angkasa yang berusaha mengerti dengan posisi Tasya dan memfokuskan dirinya untuk menjadi pendengar yang baik untuk gadis itu.


"Semalem Viko nanya gue bahagia gak sama Al. Tentu gue jawab iya. Tapi kan posisi gue berdiri di hadapan dia yang duduk di brankar. Dia natap gue gitu, meskipun gue berusaha ga tatap matanya tapi gue tau tatapan dia itu gimana."


"Gimana?"


Tatapan Viko menurut Tasya seperti dulu. Seperti saat mereka bersama, seperti saat Viko mengejarnya dulu, tatapan yang pernah Tasya suka karena memancarkan perasaan yang sangat dalam. Tapi kali ini rasanya berbeda, dia tidak senang. Dia takut, belum lagi teringat dengan masalah pelecehan malam itu. Meskipun tidak terjadi apapun tapi itu membekas di pikiran Tasya sampai saat ini.


Tasya juga menjelaskan bagaimana perasaannya sekarang, tentang bagaimana perasaan takut, cemas dan suara-suara yang kembali hadir dalam pikirannya membuat dia kadang sulit berkonsentrasi, meskipun tidak sering tapi itu cukup membuat kepalanya sakit.


"Udah-udah, gua paham. Lu jangan berpikir terlalu jauh. Tenang gua bakalan bantu lu jauh dari Viko. Lu mending sekarang minum obat, setelah itu cuci muka. Jangan dengerin suara-suara yang gak penting itu. Lu lebih kuat dari mereka yang terus berteriak di dalam pikiran lu. Inget itu, Sya. Jangan pendam apapun sendiri. Kalau lu gak bisa bilang ke Al, ada gua, Ada yang lainnya."

__ADS_1


Tasya mengangguk, kalau soal skizofrenia nya dia sedikit bisa mengontrol dirinya sendiri. Angkasa benar, yang dia butuhkan sekarang adalah kekuatan dalam dirinya dan untuk itu dia tidak boleh memikirkan hal-hal yang tidak penting. Dia harus berusaha melawan mentalnya sendiri.


.


.


.


Memang tidak salah sih kalau Al meminta mereka untuk menunda mempunyai anak,nyatanya baru intership seperti ini saja mereka sudah sibuk sekali. Belum lagi kalau mereka ada jadwal malam. Pasti mereka akan lebih banyak menghabiskan waktu di rumah sakit. Setelah beristirahat sebentar, kini Tasya sedang menyiapkan makan malam untuk mereka berdua.


Seperti biasa, kalau Tasya sedang memasak itu menurut Al ada euforianya sendiri. Senang saja melihatnya, apalagi jika pikirannya sedang random dia pasti akan membayangkan posisi mereka seperti itu sembari direcoki oleh anak-anak mereka kelak. Perlahan Al memeluk Tasya dari belakang, di saat-saat banyak pikiran dan rutinitas seperti ini rasanya memeluk Tasya dapat membuatnya jauh lebih tenang. Tasya juga tidak masalah sih, maksudnya dia juga menikmati kalau Al sedang bermanja-maja seperti ini.


"Besok kamu ada jadwal jaga malam, Mas?" Tanya Tasya sembari mengarahkan wajahnya pada Al.


"Gak ada, besok pergi pagi. Paling Jumat aku jaga malam. Kamu gak apa-apa di rumah sendirian?" Tanya Al berbalik.


"Iya nanti aku langsung pulang."


Tasya tersenyum, setelah makanan sudah siap mereka langsung pindah ke meja makan untuk makan malam. Rasanya moment seperti ini sudah menjadi kebiasaan yang wajib mereka lakukan, menikmati hasil usaha Tasya yang kian membaik, menceritakan tentang hari ini, dan bertukar canda tawa.


Selesai dengan makan malam, mereka berdua kini menghabiskan waktu dengan menonton drama korea kesukaan Tasya. Meskipun tidak suka, tapi kalau berhubungan dengan Tasya pasti akan Al lakukan kok. Apa sih yang tidak dia lakukan demi orang yang sangat dia cintai.


Tiba-tiba tangannya terulur ke arah Tasya, memberikan sebuah kotak kecil yang membuat Tasya menyerngit kebingungan. Dalam rangka apa nih Al memberinya hadiah? "Ini apa? Aku gak ulang tahun."


"Emang kalau mau kasih kamu hadiah harus ada rangka apanya dulu hm?" Tanya Al seraya mengusap pipi istrinya dengan lembut.


"Ya gak ada sih cuma kan heran aja gitu, padahal kamu gak perlu repot-repot kaya gini. Karena kamu di samping aku aja itu udah jauh lebih cukup."

__ADS_1


"Paling bisa emang ya gombalin suaminya? Tapi yang ini harus kamu terima, Sayang. Walaupun aku gak tau kamu suka atau gak. Buka aja dulu."


Karena memang penasaran dan menghargai pemberian suaminya, jadi Tasya menerimanya dengan senang hati. Ternyata itu adalah sebuah parfum. Terlihat lebih mahal sih, tapi memangnya Al tidak menyukai parfumnya yang sekarang ya? Padahal kemarin Al melarangnya untuk mengganti parfum.


"Parfum?" Tanya Tasya seraya menatap suaminya.


"Iya, coba. Kamu suka gak wanginya?"


Tasya mengangguk pelan lalu menyemprotkan parfum pada pergelangan tangannya. Aroma rose yang tidak terlaku menyengat dan soft membuat senyuman terukir di bibir Tasya. Memang Tasya selain menyukai yang simpel, dia juga menyukai parfum yang beraroma lembut dan tidak menyengat dan ini wanginya enak.


"Suka?" Tanya Al.


"Aku suka banget, Mas. Aku belum pake parfum ini sih, tapi kenapa kamu beliin aku parfum. Aku gak wangi lagi ya? Atau aku bau? Atau aku-"


Cup ...


Dengan lembut Al mengecup bibir Tasya singkat lalu terkekeh. Banyak sekali pertanyaan dari bibir Tasya. Dia mulai overthinking karena dibelikan parfum olehnya. Lucu kan?


"Mass??!"


"Gak bau, kamu wangi. Selalu wangi malah, cuma mau suasana baru aja. Aku tadi keluar sama dokter Adrian, ada keperluan. Ada tempat parfum yang mewah banget, karena aku inget kamu jadi aku beliin satu," ucap Al mencari Alasan yang tepat. Karena tidak mungkin kan Al bilang dia meminta Tasya mengganti parfum karena perkataan Viko?


"Kenapa sih manis banget? Makasih ya, Sayang. Aku suka banget, nanti aku pake ini kalau kamu juga suka." Tasya memeluk Al dengan erat seraya menciumi pipi suaminya, tidak ada yang terlewat. Dia senang sekali tentunya, apalagi Al memang sengaja membelikannya.


"Iya dipakai ya?" Al membalas pelukan Tasya.


Ya tidak apa-apa kali ya kalau dia sedikit berbohong? Lagi pula ini demi kebaikan Tasya, dia sudah banyak pikiran, Al tidak mau kalau sampai Tasya kepikiran karena dia ceritakan perseteruannya kemarin dengan Viko takutnya Tasya juga drop. Yang terpenting Tasya suka dan tidak memaksanya, itu sudah aman untuk Al.

__ADS_1


__ADS_2