
Pagi harinya mereka masih tertidur dengan pulas, sampai akhirnya suara bell menggema di seluruh ruangan. Al yang mendengar itu langsung bangun, tapi melihat istrinya masih pulas, dia tidak tega membangunkannya. Akhirnya dia sendiri yang keluar kamar dan membukakan pintu. Tentu dia juga sudah berpakaian.
Angkasa, Yoda dan Belva menghela napas saat melihat Al yang masih berantakan. Yang benar saja jam 12 dia baru bangun tidur? Tapi berbeda lagi dengan raut Angkasa dan Yoda yang mengerti kenapa Al bangun kesiangan.
"Sukses?" Tanya Yoda.
Al mengacungkan jempolnya seraya menutup mulutnya karena menguap, tentu sukses. Itu kenapa dia bisa bangun terlambat saking suksesnya. Memang kalau urusan seperti ini, sharing dengan Yoda dan Angkasa sangat membantu. Pasalnya mereka yang lebih paham walaupun belum pernah melakukannya.
"Enak kan? Bilang apa dulu dong, Ganteng?" Tanya Angkasa sedikit menggoda temannya itu.
"Thanks, buruan masuk."
"Aishh dasar kalian om-om mesum najis!" Belva melenggang masuk duluan ke rumah itu, akan terkontaminasi otaknya kalau sampai mendengarkan percakapan mereka yang sangat amat ngawur, dia kan masih polos.
"Tasya mana?" Tanya Belva.
"Masih tidur, kecapean dia. Beberapa jam lagi bangun paling," jawab Al santai.
Ponsel Belva berbunyi menampilkan notif pesan dari Tasya. Belva bingung, kenapa juga harus lewat iMess padahal kan tinggal keluar kamar saja.
My Taca 😽 : Bel
My Taca 😽 : P
My Taca 😽 : Belva tolongin gue
My Taca 😽 : Tolong bilangin ke Al suruh bawain gue baju tidur. Gue mau keluar susah!
Belva mengerutkan keningnya. "Al, Tasya minta ambilin baju katanya susah keluar ... "
Polos sekali Belva bicara seperti itu, tidak tau saja efeknya sampai ke Al karena Yoda dan Angkasa tertawa puas sekali. Bisa-bisanya Tasya bicara dengan Belva yang sama lemotnya seperti dirinya.
"Kenapa sih anjir kok ketawa, itu istri lo kenapa anjir susah keluar. Lo kunciin?" Tanya Belva panik.
__ADS_1
Al menggeram dan menggaruk kepalanya asal. Pusing sekali ternyata menghadapi Belva dan Tasya. Padahal Al juga membawa ponsel, tapi gadis itu malah mengirim pesan pada Belva. Tentu dia jadi bahan olokan teman-temannya.
"Ck, bentar dah gua urus dulu bini."
"Hahahahaha anjir ngabrut, NGAKAK BRUTAL!" Kata Yoda.
"Polos banget anjir si bocil, bisa-bisanya," timpal Angkasa.
"Brisik anjir!" Al melemparkan bantal sofa ke arah mereka berdua, kesal sekali Al melihat tampang-tampang meledek seperti itu. Sabar-sabar memang kalau mempunyai istri seperti Tasya.
Setelah mengambil baju untuk istrinya, Al berjalan ke kamar atas lalu masuk ke kamar itu. Dia mendapati Tasya sedang bermain ponsel di atas kasur.
"Kenapa kamu bilangnya harus ke Belva, Sayang?" Al yabg gemas pun langsung memeluk Tasya dan menciumi bibir gadis itu. Benar-benar menggemaskan, kadang ingin Al makan saking gemasnya.
"Ya aku kira kamu gak bawa hp, lagian kaget kenapa mereka kesini pas lagi kaya gini. Tadi aku mau keluar jadi gak bisa, mana gaun semalem kamu sobek. Padahal bagus gaunnya." Ucap Tasya sembari mengusap-ngusap gaun yang ada di samping ranjangnya.
"Kan sengaja dibeli untuk disobek," jawab Al santai.
"Males banget, yaudah sana kamu ke bawah lagi. Aku mau pake baju malu!"
"Mass!!!!" Tasya membulatkan matanya, ya malu lah. Tapi dia juga heran kenapa dia bisa sebrutal semalam. Ini nih yang selalu dia herankan setiap habis melakukannya dengan Al. Dia jadi suka merasa brutal kalau mengingat-ngingat kejadian malam panas mereka.
"Hahaha, yaudah sana pake baju. Atau mau lanjut yang semalem?" Tanya Al.
Tasya mengambil guling dan bersiap-siap memukul Al, tapi sebelum mengenai pria itu, Al sudah lebih dulu kabur ke luar kamar. Memang menyebalkan sekali Aldo Prayoga itu, untung saja Tasya menikmatinya semalam. Kalau tidak Al sudah habis dia gigit. Gigit tangan Al maksudnya.
Setelah selesai berpakaian, Tasya melirik ke sekitarnya Ternyata berantakan sekali, tidak heran sih memang. Memang mereka melakukannya di mana-mana. Itu sedikit membuat Tasya tersenyum dan mengusap perutnya. "Semoga aja aku cepet hamil, biar semuanya seneng."
Tasya menuruni anak tangga, terlihat semuanya sedang berkumpul. "Morning guyss."
"Morning gundulmu! Udah mau setengah satu lo bilang pagi?!" Kesal Belva.
Tasya hanya mengeluarkan cengiran khasnya lalu berlari ke dapur. Ya memang bermain semalaman dengan Al dia tidak haus? Tenggorokannya terasa sangat kering bahkan sekarang.
Dia meneguk air minum sampai 4 gelas, untung saja Tasya memang kuat minum, kalau tidak dia mungkin sudah bega dan kembung. Sebelum menghampiri mereka Tasya tidak lupa menyiapkan cemilan dan juga minuman untuk teman-temannya. Akan terasa garis kalau mengobrol tidak membawa cemilan.
__ADS_1
"Nih." Tasya menaruh beberapa cemilan dan minuman di atas meja. Setelah itu dia duduk di samping Al dan memeluk suaminya itu sambil mendusel di dadanya.
"Cape ya, Sya?" Tanya Angkasa.
"Iya, gue tidur jam 4 kayanya," jawab Tasya polos.
Astaga, apa Tasya tidak bisa lebih jahat sedikit untuk berbohong. Lagi-lagi karena ucapannya, malah pipi Al yang merona. Pasalnya mereka melirik dengan tatapan menggoda, kecuali Belva yang sibuk dengan cemilannya.
"Makanya, kalau belajar atau bikin CV nanti aja elah. Lo itu terlalu memforsir, jadi gitu deh kurang tidur. Gak baik! Apalagi lo ada riwayat asma, magh." Peringat Belva yang jiwa dokternya sedang kambuh.
"Loh gak ngerjain CV gue tuh-"
Al menutup mulut istrinya lalu mengecup-ngecupi puncak kepalanya. Lagi-lagi dia harus menghela napas karena kelakuan istrinya. Tasya menatap Al, oh dia paham lalu perlahan melepas tangan suaminya dengan lembut. "Gue tuh semalem itu apasih, baca-baca ulang buku log. Iya itu!"
Yoda dan Angkasa tertawa puas, apalagi dengan Belva yang mudah mengiyakan pernyataan Tasya. Memang cocok kalau Tasya bermain dengan Belva. Berbeda dengan Monik yang memang otaknya sudah penuh pikiran kotor akibat lebih dekat dengan Yoda dan Angkasa.
"Rumah sakit tempat kita koas lagi butuhin banyak dokter, mau coba lamar ke sana?" Tanya Angkasa tiba-tiba.
"Premier?" Tanya Al.
"Iya, kemari Om gue bilang lamar aja ke sana. Lumayan tau gajinya di atas rata-rata dokter di RS lain. Kalau mau sih, apalagi kan buka banyak lowongan. Maksudnya kan kita bisa bareng," timpal Belva.
"Dokter gigi nerima juga ga?" Tanya Tasya. Ya karena mereka kan dokter umum, tapi bukan berarti melupakan Monik juga. Kasian kalau sampai hanya Monik yang terpisah. Tapi sebenarnya mereka tidak harus bersama kok, cuma berhubung banyak ya kenapa tidak bersama-sama?
"Ada, malahan ada beberapa dibutuhin. Tapi masalahnya lowongan ditutup Minggu ini," lanjut Belva.
"Bisa E-mail kan? Nanti suruh buat aja si Monik bikin dah di Bandung. Dia gak lama juga pasti ikut si Arka. Setelah itu kita kirim ke rumah sakitnya," usul Yoda.
"Gue mah udah siap sih, kalian udah?" Tanya Belva.
"Kayanya kalau CV segala macam kita masing-masing udah siapin dari lama deh. Tinggal tambah rumah sakit tujuan beres," kata Tasya.
"Bener, yaudah hubungin Monik coba," sambung Al.
Setelah itu mereka menghubungi Monik. Iya, memang dalam setiap langkah manusia memulainya masing-masing, tapi bagi mereka kalau bisa bersama pasti akan diusahakan. Apalagi mereka berjuang dari awal sama-sama. Semoga saja mereka mendapatkan pekerjaan itu bersama juga, apalagi dengan nilai mereka yang memang bagus-bagus juga. Rasanya kalau ditolak akan aneh, tapi ya terkadang hidup juga harus realistis, di mana ada saja kehidupan yang tidak selaras dengan keinginan kita.
__ADS_1