
Setelah selesai pengarahan, mereka kini sudah berada di mobil. Sesekali dia melirik ke arah istrinya yang sesekali meringis kesakitan. Pasti maghnya kambuh lagi, sudah Al duga. Bagaimana tidak? Tasya belum makan nasi sejak tadi pagi dan sekarang mereka pulang hampir sore.
Tanpa bicara Al menghentikan mobilnya di sebuah resto terdekat, apa saja deh yang terpenting Tasya bisa mengisi perutnya. Tasya menatap ke arah Al. "Kenapa berhenti, Mas?"
"Sakit kan? Bandel sih, kita makan dulu, setelah itu minum obat," ucap Al.
"Gak mau, Mas-"
"Gak menerima penolakan."
Al turun dari mobilnya dan membukakan pintu untuk Tasya. Tidak lupa juga dia menyangga bagian atasnya agar Tasya tidak terbentur. Memang istrinya ini kalau bukan dia yang inisiatif, Tasya sepertinya akan lupa makan sampai besoknya lagi.
Dengan lembut Al menggenggam tangan Tasya dan masuk ke resto, dia juga mendiktekan makanan karena Tasya yang memang sulit. Untungnya saja Al hafal dengan semua yang Tasya sukai, jadi tidak perlu takut tidak di makan.
"Kenapa gak bilang kalau kambuh?" Tanya Al yang kini membawa Tasya dalam dekapannya.
"Nanti kamu marah karena aku bandel, nanti kamu juga khawatir, aku gak mau ngerusak acaranya juga. Ini penting buat kita," jelas Tasya.
"Ya penting, tapi kamu lebih penting dari apapun. Apalagi intership mulai minggu depan. Yang ada kamu gak bisa ikut intership hari pertama."
"Yaiya sih, makasih ya kamu selalu jadi orang yang peduli sama aku," ucap Tasya.
"Makasih apasih kaya ke orang lain aja, gak boleh bilang gitu, Sayang." Ingin rasanya Al mencium bibir Tasya, namun sayang sekali ini tempat umum, akhirnya di hanya bisa menarik hidung Tasya gemas.
Setelah makanan mereka datang, mereka langsung saja menyantapnya. Lagi pula hari juga sudah mau gelap, takutnya akan terjadi hujan, meskipun mereka menggunakan mobil tetap saja tidak enak rasanya.
Tidak butuh waktu lama mereka kembali melanjutkan perjalanan menuju pulang. Sesampainya di rumah, Tasya terkejut melihat mobil mertuanya sudah berada di depan. Mereka memang tau pasword pintu rumah ini sih jadi tidak heran. "Tapi mau apa?"
Mereka berdua yang penasaran langsung masuk ke dalam, terlihat Diana tersenyum senang saat melihat kedua anaknya pulang. Apalagi dengan menenteng jas putih seperti itu, rasanya ya senang saja melihatnya.
"Bunda." Tasya tersenyum dan menyalami Ibu mertuanya, begitu juga dengan Al.
"Ada apa, Bund?" Tanya Al yang memang sedikit heran karena Ibunya yang datang tiba-tiba..
__ADS_1
"Engga, Bunda takutnya kalian makan junk food terus, jadi Bunda udah masakin kalian. Gak lama kok, Bunda khawatir aja sama kalian. Udah makan?" Tanya Diana.
Tasya dan Al mengangguk. "Udah kok, Bund."
"Baguslah kalau udah, jadi kalau nanti malam kalian lapar tinggal dihangatkan saja ya. Jangan sampai telat makan, jaga kesehatan, nanti Bunda akan sering-sering ke sini buat masakin kalian. Yang terpenting jangan lupa istirahat," peringat Diana.
Tasya dan Al mengangguk. Tapi jauh di lubuk hati Tasya dia merasa kepikiran. Mendadak banyak sekali yang dia pikirkan, tapi untuk sekarang dia mencoba menghempas semua perasaan itu. Karena tidak enak juga dengan mertuanya.
"Yaudah, karena kalian udah pulang, Bunda pulang dulu ya. Kasian soalnya Ayah nunggu di rumah karena Bunda ke sini sendiri. Kalian baik-baik ya, akur-akur jangan berantem." Diana menciumi kedua anaknya itu dengan kasih sayang, setelahnya Al dan Tasya mengantar Ibu mereka ke depan.
.
.
.
Setelah membersihkan diri Al keluar dari kamar mandi sembari mengeringkan rambutnya dengan handuk. Dia menatap Tasya yang kini nampak cemberut entah karena apa.
Setelah selesai merapikan rambut dan memakai sedikit parfum Al naik ke atas ranjang dan memeluk istrinya dengan lembut. "Kenapa hm?"
"Kenapa marah, bilang lah? Ada yang ganggu pikiran kamu?" Tebak Al namun tepat sasaran.
Tasya mengangguk, membuat Al mendekatkan wajahnya pada sang istri. "Kenapa? Apa yang bikin kamu kepikiran. Bagi sama aku, siapa tau bisa dipikirkan bersama."
"Bunda gak percaya sama aku ya buat urusin kamu?" Tanya Tasya dengan raut wajah sendunya.
"Ehh kok mikir gitu?" Al menangkup pipi Tasya dengan sebelah tangannya dan menatapnya lekat.
"Ya tapi bisa aja gak sih, biasanya Bunda siapin makanan kamu setiap hari, terus siapin yang terbaik, kalau sama aku kadang kita delivery makanya Bunda takut kamu kenapa-kenapa," lanjut Tasya.
"Jadi kamu ngerasa insecure karena itu, right?" Tanya Al.
Abel mengangguk, bukan tersinggung. Tapi ya menjadi pemikiran saja untuk Tasya kalau dia belum bisa dipercaya untuk mengurus suaminya. Tasya tau sih memang dia belum sesempurna itu, makanya dia jadi merasa insecure.
Al mengeratkan pelukan pada Tasya, mencoba memberikannya ketenangan agar tidak berpikir macam-macam. "Bunda bukan gak percaya sama kamu, Sayang. Tapi Bunda itu sayang sama kita, kita anak bungsu, jauh dari orang tua juga kan? Beda sama Zea dan Bang Fadil, begitu juga dengan Bang Radit yang tinggal ditengok ke seberang rumah."
__ADS_1
"Jadi Bunda khawatir, apalagi kita sama. Sama-sama satu profesi, Bunda pasti paham kesibukan gimana. Makanya bunda seperhatian itu. Maafin bunda ya kalau bikin kamu tersinggung?" Ucap Al.
Tasya menggeleng. "Engga, Mas. Aku gak tersinggung, cuma aku kepikiran aja. Takut gak bisa jadi yang terbaik buat kamu, belum lagi kalau nanti kerja. Pasti aku bakalan kurang urusin kamu, apalagi aku baru belajar, kan?"
"Tuh tau kamu lagi belajar, seharusnya gak insecure, kan? Yang namanya belajar gak langsung bisa dan pro. Pelan-pelan, nikmatin prosesnya, aku aja bahkan pangling liat kamu setiap hari. Makin banyak bisanya, dari Tasya si anak manja sekarang jadi Tasya istri aku." Al terkekeh.
Membuat Tasya terharu mendengarnya. "Maaasss aku serius tau, ini aku beneran kepikiran dan mikir kemana-mana."
"Serius, Sayang. Aku pernah bohong sama kamu? Kau itu serba bisa, semua orang tau itu termasuk bunda. Jadi kalau serba bisa bunda juga percaya kamu bisa urusin anak gantengnya ini dengan baik," jawab Al percaya diri.
Tasya memukul lengan Al pelan. "Ishh pede banget deh ahhh, untung emang ganteng. Suamiku!"
"Suami Selena Gomez."
"Mana sih Selena aku samperin juga nih?" Tasya beranjak dari tempatnya namun Al menariknya lagi ke dalam pelukan. Lucu saja melihat tingkah istrinya seperti ini.
"Posesif."
"Kalau aku gak posesif nanti kamu kaget, loh kok istri aku biasa aja. Loh kok istri aku cuek? Nanti kamu overthinking!"
"Yang suka overthinking itu kamu, Jelek!" Al menarik hidung Tasya karena gemas.
"Masss hidung keramat akuu ihh, kamu kebiasaan! Dia marah sama kamu loh soalnya di KDRT. Nanti aku laporin ke komnas perempuan," ucap Tasya.
"KDRT apa? Keseruan dalam rumah tangga?" Goda Al.
Tasya tertawa mendengarnya. "Ihhhh, Massss."
"Apa sayang apa?"
"Kamu nakal banget!"
"Aku juga sayang sama kamu, Tasya Aurell," jawab Al sambil tersenyum.
"Stress banget punya suami kaya Aldo Prayoga ihhhh!"
__ADS_1
"I love you more, my beloved wife." Al menciumi Tasya dengan gemas. Ya memang apalagi yang dilakukan pengantin baru seperti mereka kalau bukan bercanda seperti ini. Apalagi mereka belum mempunyai anak, masih bebas untuk bermain-main seperti ini.