
Pulang dari rumah sakit Al mengajak Tasya ke sebuah supermarket besar untuk membelikan beberapa kebutuhan Tasya. Bahkan Al sudah mengajak Tasya untuk menyulap kamar di seberang ruangan mereka itu menjadi kamar bayi, lucu sekali menurut Tasya.
Belum lagi saat di rumah sakit Al begitu memanjakannya, dia selalu mengecek keadaan Tasya ketika dia senggang dengan alasan takut Tasya kenapa-kenapa, padahal Tasya hanya diam di ruangan dan memeriksa pasien.
"Kamu tunggu di mobil aja ya, Sayang?" Ucap Al seraya mengusap perut Tasya dengan lembut. Iya sedari tadi Al melakukan itu, membuat Tasya gemas sekali pada suaminya.
"Aku mau ikut, Mas," balas Tasya.
"Gak cape? Nanti kamu cape loh."
"Ikut ya?" Tasya menatap Al dengan manja, kalau sudah begini ya Al harus menuruti kemauan istrinya, dengan syarat kalau dia tidak boleh jauh dari Al.
Tasya menyetujui syarat itu dan akhirnya mereka bergandengan dan masuk ke dalam supermarket. Al mengambil sebuah troli dan mendorong dengan satu tangannya, dan tangan satunya lagi menggenggam tangan Tasya dengan erat.
Hal yang mereka kunjungi pertama kali adalah rak susu Ibu hamil. Al memilah-milah mana susu yang bagus dari komposisinya. Setelah itu dia mengambil beberapanya. Tentu dia mengambil susu dengan rasa strawberry, karena Tasya sangat suka.
"Banyak banget belinya, Mas," kata Tasya seraya memperhatikan suaminya yang menaruh beberapa dus susu ke dalam troli.
"Biar sekalian, Sayang. Kamu juga harus minum rutin, pagi dan malam. Biar anak kita sehat," balas Al.
Tasya terkekeh. "Kamu seneng banget kayanya, Mas. Sampe teliti banget, anak kita pasti seneng karena papanya kamu."
"Dia seneng karena orang tuanya kita, Sayang. Apapun demi anak aku." Al lagi-lagi mengusap perut Tasya.
Ini memang yang ingin dia lakukan setiap hari, mengusap perut istrinya. Sama seperti yang sering Radit lakukan. Pokoknya dia akan menjadi suami yang lebih siaga mulai dari hari ini. Mereka kembali berjalan mengelilingi supermarket, siapapun yang melihat mereka pasti iri, selain Al yang sering mengusap perut Tasya dia juga sering menciumi tangan Tasya yang ada di genggamannya seolah takut kehilangan.
__ADS_1
"Mas, diliatin orang," bisik Tasya.
"Gapapa, kamu kan istri aku. Jangan dengerin apa kata orang, yang jalani kita, Sayang. Terkecuali kamu yang risih," balas Al.
Tasya menggeleng, dia tidak risih kok. Justru dia senang, apalagi akhir-akhir ini dia suka sekali bermanja dengan suaminya, lebih manja dari sebelumnya. Mungkin karena faktor kehamilan juga kali ya tanpa Tasya sadari.
Tidak hanya susu, Al juga membeli beberapa makanan sehat dan juga suplemen beserta vitamin yang Tasya butuhkan. Setelah selesai, baru lah mereka melanjutkan perjalanan untuk pulang ke rumah.
Selesai mandi Al yang sudah mengeringkan rambutnya langsung menuju ke atas kasur dan menaruh kepalanya di paha istrinya. Dengan lembut dia mengusapi perut Tasya yang masih rata itu.
"Anak papa ... " Al menciumi perut istrinya berkali-kali, membuat Tasya terkekeh dan mengusap rambut Al dengan lembut.
"Apa Papa?" Balas Tasya mengikuti suara bayi.
"Jangan nakal di dalem ya, jangan bikin mamanya kesakitan. Kita harus kerja sama yang baik ya? Jangan mogok makan, kamu harus makan yang banyak, Sayang. Jangan buat mamanya gak mau makan ya?" Ucap Al.
"Pinter anak Papa. Sini Papa peluk." Al memeluk tubuh Tasya, kenapa Tasya sebahagia ini ya di perlakukan begini oleh Al.
Al itu manis, jauh lebih manis dari pria manapun menurut Tasya. Tapi kali ini rasanya berbeda, ada sesuatu dalam dirinya yang membuat dia terharu melihat Al sangat bahagia. Dia jadi merasa istri yang sempurna karena bisa memberikan Al seorang anak.
Tasya menyeka air matanya setelah itu terkekeh pelan, membuat Al kini duduk seraya menangkup kedua pipi Tasya. "Sayang kenapa nangis? Aku ada salah bicara?"
Tasya malah tertawa dan tapi air matanya keluar lagi. Membuat Al bingung. Karena memang Ibu hamil itu sensitif kan? Jadi Al takut kalau dia melukai Tasya meskipun sedikit. "Kamu kenapa? Jangan nangis, aku gak suka liat kamu nangis."
"Gapapa, Mas. Aku terharu aja, aku seneng kamu bahagia banget saat tau aku hamil, aku seneng kamu se-perhatian itu sama aku, ya walaupun kamu emang perhatian. Aku seneng kamu ajak bayi kita bicara walaupun dia masih sangat kecil dan kamu menganggap kehadiran dia ada walaupun masih sekecil itu."
Apalagi yang harus Tasya ungkapkan tentang rasa bahagianya sekarang. Dia sangat bahagia dan rasanya itu saja tidak cukup untuk menggambarkan kebahagiaannya sekarang?
__ADS_1
Perlahan Al menyeka air mata istrinya dengan kedua ibu jari, lalu mencium kening dan bibir Tasya dengan lembut. "Aku bahagia itu karena kamu, karena anak kita. Aku akan selalu menganggap kalian ada di kehidupan aku, Sayang."
Tasya mengangguk dan memeluk Al dan Al malah menarik Tasya untuk duduk di pangkuannya sembari mengecup pipi istrinya itu. Hari ini mereka berdua bahagia sekali, perasaan yang baru mereka rasakan adalah dipercaya oleh Tuhan menjadi orang tua. Iya sebahagia itu ternyata rasanya.
Tasya menatap ke arah Al dan mengecup bibir suaminya itu perlahan.
"Bunda pasti seneng banget ya Mas kalau kita bilang kita aku hamil?" Tanya Tasya.
"Seneng dong, itu yang Bunda tunggu-tunggu, kan?"
"Kamu udah kasih tau bunda soal ini?" Tanya Tasya.
Al menggeleng, saking senangnya malah dia tidak sempat mengabari siapapun. Baru teringat sekarang saat Tasya mengingatkannya. "Belum, yaudah biar aku kabarin bunda sekarang."
Al mengambil ponsel miliknya namun Tasya melarangnya. "Jangan dulu ya, Mas?"
"Kenapa, Sayang?" Tanya Al seraya mengusap pipi istrinya dengan lembut.
"Abang, Tante Amara sama Kak Amanda belum pulang. Aku mau kasih tau mereka bersamaan, jadi tunggu mereka pulang boleh gak? Aku cuma mau adil aja biar kita juga senengnya bareng-bareng," ucap Tasya.
"Boleh, nanti kita bikin kejutan untuk mereka kalau mereka udah pulang dari Bandung. Yang terpenting sekarang kamu jaga kesehatan dan jangan stress."
Itu yang Tasya pikirkan sih. Sudah dia moodyan, mudah overthinking, belum lagi dia sedang hamil dan emosinya naik turun. Tasya jadi banyak khawatir kalau memikirkan kesana. "Tapi kadang aku suka gak bisa kontrol."
Apalagi soal Viko, dia sudah lega sih untuk bicara dengan Viko panjang lebar seperti tadi, tapi tidak tau Viko mengerti atau tidak dengan ucapannya. Dia sudah benar-benar jengah menghadapi Viko yang nekad luar biasa.
Dengan perhatian Al menyelipkan anakan rambut Tasya di telinganya dan menatap istrinya itu dengan full senyum yang menenangkan. "Mulai sekarang perbanyak tutup telinga dan lebih bodo amat lagi, Sayang. Jangan kaya tadi, kamu juga boleh sibuk tapi jangan lupa makan, jangan lupa dunia dan jangan lupa minum vitamin. Mulai sekarang aku juga bakalan lebih jaga kamu dan anak kita dengan baik."
__ADS_1
Tasya mengangguk, Al benar. Dia selalu memikirkan hal yang tidak penting memang karena kurang bisa menjadi bodo amatan. Tapi sekarang dia mengandung, jadi demi kebaikan dia dan anaknya, Tasya harus berusaha mementingkan dirinya di atas yang lain.