My Perfect Bestie, No! Husband!

My Perfect Bestie, No! Husband!
Provokasi


__ADS_3


Tasya tersenyum saat memasuki ruangan yang sudah 1 Minggu dia tinggalkan. Akhirnya setelah sekian lama menunggu, Al memperbolehkannya masuk kerja. Entahlah ada kenyamanan tersendiri.


Terlebih sekarang dia harus buru-buru ke UGD karena pagi buta begini sudah banyak pasien kecelakaan. Selain dokter intership, dokter umum juga di kerahkan di sana.


Al sedikit melirik ke arah Tasya yang buru-buru keluar dari ruangannya. Nahkan dia khawatir, dia menerima perintah juga untuk ke UGD. Tapi masalahnya Tasya sedang hamil dan dia sebar-bar itu berlari? Benar-benar membuat jantung Al berdebar kencang.


Akhirnya Al berlari dari ruangannya dan segera menyusul Tasya. Tapi Tasya lari begitu cepat sampai akhirnya mereka bertemu di UGD. Syukurnya dia nampak baik-baik saja dan masih sigap menangani pasien.


Jujur saja Tasya beberapa kali sempat mual, entah kenapa dia mual melihat darah. Apa bawaan hamil ya? Tapi dia berusaha profesional dan melakukan tugasnya dengan baik.


"Sus tolong jarum dan benang," ucap Tasya.


"Baik, Dok." Suster mengangguk dan mempersiapkan kebutuhan apa saja yang Tasya butuhkan.


Melihat Tasya yang menahan mual membuat suster sadar. "Dok apa perlu istirahat?"


Tasya menggeleng. "Aman kok, cuma morning sickness aja. Saya masih bisa handle."


Setelah mengatakan itu suster mengangguk saja meskipun dia juga merasa kasihan karena ya ibu hamil itu begitu, tapi Tasya berusaha profesional dalam bekerja membuat dirinya sendiri tersiksa.


Itu yang membuat Tasya mendapatkan izin kemarin lebih lama. Karena Tasya memang kompeten dan profesional. Dokter pengawas yang ada di sana pun melihat kejadian itu dan semakin salut dengan kinerja Tasya.


Dari kekurangan, kekurangannya itu Tasya bisa menjadi orang yang berada di titik ini dan rumah sakit bangga memiliki salah satu dokter seperti Tasya.


Berjam-jam dia berada di UGD untuk menangani pasien yang berdatangan. Sementara Al kini sudah beres dengan pasiennya. Dia mencari Tasya yang baru selesai melakukan tugasnya, namun dia berlari keluar UGD.


Nahkan lagi-lagi gadis itu aktif sekali. Membuat Al hari banyak-banyak mengelus dada dan akhirnya kembali mencari Tasya yang ternyata kini berada di dalam toilet.


Hueekk ... Hueekk


Suara itu terdengar, membuat Al masuk ke sana dan membantu istrinya untuk muntah. Di usapnya tengkuk Tasya dengan lembut dan tanpa rasa jijik dia membantu Tasya membersihkan mulutnya.

__ADS_1


"Kenapa? Pusing?" Tanya Al.


"Gapapa, nanti aku minum vitamin. Mual doang karena nyium bau darah."


"Kenapa dipaksain?"


"Kita ini dokter, pasien itu utama. Udah ya, aku udah gapapa. Ayok kita ke ruangan, masih banyak pekerjaan." Tasya mengecup bibir Al sekilas.


Kalau begini Al juga meluluh, walaupun sebenarnya dia ingin membicarakan kembali agar Tasya fokus pada kehamilannya. Dari sejak Tasya berlarian tadi banyak sekali yang dia pikirkan, apalagi kondisi Tasya kemarin tidak baik-baik saja.


Mereka berdua akhirnya berjalan beriringan menuju ruangan masing-masing. Tasya melirik ke arah Al yang nampaknya sedang banyak pikiran. "Kamu kepikiran aku ya?"


"Iya," jawab Al jujur.


"Aku gak kenapa-kenapa, Mas. I'm oke, jangan dipikirin apapun itu," ucap Tasya.


"Apa sebaiknya kamu pikirin lagi soal berhenti kerja sampai anak kita lahir?" Tanya Al.


Tasya menghentikan langkahnya, bukannya kemarin Al sendiri yang bilang kalau dia boleh bekerja ya? Kenapa dia bicara tentang ini lagi?


Al menghela napas, bagaimana dia harus menjelaskan kalau sekarang dia begitu khawatir tentang keadaannya. Pada akhirnya karena pembicaraan ini cukup serius mereka memilih untuk duduk di taman rumah sakit yang cukup sepi.


"Kamu kenapa jadi bahas ini lagi?"


"Karena aku khawatir sama kamu dan anak kita," jawab Al jujur.


"Ibu hamil biasa morning sickness loh ... "


"Tapi kamu beda, Sayang. Kamu seorang dokter bahkan kamu mengabaikan diri kamu sendiri tadi, belum lagi kamu harus lari kesana-kesini. Itu bahaya untuk anak kita."


"Kamu gak percaya aku bisa jaga anak kita, Mas?"


"Bukan gitu, aku cuma gak mau kalian kenapa-kenapa, itu aja. Kemarin kamu kelelahan juga, kan?"

__ADS_1


Tasya menghela napasnya, dia sedih sekali sebenarnya. Bagaimana Al bisa membuatnya merasa seperti orang lemah? Biasanya dia selalu mendukung apapun yang Tasya putuskan dan Tasya jalani, tapi kenapa dia seolah meragukan Tasya.


Dia juga tau apa yang boleh dan tidak untuk dirinya, dia tau apa saja yang harus dia lakukan, tapi Al seolah meragukan dirinya. "Yaudah kalau kamu maunya aku berhenti."


Karena tidak ingin memperpanjang masalah, Tasya memutuskan untuk pergi dari sana dan membiarkan Al mematung di tempatnya. Al menghela napasnya berkali-kali, dia tau Tasya kecewa. Tapi sebagai suami dia juga harus mempertimbangkan ini. Mungkin memang waktunya saja yang tidak tepat dan nanti saja dia bicarakan lagi dengan Tasya kalau emosi wanita itu sudah mereda.


Di satu sisi Tasya memasuki ruangannya. Tatapannya kosong sembari duduk di kursinya, menjadi dokter tentu adalah impiannya dan sekarang dia ada di tahap ini. Apa dia egois ya kalau tidak mau berhenti dari pekerjaannya sementara Al sudah memintanya berhenti.


Tiba-tiba seseorang masuk ke ruangannya, ini apalagi? Kenapa Viko juga yang datang ke ruangannya. Membuat Tasya berdecak dan memutuskan untuk diam saja, moodnya sedang tidak baik sekarang.


"Ada apa?" Tanya Tasya to the point.


"Pusing, boleh bantu periksa? Aku gak enak badan, Sya. Dokter Vina nyaranin ke sini."


Mendengar itu rekomendasi dokter Vina, membuat Tasya tidak bisa menolak. Mau tidak mau dia harus memeriksa keadaan Viko.


Perlahan Viko membaringkan tubuhnya di brankar, setelah itu Tasya menghampiri pria itu dan memeriksanya. Memang dia terlihat sedikit agak pucat sih, mungkin kali ini dia betul-betul sakit.


Dengan perlahan Tasya mengecek tensinya dan ternyata memang rendah. "Ada riwayat darah rendah?"


"Iya. Aku lagi terapi obat paranoid disorder, jadi tolong beri obat yang bisa berdampingan dengan obat yang diminum."


Tasya mengangguk paham seraya merapihkan alat-alat yang ada. "Kamu udah cantik, dokter muda yang profesional, telaten dan sebentar lagi akan menjadi ibu."


Tasya tidak menghiraukan perkataan Viko dan kembali merapikan alat-alat di sana. "Kalau kamu nikah sama aku, aku pasti akan dukung kamu dalam hal apapun sih, Sya. Jadi ibu hamil dan dokter itu gak mudah, jadi aku bangga sebagai suaminya."


Tasya menghela napas. Sebenarnya dia jadi kepikiran soal Al yang memintanya berhenti, tapi ocehan Viko ini seharusnya tidak mempengaruhi pikirannya.


"Kamu itu hebat, aku percaya kalau kamu bisa menghandle apapun karena kamu sejak dulu itu hebat. Dari mulai murid berprestasi, ketua OSIS, pokoknya hebat."


"Jadi obat apa yang sekarang kamu minum?" Tanya Tasya mengalihkan pembicaraan sembari kembali duduk di kursinya untuk mencatat beberapa resep.


Viko terkekeh, nampaknya memang Tasya menghindari percakapan mereka. Viko bangkit dan turun dari brankar, setelah itu dia menatap Tasya. Jujur memang auranya sebagai ibu hamil tidak main-main, sangat cantik. "Beruntung ya Al bisa dapetin kamu. Kamu ada diposisi ini pasti dia dukung karier kamu dengan baik. Tapi memang kewajiban dia gitu sih, karena sekarang bukan zamannya lagi istri harus diam di rumah dan dianggap lemah. Mereka punya kekuatannya sendiri."

__ADS_1


Tasya memejamkan matanya, kenapa sih Viko membahas hal itu di saat dia dan Al sedang begini. Itu hanya membuat overthingking-nya semakin kemana-mana.


__ADS_2