My Perfect Bestie, No! Husband!

My Perfect Bestie, No! Husband!
Kejadian Tak Terduga


__ADS_3


Hari-hari berlalu, mereka menikmati rutinitasnya sebagai dokter intership dengan baik. Sejauh ini memang masih aman terkendali, jadi mereka masih enjoy menjalani pekerjaan ini. Malam ini Tasya dan Angkasa kebagian tugas malam di UGD.


Kebetulan Al juga sama, dia mendapatkan tugas malam di poli. Ya meskipun begitu mereka tetap tidak bisa bertemu karena cukup jauh juga ruang UGD dan ruang poli. Tapi setidaknya Al tidak harus sendirian di rumah karena Tasya melembur. Untungnya besok hari libur, jadi Tasya dan Al bisa langsung pulang paginya tanpa perlu melanjutkan kerja seperti biasanya.


Sebuah mobil tiba-tiba berhenti di depan UGD, Tasya dapat melihatnya dari ruangan, pertanda kalau memang dia harus bersiap-siap. Rintihan seseorang menahan kesakitan dari luar sana membuat Tasya sigap bersama beberapa suster menangani pasien.


Namun matanya kini bertatapan dengan pengantar sang pasien. Tasya terkejut bukan main, tapi di sini dia dituntut profesional.


"Dia minum ini, tolong selamatkan dia, Sya," pinta Viko.


Tanpa banyak bicara, Tasya mengambil obat dari tangan Viko dan berlari ke ruang tindakan. Sebisa mungkin dia menyelamatkan kandungan yang ada di dalam.


Tasya panik, karena memang pendarahannya semakin banyak. Bella menggenggam tangan Tasya. "Tolong selamatin anak aku, Sya."


Tasya yang melihat tatapan Bella yang sendu membuatnya tersentuh. Meskipun dia pernah merusak hubungannya yang terjalin selama bertahun-tahun, dia tetaplah seorang dokter. Dia pasti akan mengusahakan yang terbaik untuk pasiennya.


Tasya mengangguk. "Sus tolong panggilkan dokter spesialis, diduga abortus insipiens."


Tasya masih berusaha sembari menunggu dokter kandungan, sampai akhirnya dia mundur saat dokter spesialis sampai di sana. Tasya terus berada di samping Bella sembari memperhatikan bagaimana cara kerja dokter senior. Bagaimana pun dia juga belajar di sini.


"Maaf, Bu. Tapi sepertinya anak Ibu tidak bisa diselamatkan."


Bella terkejut, ini sudah kedua kalinya dia keguguran dan dia harus merelakan anak yang beberapa bulan ini dia jaga. Bella histeris, Tasya mencoba menenangkannya, namun sepertinya tidak ada yang bisa menenangkan Bella. Bagaimana pun dia kehilangan anaknya, Tasya tau itu tidak mudah.


"Dokter Tasya benar, abortus insipiens. Kita harus segera lakukan operasi. Suster tolong minta persetujuan keluarga pasien dan segera siapkan ruangan. Dokter Tasya, anda temani saya operasi jika disetujui," lanjut dokter Zian.


Tasya mengangguk, tubuhnya lemas. Ternyata kandungan dalam tubuh Bella tidak bisa di selamatkan. Kini Bella menatap Tasya penuh kebencian. Dia benci sekali dengan wanita yang ada di hadapannya ini.

__ADS_1


Tasya tidak mengerti, tapi dia menyadari arti tatapan itu. Tatapan yang sama seperti pertama kali mereka bertemu beberapa tahun lalu. Tapi Tasya mengenyampingkan itu semua dan segera membantu dokter membawa Bella ke ruang operasi.


Tasya berjalan di belakang para suster dan di sampingnya ada Viko yang kini menatapnya. Tasya tidak bertanya apapun dan fokus untuk berjalan cepat. Saat di perjalanan menuju ruang operasi Tasya berpapasan dengan Yoda dan Al yang sepertinya habis membeli kopi.


Al mengusap lengan Tasya dan memandang ke arah Viko. Namun hanya sekilas, dia kini fokus pada Tasya. "Semangat."


Tasya mengangguk dan tersenyum, mendapat semangat dari suaminya dia kini bisa kembali fokus. Setelah itu dia kembali berlari untuk menyusul ketertinggalannya dari rombongan.


Sebelum memulai operasi Tasya memakai pakaian steril terlebih dahulu. Dia juga membantu suster mengambil beberapa alat.


Dan setelah siap, Dokter bedah melalukan tugasnya. Tasya memperhatikan sambil sesekali mengambil Alat yang di minta. Dia juga memperhatikan Bella yang terus menatapnya karena tidak dibius total.


"Scalpel," ucap Dokter Zian. Tasya memberikan alat itu pada dokter.


"Peritineum," perintahnya lagi dan ya Tasya hanya menurut.


"Klem."


Tasya masih terlalu fokus melihat ke arah Bella sampai tidak mendengarkan ucapan Dokter. "Dokter Tasya, tolong fokus. Saya meminta klem."


Tasya mendengar itu langsung memberikan alat yang diperlukan dan kembali fokus dengan operasi. Perasaannya memang tidak karuan sekarang, sama sekali tidak baik-baik saja kalau boleh jujur.


Namun, dia berhasil menahannya sampai operasi selesai. Kini hanya ada Tasya dan Bella di sana. Suasana hening seketika, Tasya memfokuskan diri untuk membersihkan tangannya. Meski jantungnya kini berdebar kencang.


"Aku benci kamu, Sya."


"Saya udah berusaha sebaik mungkin, tapi obat yang kamu minum itu terlalu bahaya karena itu obat penggugur kandungan. Saya minta maaf kalau kau kecewa tapi saya akan berusaha sebaik mungkin untuk keselamatan pasien saya."


"Aku tetap membenci kamu," ucap Bella lagi.

__ADS_1


"Dan saya akan tetap diam menerima kebencian dari kamu yang tidak berdasar. Saya izin pamit, karena suster sudah datang." Tasya berusaha tersenyum ke arah Bella, dengan keberanian yang ada di keluar dari ruangan itu.


Terbebas dari Bella kini di hadapannya Viko sudah berdiri di hadapannya. "Keadaan Bella gimana?"


"Di baik-baik saja, anda tidak perlu khawatir," jawab Tasya berusaha bersikap profesional.


"Aku gak bisa formal, boleh biasa aja?" Tanya Viko sembari menatap Tasya intens.


Tasya menghela napas saat Viko terus menatapnya seperti itu. "Ya udah, itu yang bisa aku sampaikan. Setelah ini kamu bisa menemaninya di ruang inap."


Tidak ada jawaban. "Kenapa? Kenapa kamu terus liatin aku kaya gitu? Kamu kecewa karena aku gak bisa selamatin anak kalian? Sama kaya Bella yang menumpukan kesalahan sama aku? Aku udah berusaha, tapi obat itu terlalu berpengaruh untuk janinnya."


"Engga, Sya aku-"


"Cukup, urusan kita udah selesai. Kalau mau tau lebih jelas setelah ini dokter Zian akan menjelaskan semuanya sama kamu. Bukan kurang sopan, tapi aku permisi. Masih banyak yang harus aku selesaikan."


Tasya berlalu pergi, setelah operasi dia mendapat jatah istirahat beberapa saat. Ini dia pergunakan untuk menetralkan perasaannya. Dia duduk di kursi taman sembari menunggu Al yang barusan dia hubungi.


Tak selang beberapa lama, sepasang sepatu berhenti di hadapannya. Dengan tangis yang tertahan, kini Tasya memeluk Al dengan erat, sangat erat.


Al yang paham dengan kondisi itu membalas pelukan Tasya dan mengusap punggungnya agar dia nyaman. Dia mengetahui dari Angkasa kalau Bella keguguran dan Tasya membantu dokter spesialis untuk operasi. Ini pasti berat untuknya.


Untung saja tidak banyak orang segini hari, mereka juga berusaha profesional dengan tidak menggunakan jas dokter. Tidak enak juga jika dilihat oleh pasien atau keluarga pasien. "Tenangin diri kamu, kenapa kamu nangis, Sayang? Apa yang bikin kamu nangis sampai kaya gini?"


Tasya masih belum mau menjawab, dadanya penuh rasa sesak. Dia tidak menyukai Bella, tapi dia seorang dokter, di saat dia mati-matian menyelamatkan kandungan Bella, bayi itu tidak selamat. Hal yang menyakitkan untuk seorang dokter adalah tidak bisa menyelamatkan pasiennya, apalagi ini pertama kali untuk Tasya. Setelah itu dia juga yang harus menanggung kebencian Bella. Padahal di sini seharusnya Tasya yang membencinya.


Itu yang membuat Tasya resah dan menangis seperti ini. Al masih berusaha untuk menenangkannya, membiarkan Tasya lega dulu baru mulai bertanya. Untung saja dia juga sedang tidak banyak pekerjaan, jadi dia bisa menemani Tasya malam ini.


Tanpa mereka sadari, sepasang mata kini tengah mengawasinya. Viko mengepalkan tangannya saat melihat Tasya dipeluk oleh Al. Meskipun Al adalah suaminya, tapi tetap saja Viko tidak rela kalau wanita yang dia cintai di peluk oleh orang lain.

__ADS_1


__ADS_2