My Perfect Bestie, No! Husband!

My Perfect Bestie, No! Husband!
Wahana Intership


__ADS_3


Pagi ini Tasya sedang bertarung di dapur, sudah satu Minggu ini mereka makan makanan cepat saji. Tasya takut kalau Al bosan, akhirnya dia mencoba untuk memasak, walaupun dia tidak tau hasilnya bisa dimakan atau tidak.


Berbekal pedoman youtube akhirnya Tasya memberanikan diri. Tasya memang bukan tidak bisa masak, dia bisa tapi hanya makanan simpel saja. Tapi dia mau belajar walaupun Al selalu melarangnya karena takut Tasya kenapa-kenapa.


Al yang mendapati istrinya tidak ada di kamar langsung mencarinya, matanya tertuju pada seseorang yang sepertinya sedang fokus memasak. Dia menggelengkan kepalanya, padahal sudah Al bilang dia tidak usah memasak.


Perlahan Al menghampiri Tasya dan memeluknya dari belakang. Menciumi tengkuk istrinya sembari menghirup aroma tubuhnya. Tasya tersenyum lalu mengusap pipi suaminya dengan lembut. "Kamu udah bangun hm? Nyenyak banget tidurnya, aku gak tega bangunin."


"Iya kebangun soalnya istri aku gak ada di sebelah, gak mau jauh," bisik Al.


Tasya terkekeh, memang ada-ada saja kelakuan suaminya itu. "Maaf ya, aku mau coba masak. Fast food terus gak sehat. Tapi gak tau sih ini bisa dimakan atau engga."


Al menghirup aroma masakan yang Tasya buat. "Emmm aku ada firasat kalau masakan kamu lebih enak dari di resto bintang lima."


"Ngaco, jangan dipuji dulu. Nanti aja, kalau beneran enak. Kalau gak enak yaudah kita delivery aja ya?"


Al mengarahkan wajah istrinya ke padanya, setelah itu mengecupnya dengan lembut. "Enak, pasti enak. Istri aku serba bisa."


"Ishhh diem-diem, Mas. Idung aku cuma satu, kalau dia terbang nanti aku gak punya hidung," kata Tasya yang berusaha biasa saja ditengah salting yang melanda.


"Hahaha gemes banget sih kamu," kata Al yang kembali menciumi pipi istrinya lalu dia duduk di meja makan sambil menunggu Tasya.


Setelah selesai Tasya membawa dua piring ke meja makan dan juga dua gelas susu. Al memang tidak suka kopi atau teh, katanya susu lebih sehat.


"Cobain." Tasya duduk lalu menangkup pipinya sendiri sambil menatap Al.


"Kamu juga makan."


"Iya aku makan kalau kamu udah cobain, mau tau enak apa engga," kata Tasya.

__ADS_1


Al menghela napasnya lalu menyuapkan chicken katsu curry yang Tasya buat. Pelan-pelan dia mengunyah dan tidak berkomentar apapun, dia malah menyuapkan lagi sendokan kedua, ketiga dan seterusnya. Membuat Tasya mengerutkan dahinya.


"Ihh, Mas Al. Enak engga, aku nungguin!" Kesal Tasya.


Al terkekeh melihat ekspresi Tasya, ya memang sengaja saja ingin mengerjainya. "Saking enaknya jadi lupa."


"Ishhh udahlah udah!" Tasya berpaling pada makanannya lalu menyuapkannya sendiri. Tidak buruk, ternyata lumayan juga. Pokoknya dia harus rajin memasak agar masakannya lebih enak dari ini!


"Makasih ya, udah masak buat aku." Al mengusap puncak kepala Tasya dan gadis itu mengangguk senang.


Tidak sia-sia dia bangun pagi sekali kalau Al menyukainya. Meskipun awalnya tidak percaya diri tapi Al menghargai usahanya, padahal masakan Tasya tidak seenak Ibu mertuanya.


.


.


.


Dua buah laptop, satu printer dan juga beberapa cemilan. Hari ini adalah waktunya mereka untuk mengambil wahana intership. Intership ini diadakan oleh kemenkes yang nantinya akan di sebar ke beberapa rumah sakit pilihan di seluruh provinsi.


Karena diadakan serempak, makan mereka harus cepat-cepat mengambil tempat terdekat, maka jika tidak mereka harus mengambil di luar provinsi. Tentunya itu akan berat untuk pasangan pengantin baru seperti Tasya dan Al.


Tasya akan selalu butuh Al, kalau tidak bersama Al dia takut. Bukan karena manja, tapi memang ada beberapa hal yang jika dilakukan bersama Al semuanya menjadi lancar. Dari mulai skripsi, sidang, koas mereka selalu bersama. Jadi Tasya berharap kalau intershipnya pun sama-sama.


Tiba-tiba ponsel Al berbunyi, tertera nama Aruna di sana. Tasya menahan Al agar tidak mengangkatnya. "Jangan."


"Aku gak suka, dia tuh emang ada apa-apanya sama kamu, kalau dia gak punya maksud lain aku kan oke oke aja. Maksudnya mau berteman sama siapapun aku gak larang, kan? Tapi kalau udah nyosor kaya gitu aku gak suka, Mas," lanjut Tasya sembari memeluk suaminya dengan erat.


"Yaudah kalau kamu gak suka gak akan aku angkat, lagian juga udah gak ada kepentingan," ucap Al.


"Dia pasti mau nanyain kamu mau ambil intership di mana, ketebak banget gak sih? Jangan dikasih tau, aku gak mau kamu bareng sama dia, nanti dia ambil kesempatan dalam kesempitan kaya waktu koas. Emangnya aku gak cemburu apa? Kalau bukan karena tuntutan profesional aku udah marah besar dia deketin kamu," gerutu Tasya.

__ADS_1


"Iya engga akan sayang, udah jangan cemburu gitu. Mau dari segi mana pun kamu pemenangnya."


Al berusaha menenangkan Tasya, dia paham sih Tasya banyak ketakutan. Hubungannya pernah kandas karena sebuah pengkhianatan dan sekarang dia menjalani hubungan serius dengan Al. Pasti dia takut saat Aruna mendekat seperti itu.


Dia harus membuat Tasya hilang dari traumanya, dia mau kalau Tasya bisa menjalani kehidupannya tanpa dibayang-bayangi dengan rasa takut seperti ini. Karena akan Al pastikan kalau dia tidak akan melakukan hal-hal yang bisa membuat Tasya bersedih. Dia mencintai gadis itu sejak lama, sejak masih kecil. Mana mungkin Al ingin melukainya.


Al mematikan ponselnya saat Aruna kembali menghubunginya. "Udah, udah aku matiin tuh. Sekarang kita fokus aja sama kehidupan kita ya."


Tasya mengangguk dan menciumi pipi suaminya, dia pokoknya sangat mencintai Al. Dia tidak akan membaginya pada siapun.


Sudah habis waktu bermanja-manja, kini mereka fokus pada laptop masing-masing. Mereka harus bersiap-siap berperang untuk mendapatkan wahana tujuan mereka.


"Ini jam berapa sih, lama," kesal Tasya.


"Bentar lagi, sabar Sayang."


"Pokoknya pas dibuka langsung pilih RSUD Bhakti Dharma Husada, biar sama. Ini aku juga udah chattan sama yang lain. Sumpah ya kalau aku gak sama kamu aku nangis!"


"Ya jangan nangis dulu, kita usaha dulu. Kalau gak bareng kita pikirin sama-sama ya?" Al membawa Tasya dalam pelukannya, kasian dia sudah sejak semalam overthinking.


"Ya lama tapi, aku jadi mules."


Memang saat-saat seperti ini selalu saja membuat Tasya tidak karuan. Tapi Al malah mencium-ciumin bibirnya, kalau begitu bagaimana Tasya tidak salting? Perasaannya yang tadinya bercampur aduk kini malah berubah jadi berbunga-bunga, memang aneh-aneh saja.


Sampai akhirnya waktu yang ditunggu-tunggu tiba, dengan cepat mereka langsung berburu tujuan mereka. Tidak ada suara, mereka sama-sama sibuk memilih sampai akhirnya.


"DAPET!" Ucap mereka berbarengan.


Mereka berdua saling melirik, beberapa saat mereka terdiam lalu Tasya memeluk Al dengan erat. "SERIUS DAPET?"


"Iya, Sayang. Aduuhhh ini akuuu sesak kamunya peluk erat banget," kata Al yang sedikit terkekeh, tapi tidak bohong Tasya memeluknya erat sekali.

__ADS_1


Namun Tasya tidak peduli dan malah mempererat pelukannya pada Al. Dia senang bisa bersama Al, mereka akan intership bersama, lulus bersama dan nanti juga akan bekerja di tempat yang sama. Tasya tidak bisa membayangkan, pasti akan sangat menyenangkan.


__ADS_2