My Perfect Bestie, No! Husband!

My Perfect Bestie, No! Husband!
Deeptalk


__ADS_3


Setelah Al izin untuk menemui Zea, tidak lama setelah itu Tasya menyusul keluar kamar. Terlihat pintu balkon terbuka, dengan meyakinkan diri Tasya menghampiri Fadil yang sedang merokok di luar sana.


Dia sedikit ragu sih, tapi dia yang menyarankan ini pada Al. Jadi dia harus memberanikan diri, cukup lama juga dia dan Fadil saling terdiam semenjak Tasya marah saat di rumah sakit.


Tasya perlahan duduk di kursi yang bersampingan dengan kursi Fadil, namun terhalang 1 meja. Fadil menatap ke arah Tasya. "Ada apa, Sya?"


"Sekarang kakak perokok aktif? Padahal kakak seorang dokter, harusnya lebih paham dengan kesehatan sendiri," ucap Tasya memulai pembicaraan.


"Saya merokok kalau memang sedang ingin, bagaimana pun saya pria dewasa yang membutuhkan pelarian dalam hal apapun," jawabnya jujur.


"Berantem sama kak Zea?"


"Kapan kami tidak bertengkar?"


"Aku jadi salah satu alasannya kah?"


Fadil terdiam, apa pertengkarannya dengan Zea terdengar sampai ke telinga Tasya? Tapi tidak mungkin tidak terdengar, kamar mereka berdekatan.


"Bukan kamu yang salah, saya yang salah."


Tasya menghela napasnya, meskipun di tidak salah tapi tetap saja dia menjadi alasan sebuah pertengkaran dan Tasya menjadi tidak enak. Bukan soal siapa yang salah dan benar tapi perasaannya yang salah.


"Sampai kapan Kakak mau menaruh perasaan sama aku? 2 Tahun, Kak. Apa yang kamu harapkan dari perasaan kamu sama aku? Apa waktu selama itu gak cukup buat kamu berpaling dari aku?" Kali ini Tasya memberanikan diri untuk menatap Fadil.


Fadil melirik ke arah Tasya tanpa mematikan rokokya. "Sampai saya mau melupakannya."


"Tanpa sadar pemikiran Kakak yang kaya gitu nyakitin istri Kakak sendiri. Aku tau kalian menikah tanpa cinta, tapi kakak pernah janji sama aku kalau akan menjaga kak Zea dan gak akan buat dia terluka, tapi ini apa?"

__ADS_1


"Dia tidak terluka, Tasya. Kami punya komitmen, ka-"


"Kak Zea mencintai kamu, Kak. Kamu gak sadar soal itu? Mana ada sih orang yang tinggal bareng selama itu tapi gak memiliki perasaan sama sekali?"


"Ada dan itu saya."


"Kamu cuma terobsesi sama aku, Kak. Kalau kamu belajar buat mencintai kak Zea kamu pasti bisa. Tapi kamu gak ada kemauan dan tetap sama pendirian kamu sendiri."


"Aku mau kita jalanin hubungan kaya Adik dan Kakak ipar seperti biasanya. Aku mau kalian bahagia juga, aku mau kalian punya kepastian buat diri kalian sendiri. Kalian udah sama-sama dewasa, tolong bersikaplah selayaknya orang dewasa," lanjut Tasya.


Fadil terdiam, bagaimana perasaannya tidak sakit saat orang yang dia cintai malah ingin dia melupakannya berkali-kali. Bahkan kali ini rasanya jauh lebih sakit. Padahal sudah banyak perempuan yang dia jadikan pelampiasan tapi kenapa melupakan seorang Tasya rasanya begitu sulit?


"Kamu bahagia dengan Al?" Tanya Fadil.


"Sangat, aku bahagia sama dia. Jadi aku mau kamu juga bahagia sama Kak Zea, Kak. Setidaknya kamu bertidak. Mau lanjut ya kamu lanjutkan dengan semestinya, kalau kamu gak bisa tolong akhiri permainan kamu sekarang juga."


"Saya tidak mempermainkan Zea, Tasya."


Lagi-lagi Fadil terdiam, dia bungkam karena tidak memiliki semua pertanyaan yang Tasya tanyakan padanya. Apa benar Zea mencintainya? Tapi Zea tidak pernah menunjukkan apapun padanya.


"Aku sayang sama kamu, Kak. Sebagain Kakak aku sendiri. Sama kaya bang Radit, begitu juga kamu di mata aku. Jadi aku harap Kakak bisa paham apa yang aku maksud."


"Aku masuk ke dalam, Kak. Paru-paru aku gak kuat hisapnya lama-lama. Jangan sampai setelah menghancurkan perasaan seseorang, kamu menghancurkan diri kamu juga. Pertimbangkan apa yang aku bilang."


Tasya berlalu dan Fadil hanya bisa menatap kepergian Tasya dengan termangu. Gadis itu sudah sangat dewasa sekarang sampai bisa menceramahinya. Ternyata memang sudah selama itu dia mencintai Tasya sampai tidak sadar kalau wanita itu sudah tumbuh dewasa.


Di sisi lain Tasya memasuki kamarnya dan juga Al. Terlihat Al yang sudah berada di sana sembari menatap ponselnya. Tasya duduk di tepi kasur lalu mengambil inhalernya dari dalam laci.


Untuk sejenak dia terdiam menarik napas panjang dan mengadahkan wajahnya. Dengan satu semprotan dia menghisap obat yang masuk ke dalam rongga mulutnya selama sepuluh detik.

__ADS_1


Al yang melihat itu langsung menghampiri istrinya karena sedikit cemas. Pasti karena asap rokok, sudah tau Tasya memiliki asma. Tapi dia kekeh menghampiri Fadil yang sedang merokok.


Tanpa melihat Al dia langsung ke arah wastafel untuk mencuci mulutnya agar sisa-sisa obatnya tidak menempel. Bukan hal yang fatal sebenarnya, tapi Tasya melihat Al khawatir. Dia hanya sesak saja karena menghirup asap. Tidak sampai membuat dadanya sakit.


"Tuh kan bandel," ucap Al pada istrinya yang kini menatap ke arahnya sambil cengengesan.


"Cuma sesak biasa, Mas. Aku gak kenapa-kenapa, cuma pake inhaler juga sembuh," kata Tasya yang kini membaringkan tubuhnya di kasur. Tubuhnya seperti berat sekali karena perjalanan cukup jauh. Jadi dia mencoba merilekskan tubuhnya.


"Tetep aja. Kalau sakit bilang atau mau aku periksa hm?" Al dengan perhatian mengelus lembut puncak kepala Tasya dan menundukkan kepalanya menatap sang istri.


"Ya ampun, Mas. Ini istrinya juga dokter loh, aku jadi paham aku kenapa-kenapa atau engga. Jadi jangan khawatir, aku emang terapi inhaler kan jadi aku bakalan selalu pakai itu," jelas Tasya.


"Ya udah iya, Sayang. Pokoknya harus jaga kesehatan."


Ya benar sih Tasya juga seorang dokter, tapi tetap ada kekhawatiran yang membuat Al merasa harus ekstra menjaga kesehatan istrinya. Apalagi Tasya yang mempunyai asma akut dan juga magh. Belum lagi riwayat skizofrenia pada diri Tasya. Dia tidak boleh berpikir berat yang menyakiti hatinya.


"Gimana kak Zea?" Tanya Tasya yang kini menatap Al dengan tatapan tak bisa diartikan.


"Udah jauh lebih tenang. Aku bilang kalau mereka harus segera punya kepastian untuk hubungan mereka. Kalau gak biar aku yang bilang ini sama ayah bunda."


"Aku rasa kunci hubungan mereka itu ada di kak Fadil deh, Sayang. Karena kan Kak Zea tuh udah jatuh cinta sebenernya sama kak Fadil. Cuma kak Fadilnya aja yang susah."


"Susahlah, jatuh cintanya sama istri aku. Udah cantik, pinter, gemes, tapi sayang cuma punya aku. Aku pemenangnya."


"Idihhh, bisa ya begitu. Tapi ya punya kamu aja, orang nikahnya sama kamu." Tasya terkekeh lalu memeluk kaki suaminya, ahh kalau begini ya dia maunya bermanja-manja dengan Al. Padahal tadi mereka sedang membicarakan Zea dan Fadil.


"Liat aja nanti, kalau gak ada perubahan aku yang turun tangan. Aku juga gak akan biarin Zea ngerasa sakit terus. Aku ada tanggung jawab sebagai adiknya," ucap Al sembari mengelus pipi Tasya dengan lembut. Itu membuat Tasya tersenyum sih, artinya Al tidak melupakan tanggung jawabnya pada Zea dan Tasya suka itu.


Ada ketakutan sebenarnya dalam diri Tasya. Dia takut kalau Fadil semakin terobsesi padanya. Dia tidak mau ada salah paham kedepannya. Sepertinya dengan pindah dari sini memang akan menjadi keputusan terbaik.

__ADS_1


"Ya udah nanti kita bicarain lagi. Sekarang kita tidur aja, kamu pasti cape kan?" Al membenarkan posisinya menjadi tidur.


Dengan perlahan dia menjadikan tangannya sebagai bantalan untuk kepala Tasya dan setelah itu membawa gadis itu ke dalam pelukannya. Di saat kalut seperti memang hanya pelukan dan aroma tubuh Al ya g bisa membuatnya sedikit lebih tenang.


__ADS_2