My Perfect Bestie, No! Husband!

My Perfect Bestie, No! Husband!
Penenang Segala Resah


__ADS_3


Setelah puas menangis, Tasya kini menatap Al yang menghapus air matanya. "Udah lega?"


"I feel better," jawab Tasya seraya menganggukkan kepalanya.


Al tersenyum dan mengajak istrinya itu untuk duduk di kursi taman dan memberikannya sebotol minuman. "Minum dulu, setelah itu kamu cerita. Masih lama kan jam istirahatnya?"


"Iya masih." Tasya meminum air yang Al berikan, karena menangis membuat tenggorokannya menjadi kering.


"Jadi apa yang bikin kamu nangis malam ini?" Tanya Al lagi.


"Aku gak bisa selamatin kandungannya Bella. Dia benci sama aku, tapi kamu tau gak. Sebenci-bencinya aku sama Bella aku gak berniat atau sengaja gak nyelamatin kandungannya. Aku seorang dokter, aku udah disumpah dan aku gak mungkin sangkutin masalah pribadi sama nyawa pasien aku sendiri."


Al mengusap punggung Tasya lembut, mencoba menenangkannya sambil mendengarkan semua keluh kesahnya malam ini. Memang berat menurut Al berada di posisi Tasya. Seharusnya tadi bukan dia yang menangani Bella.


"Diagnosinya apa?" Tanya Al.


"Abortus insipiens, karena obat." Tasya mengeluarkan obat yang tadi Viko berikan padanya.


"Ini apa?"


"Obat penggugur kandungan, sebelum ditindak di UGD Viko kasih ini ke aku, katanya Bella minum itu sebelum dibawa ke rumah sakit."


Al mengambil obat itu dari Tasya dan berpikir sejenak. Ada yang janggal di sini. "Kalau Bella marah-"


"Nanti kita bicarakan soal ini, sekarang kamu tenangin diri dulu. Jangan berpikiran yang aneh-aneh. Kamu gak salah, Sayang. Kamu udah berusaha semaksimal mungkin dan aku tau kamu melakukannya."


"Tapi Bella gak percaya, Mas."


"Di dunia medis kerap terjadi kok kaya gitu, pihak rumah sakit juga kalau menerima komplain, pasti menyelidikinya dulu. Kamu kan udah bener, jadi gak akan terjadi apa-apa. Percaya sama aku. Apalagi mereka tau kalau kamu dokter yang kompeten."


"Tapi aku tetep kepikiran, Mas," keluh Tasya.


"Gapapa, kepikiran kan wajar. Kamu dokter, wajar merasa gagal. Tapi jangan lupa inget kata pak kepala. Kegagalan itu wajar, dari sana kita bisa belajar banyak hal untuk menjadi lebih profesional lagi. Bener, kan?"


"Kalau kamu di masa ujian kaya gini lurus-lurus aja, kamu saat nanti resmi jadi dokter yang sebenarnya akan kaget sayang, karena baru menemukan masalah saat itu. Kalau sekarang kamu mulai bisa beradaptasi, perlahan kamu akan biasa aja kalau berhadapan sama masalah kaya gini."


Tasya terdiam menatap Al. Dia benar, ini Tasya saja yang memang larut dalam perasaannya. Apalagi pasiennya adalah Bella, tentu dia lost control.

__ADS_1


"Makasih ya, Mass. Kamu sampe luangin waktu buat nemenin aku di sini. Kalau kamu gak ada aku kayanya bakalan tetep larut sama pikiran aku."


Al kembali mendekap Tasya dan mencium puncak kepala istrinya. "Iya sama-sama. Sekarang udah membaik kan perasaannya?"


Tasya mengangguk. "Udah, tapi masih sedikit lagi ada yang belum tuntas. Mungkin nanti membaik."


"Gapapa, alihin aja perhatian kamu sama pekerjaan. Setelah itu lupa, besok pagi kita pulang dan bisa manjaan deh," ucap Al sembari terkekeh.


"Mau manjaan," balas Tasya seraya menatap ke arah Al.


"Makanya kerjain pekerjaannya gih, biar besok kita langsung pulang tanpa ada pekerjaannya yang menumpuk," balas Al.


Tasya mengangguk dan tersenyum. Setelah itu mereka berdua masuk kembali ke dalam dan melanjutkan pekerjaan mereka. Karena memang tidak bisa lama-lama juga di sini.


.


.


.


Pukul 08.00 Tasya dan Al sudah menyelesaikan pekerjaannya. Ini hari libur, jadi Tasya dan Al bisa beristirahat tanpa perlu berjaga lagi. Tasya dan Al berjalan beriringan, karena Yoda dan Angkasa memang sudah pulang lebih dulu. Namun saat diperjalanan dia bertemu dengan Viko.


"Iya," jawab mereka berbarengan.


"Ini sebagai ucapan terima kasih karena udah nyelamatin Bella." Viko mengulurkan sebuah paper bag pada Tasya.


Tasya menatap ke arahnya. "Seharusnya kamu kasih ke dokter Alzian, karena dia yang melakukan operasi. Lagi pula kami tidak menerima apapun dari keluarga pasien."


"Dokter Alzian udah, dia menerima masa kamu engga? Ini tanda terima kasih aja dan apresiasi karena pekerjaan kamu bagus," balas Viko yang berusaha meyakinkan.


Tasya sebenarnya malas, sangat malas menerimanya. Mungkin dulu Viko adalah orang yang paling dia cintai, tapi sekarang dia benar-benar malas meskipun hanya mengobrol seperti ini, apalagi harus menerima pemberiannya.


Al mengambil paper bag yang Viko berikan. "Yang ini dokter Tasya terima, selebihnya anda tidak perlu repot-repot melakukan ini pada kami. Sudah tugas kami menangani pasien dengan baik dan kami rasa gaji kami sudah cukup mengapresiasi pekerjaan kami."


Viko menarik napasnya dan mengangguk-nganggukan kepalanya, tidak percaya kalau Al akan setegas ini. "Oke, baik kalau begitu. Terima kasih atas penjelasannya, saya permisi. Semoga anda suka, Dokter Tasya Aurell."


Viko berlalu pergi meninggalkan mereka, sementara Tasya dan Al melanjutkan pergi ke parkiran. Mereka tau kalau mempunyai tugas malam bersama, jadi kali ini hanya membawa satu mobil saja sehingga mereka pulang bersama.


Sesampainya di mobil Tasya menatap Al. "Kenapa kamu terima sih hadiahnya? Aku gak mau berurusan atau menerima apapun dari Viko."

__ADS_1


"Kalau dokter Alzian menerima dan kamu menolak akan ada kata profesionalitas juga dalam hal itu. Karena tujuan dia memberikan apresiasi pada keduanya, kalau untuk salah satunya aja kamu boleh menolak."


"Tapi, Mass-"


"Kan hanya menerima bukan berarti harus dimakan atau dipakai," lanjut Al sembari melajukan mobilnya.


Tasya terdiam, dia tidak mood sekali saat melihat wajah Viko. Bukan belum bisa menerima perlakuannya dulu, hanya saja memang dia tidak suka jika Viko mengganggunya. Apalagi di depan Al seperti tadi. Tasya kan jadi banyak takutnya, takut Al cemburu, takut Al marah atau takut Al salah paham.


"Buka coba, isinya apa," ucap Al tiba-tiba.


"Gak mau, ngapain juga dibuka?"


"Kalau makanan kita bisa kita kasihin sama orang yang kelaparan, benar kan?"


"Kalau barang?" Tanya Tasya.


"Ya simpan aja, tapi jangan pernah dipakai. Aku bisa belikan kalau kamu mau barang serupa," ucap Al.


"Kenapa gak dibuang aja?"


"Itu apresiasi kerja kamu yang pertama dari pasien, anggap aja tropy pertama. Aku gak mau menyia-nyiakan hasil kerja kamu cuma karena masalah pribadi."


Tasya berpikir memang benar juga, ya sudah kalau begitu. Al juga tidak marah, dia juga penasaran apa isinya. Hanya penasaran, karena kalau membeli juga Tasya pasti bisa.


Perlahan dia mengambil kotak dari dalam paper bag yang ada di tangannya, lalu dia membuka kotak beludru berwana biru itu. Terlihat satu set perhiasan dengan motif kupu-kupu simpel. Sama seperti terakhir kali Viko memberikannya dulu, bedanya ini lebih mewah.


"Keren untuk ukuran apresiasi seorang dokter," ucap Al.


Tasya menutup kotak itu dan memasukannya kembali ke dalam paper bag, setelahnya dia membuang asal kotak itu ke belakang, membuat Al melongo melihat kelakuan istrinya itu. "Kenapa, Sayang?"


"Dari kamu lebih bagus, untuk disimpan saja, kan? Yaudah aku gak peduli dalamya rusak atau engga. Aku gak tergiur sama barang-barang yang kaya gitu, kecuali kamu yang beliin," jawab Tasya yang menyilakan tangan di bawah dadanya.


"Kamu kan suka kupu-kupu." Al tersenyum dan mengusap pipi istrinya lembut sembari tetap fokus menyetir.


"Aku lebih suka Aldo Prayoga, kupu-kupu nomor sekian aja. Kamu gak usah bahas Viko-Viko lagi ah, Mas. Selain aku gak suka Aruna, aku juga gak suka Viko. Mending bahas yang lebih berguna aja."


Al terkekeh, dia menganggukkan kepalanya. "Iya-iya, maaf ya istri. Mas gak akan bahas lagi, sekarang kita cari sarapan let's go?"


"Let's go!!!" Jawab Tasya semangat.

__ADS_1


__ADS_2