
Beberapa bulan berlalu, mereka akhirnya beres menyelesaikan intership. Sebenarnya mereka lega sih, karena ya mereka sudah mendapatkan surat izin lalu sekarang bisa bebas melamar atau membuka praktik sendiri.
Malam ini itu merayakan keberhasilan mereka, Tasya dan Al mengajak teman-temannya untuk menginap dan membuat acara di rumah. Hal yang lumrah diadakan untuk ya melepas penat. Hal seperti ini sering mereka adakan untuk mempererat persahabatan mereka juga.
"Arka mau ke sini, besok," ucap Monik.
Mata mereka membulat, tidak salahkan Monik yang membicarakan? Secara Arka adalah teman Tasya, kenapa justru Monik yang lebih tau soal ini? Aneh sekali.
"Hah, gak ada tuh Arka bilang ke gue dia mau ke sini. Atau jangan-jangan ... " Tasya menyipitkan matanya curiga. Karena ya kok duluan Monik yang tau mengenai kabar Arka.
"Engga, kemarin dia nanya kan kalau kementrian Surabaya deket gak sama kita, ya gue jawab deket. Soalnya dia pindah tugas ke sini," ucap Monik alibi.
"Alah alasan, harusnya kalau emang mau nanya ke Al atau Tasya kali, secara mereka deket. Aneh lu kalau mau alibi, ngaku atau gua cari tau!" Timpal Yoda.
"Apasihhhh enggaa ya Allah gue gak deket sama Arka, kita temenan aja asli," jawab Monik cepat.
"Kan kita gak ada bilang lo deket sama dia, berarti lo deket ya?" Tanya Belva penuh kecurigaan.
Sementara Al dan Angkasa hanya terkekeh saja dengan kekepoan mereka. Ya karena pada dasarnya mereka yang lebih dulu tau kalau Monik dan Arka memang dekat beberapa bulan ini. Tapi Monik belum mau menceritakannya karena takut PHP. Secara kan Arka dulu buaya, jadi Monik harus antisipasi.
Monik menghela napas, begini nih kalau dia salah bicara. Jadinya dia keceplosan, kan? Mana Monik paling tidak bisa berbohong, dia pasti akan langsung menceritakan semua kepada mereka.
"Awalnya dia nge-reply instagram aja sih beberapa bulan lalu, terus kita lanjut di iMess, kalian tau sendiri se-buaya apa Arka. Terus dia deketin gue, ya awalnya gue pikir dia main-main. Taunya dia cari cara buat pindah tugas kesini buat gue."
"SERIUS?" Tanya mereka bersamaan.
__ADS_1
Monik kaget sih, ya siapa yang tidak kaget kalau diteriaki seperti itu. Tapi wajar kok, apalagi mereka taunya Monik masih gagal move on pada mantannya. Jadi ya mereka kaget saat mendengar Monik dekat dengan Arka.
Ya tidak masalah juga sebenarnya untuk Tasya, karena Arka orang yang baik. Dia tidak berteman lagi dengan Viko dan yang lainnya. Karena mereka sekarang sudah toxic dengan kedua sahabatnya di Bandung. Ah dia jadi merindukan Niken kalau begini. Niken apa kabar ya?
"Terus?" Tanya Tasya.
"Ya kita gak pacaran, dia mau buktiin dulu kalau dia layak. Lagi pula dia ngajaknya hubungan serius bukan pacaran. Kata dia, sekarang kita udah dewasa. Bukan waktunya lagi main-main, tapi gak tau liat aja," jawab Monik.
Tasya memeluk Monik dan tersenyum. "Gue kasih tau. Walaupun Arka itu bisa dibilang badung ya pas SMA, secara gue kan Ketua OSIS yang dulu suka hukum dia. Tapi tuh di antara Viko, Arka, Bagus sama Reza. Dia itu paling bijak kalau soal apapun. Awalnya gue mikir apa dia serius sama lo? Tapi setelah denger cerita lo, gue yakin kok dia serius sama lo."
"Bener, Arka juga cepet bersosialisasi. Jadi kalau lu bawa dia ke depan bonyok pasti mereka bakalan cepet suka sama Arka," lanjut Al.
Monik menatap Tasya dan Al bergantian. Memang mereka sih yang dekat dengan Arkan. Sedikitnya mereka pasti tau apa kekurangan dan kelebihan mereka. Tapi Monik belum mau berharap lebih sih, dia masih menunggu Arka untuk menepati janjinya ke sini dulu, mungkin setelah itu baru dia bicarakan mengenai hal ini.
"Tapi kalau lu belum yakin gapapa sih, Mon. Jalani dulu aja, kalau dia serius dan lu nyaman ya sikat," ucap Angkasa.
"Cieee ada yang perhatian," goda Belva.
"Haisssshh gak gituuu!! Udahlah males!"
Mereka semua tertawa melihat tingkah laku Monik. Sementara Al kini memeluk Tasya dan menciumi pipinya. Mereka senang sih kalau ada yang mau beranjak ke arah yang lebih serius, memang fasenya juga mereka berada di tahap ini. Bukan zamannya lagi pacaran lalu galau-galauan. Mereka tentu berharap kalau semuanya cepat menyusul Al dan Tasya yang kini malah sudah tahun lebih menikah. Memang tidak terasa.
Setelah pembicaraan itu mereka lanjut untuk bakar-bakaran, bermain UNO, ya pokoknya mereka bersenang-senang deh menikmati kebebasan mereka. Untuk sejenak Al dan Tasya menepi dulu. Karena malam-malam begini enaknya mereka bicara tentang masa depan mereka sendiri.
Tasya duduk di pangkuan Al seraya menatap ke langit, Al pun tersenyum dan menaruh dagunya di bahu Tasya. "Sayang?"
"Hmm, apa Mas?" Tanya Tasya sembari menatap ke arah Al.
__ADS_1
"Kak Amanda udah mau melahirkan anak kedua, kita juga udah lulus ujian intership," ucap Al.
"Heem, terus?"
Al menghela napas sembari menyatukan kedua telapak mereka, jarinya masuk ke sela-sela jari Tasya lalu meremasnya sedikit. "Rayain Anniversarry yuk? Anniversary kita kemarin cuma di rumah sakit karena sibuk, lembur juga. Kita belum sempat pergi kemana-mana."
"Emang Mas mau kemana?" Tanya Tasya.
"Ya liburan, kemana aja yang kamu mau. Kita ajak yang lain juga biar seru, tapi ... "
"Tapi? Kamu mau apa, Mas? Aku gak akan marah." Tasya mengusap pipi Al dengan lembut seraya memberikan senyum terbaiknya. Terkadang begini nih Al kalau menginginkan sesuatu sulit sekali bilang, padahal Tasya bisa dengan gamblang mengutarakan apa-apa saja yang dia inginkan pada Al.
Jadi sebagai istri, dia harus paham-paham sih dan memberikan pengertian untuk selalu peka. Karena ya Al harus dipancing dulu baru mau bicara soal keinginannya.
"Tapi, aku mau ada bayi di sini," ucap Al seraya mengusap-usap perut rata Tasya dengan lembut. Kemarin saat melihat Radit mengusap-usap perut Amanda dia jadi ingin merasakan euforia sebagai calon ayah. Aneh sekali, kan?"
Tasya tersenyum mendengar perkataan Al. Oh jadi ini penyebabnya belakangan ini Al selalu mengusap dan menciumi perutnya. Jadi dia ingin menjadi seorang ayah? Tasya mengecup pipi Al yang berada di sampingnya dengan lembut. "Boleh dong."
"Kamu siap jadi orang tua?" Tanya Al.
Ya meskipun dia ingin dan sudah siap, tapi kan yang akan mengandung Tasya, Tasya juga yang melahirkan dan banyak berperan sebagai Ibu. Jadi bagaimana pun kesiapan Tasya itu adalah hal yang paling penting.
Tasya mengangguk, kalau bersama apapun yang membuat Tasya tidak siap, pasti akan menjadi siap. Al selalu bertanggung jawab dengan baik, jadi apa yang perlu Tasya takutkan. "Kalau kamu siap, ayok. Ayok kita jadi mama dan papa."
Pelukan Al pada Tasya semakin erat, membuat gadis itu tersenyum bahagia. Karena kan salah satu tujuan menikah ya mempunyai anak, tentu Tasya senang jika dia menjadi wanita seutuhnya dan melahirkan anak-anak Al.
Tanpa sadar, sedari tadi yang lainnya menguping. Niatnya mau merusak suasana, tapi pada akhirnya mereka yang tertegun sendiri. Ya bagaimana tidak, bahasan mereka soal anak, mereka kan belum menikah. Sudah pasti beda bahasan, padahal di sini Al dan Tasya itu paling muda di antara mereka, tapi mereka duluan yang sudah memikirkan anak. Kena mental mereka.
__ADS_1