
Sepasang suami istri paruh baya memasuki ruangan inap menantunya, siapa lagi kalau bukan Rena dan Beni Ibu dan ayah dari Viko. Meskipun mereka tidak menyukai Bella, tapi tetap saja mereka harus ke sana karena ada hal penting yang harus mereka katakan pada putra mereka. Mata mereka tertuju pada Viko yang sedang duduk di sofa dan fokus pada ponselnya. Seolah mengabaikan Bella, kini keduanya langsung saja to the point untuk menghampiri Viko. Sudah menjadi pemandangan yang tidak asing bagi Bella memang, kalau dikeluhkan pun tidak akan ada habisnya karena mereka sangat benci padanya.
"Sudah puas bermain-main?" Tanya Beni yang tidak habis pikir dengan putra sulungnya itu.
"Belum." Viko menjawab dengan santai tanpa berpaling dari layarnya.
"Kamu ini penerus keluarga Narendra. Ayok lah Viko, Papa tau kamu masih ingin mencoba kembali mendapatkan Tasya tapi sadar, dia sudah menikah dan memiliki kehidupan yang baik di sini. Kamu juga harus melanjutkan hidup kamu. Kalau kamu tidak bisa hidup dengan sampah seperti istrimu ini, setidaknya kamu sukses, kamu ceraikan dia dan kembalikan dia kepada kedua orang tuanya. Bijaklah dalam berpikir, siapa yang tidak akan mau dengan putra papa kalau dia benar-benar menjadi CEO perusahaan yang sukses."
"Tapi yang saya mau hanya Tasya, tidak ada yang lain. Dan Bella masih dibutuhkan dalam hal ini. Salah sendiri dia datang ke dalam hidup saya. Jika dia ingin pulang kepada kedua orang tuanya silahkan. Tapi mau bagaimana pun kedua orang tuanya saja sudah membuang dia ke jalanan."
Bella sakit mendengar perkataan Viko, tapi itulah kenapa dia tidak bisa pergi dari kehidupan Viko. Karena kedua orang tuanya sudah kepalang malu saat dia hamil di luar nikah. Dia merelakan semuanya demi mendapatkan Viko, demi membalaskan dendamnya pada Tasya, tapi ujungnya dia juga yang menderita karena kelakuannya.
Rena tak habis pikir, dia memang membenci Bella tapi bukan itu masalahnya. Dia bingung bagaimana menyadarkan putranya kalau sekarang Tasya sudah memiliki orang lain yang harus dia akui kalau Aldo Prayoga jauh lebih baik daripada putranya. Rena memang sangat menyukai Tasya untuk menjadi menantunya, tapi ini salah. Dia juga tidak mau kalau sampai putranya menjadi lebih gila dalam bertindak seperti ini. Mungkin memang jalan satu-satunya adalah bicara dengan Tasya?
"Bang, Mama tidak pernah mengajarkan kamu seperti ini loh. Gak baik, biarkan Tasya bahagia dengan pilihannya, bukannya kemarin kamu sudah merelakan dia dan berusaha melanjutkan hidup? Kenapa sekarang begini lagi?"
Viko tidak menjawab, masalahnya memang ada pada dirinya. Tapi memang semakin lama dan semakin keras dia berusaha melupakan Tasya, tidak membuahkan hasil. Sama sekali tidak ada gunanya, yang ada dia semakin terobsesi untuk merebut apa yang memang seharusnya menjadi miliknya. Sejak dulu memperjuangkan Tasya, Viko memang orang yang pantang menyerah, dia pernah menjadi seorang gentleman di hadapan Tasya, sampai akhirnya dia menjadi seorang bajingan di mata orang yang sangat dia cinta.
"Baik, saya akan pulang ke Bandung, tapi berhenti ikut campur tentang apa yang memang ingin saya lakukan."
__ADS_1
Rena dan menghela napas, tapi mereka mengiyakan kemauan putranya. Setidaknya biarkan Viko kembali ke Bandung, mungkin seiring berjalannya waktu Viko akan mengerti dan menerima kenyataan kalau apa-apa yang sudah hilang, tidak akan bisa kembali. Termasuk Tasya dalam kehidupannya.
Namun ya itu ekspetasi kedua orang tuanya, Viko mengiyakan agar cepat selesai. Dia hanya perlu menjalankan perusahaan untuk mencapai target orang tuanya beberapa bulan, setelah itu dia bebas. Iya, berpisah sementara sambil memikirkan apa langkah selanjutnya yang harus dia ambil. Bukannya jika hubungan Al dan Tasya semakin lama akan semakin membosankan seperti apa yang pernah dia alami? Dan di saat seperti itulah Viko bisa masuk ke dalam celah hubungan keduanya.
.
.
.
Selesai makan siang dari kantin, Tasya dan Angkasa berjalan di lorong rumah sakit untuk kembali ke ruangan mereka. Namun langkah mereka melambat saat bertemu dengan keluarga Viko. Ada bella dan Viko juga di sana. Mau lari tapi mata mereka sudah saling bertatapan, kan tidak enak juga kalau sampai menghindar karena masalah lama.
Tasya menguatkan dirinya sendiri dan berjalan menghampiri mereka untuk menyalami kedua orang tua Viko. Ya bagaimana pun mereka dekat, Tasya adalah wanita pilihan mereka semenjak menjadi pacar Viko, namun karena kesalahan fatal yang anaknya lakukan, mereka harus merelakan Tasya dan berusaha menerima Bella. Mata Angkasa tidak lepas dari Viko yang kini menatap tajam ke arahnya. Tidak, Angkasa tidak akan membiarkan Tasya sendirian menghadapi bajingan itu dan keluarganya.
"Baik kok, Tante. Tante dan Om gimana kabarnya? Kalian di Surabaya?"
Rena terkekeh, dia menjelaskan maksud kedatangan mereka ke Surabaya pada Tasya. Dia juga mengatakan kalau tidak akan lama berada di sini karena harus membawa Viko dan Bella pulang ke Bandung untuk mengurus perusahaan Narendra Group, Entah kenapa ada perasaan lega dalam diri Tasya mendengarnya, itu berati Viko tidak akan di sini lagi, kan?
"Gimana kamu sudah isi?" Tanya Rena yang malah mengusap perut rata Tasya.
Tasya terkekeh. "Belum, Tante. Tapi bukan karena gimana kok, Tasya dan Al memang ingin menunda untuk memiliki anak. Karena katanya takut kecapean kalau sambil intership."
__ADS_1
"Bagus, berarti suamimu itu bertanggung jawab dan pemikirannya matang. Nanti tolong sampaikan salah Om pada nak Aldo ya," ucap Beni.
"Iya, Om nanti Tasya sampaikan."
Mereka bicara agak lama sebenarnya, karena banyak yang mereka tanyakan, mungkin karena sudah lama tidak berjumpa. Tasya tidak menolak juga karena memang sudah menganggap mereka orang tuanya. Meskipun ya cukup jengah untuk Bella yang sedari tadi muak mendengarkan pujian-pujian karena melihat Tasya yang sudah menjadi seorang dokter cantik.
Tasya sedikit melirik ke arah Bella "Gimana keadaannya sekarang?"
"Gak usah sok baik!" Ucapnya tegas. Tidak peduli juga mertua dan suaminya akan semarah apa. Kalau dia sampai disiksa Viko setelah ini juga dia pasrah. Dia sudah lelah, tapi tidak bisa menceritakan apapun termasuk kepada Angkasa sahabatnya yang kini ada di hadapannya. Sebenarnya Angkasa sedari tadi memperhatikan Bella tapi ya bagaimana pun mereka sudah tidak ada hubungan lagi, Bella sendiri kan yang memintanya? Jadi dia berusaha tidak peduli.
"Bella!" Ucap Rena Tegas.
Bella mengacuhkan panggilan tegas itu, sudah dia bilang kalau dia tidak peduli dengan semuanya. Tasya juga tidak peduli sih sebenarnya, dia bertanya ya karena nalurinya sebagai seorang dokter. Bukan peduli karena pernah mengenalnya, karena dari sudut mana pun perkenalan mereka tidak ada baiknya sama sekali.
"Maaf ya, dia emang kurang ajar. Senang bisa bertemu kamu lagi, Sayang. Semoga kamu selalu sehat dan sukses. Semoga bahagia selalu ya, Sayang."
Rena memeluk Tasya dengan sayang, pelukan yang selama ini selalu Bella inginkan dari seorang mertua. Lagi-lagi Tasya mendapatkan semua yang dia mau. Benci sekali Bella pada Tasya, sangat benci.
Tasya membalas pelukan Rena, namun dia diam saat Rena membisikkan sesuatu di telinganya. Untuk beberapa saat dia berpikir, setelah itu dia mengangguk. Rena yang merasa mendapat jawaban tersenyum.
"Kalau begitu kami pamit ya, karena besok kami harus pergi ke bandara sorenya."
__ADS_1
Tasya dan Angkasa tersenyum, setelah itu mereka kembali berjalan menuju ruangan mereka. Ya setidaknya ada Angkasa tadi yang menemaninya. Jadi dia bisa menghadapi mereka. Tasya menoleh ke arah Angkasa. "Makasih, Sa."
Angkasa mengangguk dan mengusak rambut Tasya pelan. Sudah kewajibannya sebagai sahabat selalu melindungi Tasya kalau Al tidak ada.