
"Terima kasih, Mas!" Ucap Tasya sekali lagi seraya mengusap-usap pipi suaminya.
"Tadi udah makasih, sekarang makasih lagi?" Tanya Al seraya terkekeh.
Tasya memilih tidak menjawab, dia malah memeluk leher suaminya dan menciumi pipinya berkali-kali. Dia tidak pernah menyangka kalau akan mendapatkan suami seperti Al yang sangat pengertian dan menyayangi dirinya sampai seperti ini. Indah memang cara semesta mempersatukan mereka.
Al juga senang, dia langsung membenamkan wajah di ceruk leher istrinya. Berasa di dalam pelukan Tasya seperti ini, membuat Al merasa bahagia. Tasya selalu membuat Al menjadi seorang pria yang tidak pernah gagal. Responnya dalam hal apapun selalu membuat Al senang dan ingin terus membahagiakan istrinya dengan cara apapun.
"Kamu cinta banget sama aku ya, Mas?"
Pertanyaan itu membuat Al mengadahkan kepalanya pada Tasya dan tersenyum simpul. "Tanpa perlu ditanya lagi seharusnya kamu udah tau. Aku selalu sayang sama kamu dari hari ke hari."
"Kalau nanti aku gendut karena hamil masih suka?" Tanya Tasya.
"Suka," jawab Al lembut.
"Kalau setelah melahirkan aku jelek tetep suka?" Random memang, tapi ingin saja bertanya.
"Suka, Sayang. Ahhh bisa gila aku liat kamu, Sayang. Aku sangat mecintai kamu," ucap Al dengan bersungguh-sungguh.
Tasya tersenyum mendengarnya, setelah itu dia kembali mengalungkan tangan di leher suaminya. Dengan lembut, namun saat dia akan mencium bibir suaminya, Al menjauh dan menggeleng. "Ini acara aku, biar aku yang mengatur semuanya dan memulai apapun lebih dulu," bisik Al yang kini menggendong tubuh Tasya ala koala dan mendudukkan gadis itu di meja rias.
__ADS_1
Tasya bingung sih, tapi dia paham agenda malam ini akan seperti apa. Tapi kenapa Al melarangnya untuk memulai? Ahh pasti fantasinya sedang berkeliaran kemana-mama. Baik kalau begitu Tasya hanya akan mengikuti alur saja malam ini.
Perlahan Al membantu Tasya melepaskan perhiasan yang melekat di tubuhnya, itu jelas akan menganggu, Al tidak mau Tasya sampai terluka, setelah itu dia menarik jepit yang satu satunya menjadi pengikat rambut Tasya, membuat rambut hitam bergelombang itu terurai indah, Al sangat suka dengan rambut Tasya yang digerai seperti ini.
"Kamu mau buat aku salting kah malam ini?" Tanya Tasya seraya menatap Al yang kini malah mengusap-usap pipinya seraya menatap tepat ke manik mata Tasya.
"Mau buat malam termanis buat kamu."
Al melingkarkan tangannya ke belakang pinggang Tasya. Setelah itu dia menarik tubuh Tasya agar turun dan mendekat ke arahnya. Perlahan Al mendekatkan wajah mereka, menyatukan ujung hidung mereka berdua, Al tidak memulai dari bibir, dia langsung menciumi rahang dan leher Tasya dan mengelus punggung wanitanya dan mulai melakukan semuanya sesuai dengan kehendaknya. Tasya sendiri hanya berusaha untuk mengimbangi permainan, karena memang selama ini hanya Al yang banyak melakukan tugasnya.
Tasya melenguh setiap suaminya menyesap lehernya dengan kuat, apalagi ciumannya kini turun ke bagian tengah dadanya. Untuk sesaat Al membenamkan wajahnya di benda kenyal kesukaannya itu seraya menghirup aroma tubuh Tasya yang sungguh membuatnya candu.
Puas melakukan itu Al menggendong Tasya ala brydal dan membaringkannya di kasur dan menciumi bibir Tasya yang sudah sejak tadi menggodanya. Ciuman mereka terasa panas, apalagi Al yang memang sudah sejak awal memimpin permainan dan mendominasi. Jika seperti ini rasanya Tasya selalu terbang dan sering kewalahan melayani Al.
Tasya kemudian kembali melenguh saat Al kembali menggerayangi tubuhnya, sekarang Tasya benar-besar sudah nyaris polos tanpa sehelai benang, tapi juga berusaha menikmati semua hal yang Al lakukan atas tubuhnya. Karena Al wajahnya juga tampan, sangat tampan bahkan menurut Tasya. Membuat Tasya selalu menikmati jamahan dari tangan kekar suaminya itu.
"Ahh emmhh, M- Maass-"
"Nikmati, Sayang. Kita terbang sama-sama." Suara Al terdengar berat, setelah itu dia kembali melanjutkan aktivitasnya.
Tasya memejamkan matanya membiarkan dirinya terhanyut dalam sentuhan Al yang kadang membuatnya hampir gila. Al selalu memperkenalkan sesuatu yang baru untuknya dan sampai saat ini Tasya selalu enjoy dengan semua hal baru yang akhirnya dia tahu.
Ciuman Al turun ke perut dan kini ke kedua pahanya, tanpa sungkan pria itu menanggalkan kain tipis yang masih menutup pusat tubuh Tasya. Tasya menarik napasnya, dia membuka matanya dan menatap Al, menunggu apa yang selanjutnya akan pria itu lakukan.
__ADS_1
Al menelan ludahnya sendiri menatap Tasya, sebelum akhirnya dia kembali mendekatkan wajahnya kemudian menciumi pusat dari tubuh Tasya tersebut, membuat Tasya terkejut, ada hal semacam ini? Karena selanjutnya bukan hanya mencium tapi Al juga memainkan lidahnya di sana, sebuah perasaan yang sebelumnya tidak pernah Tasya rasakan. Tasya melenguh beberapa kali, refleks tangannya menarik rambut Al menuntut yang lebih dari pada ini.
"Oughh, M-mass Al ahhh emmhhh kamu ngapain?" Tanya Tasya terbata seraya mencengkeram kuat rambut suaminya yang berada di bawah.
Namun Al tidak mengindahkan, dia kini malah melakukannya sembari memainkan jari-jarinya di sana. Membuat Tasya semakin menggila karenanya dan akhirnya menuju pelepasan pertamanya.
Al bangga bisa membuat Tasya melenguh sekuat itu malam ini. Pokoknya dia akan memberikan terbaik untuk Tasya. Al berdiri lalu menanggalkan semua pakaiannya sembari menunggu Tasya siap.
Setelah itu dia kembali mengukung tubuh istrinya di bawah dan melancarkan aksinya lagi. Tidak ada satupun yang terlewat dari kecupan penanda yang Al lakukan. Membuat Tasya lagi-lagi melenguh kenikmatan karena perlakuan suaminya. Gila, ini adalah permainan ternikmat yang pernah Al berikan padahal baru pemanasan saja. Tapi rasanya di bawah sana sudah meledak beberapa kali.
Keduanya telah khusyuk melanjutkan kegiatan masing-masing hingga Al akhirnya menyatukan kenikmatan mereka. Tasya memejamkan mata kuat-kuat. Tangan-tangannya di sisi tubuh kembali bertautan dengan ruas-ruas jemari Al. Kaki-kakinya melebar, tenggorokkannya kering, darahnya berdesir. Berbagai macam ketakutan dan kekhawatiran sempat berusaha mengganggunya tapi cepat dia tepis. Ranjang berderit keras dengan irama teratur. Tatkala Tasya dan Al akhirnya sama-sama meloloskan lenguhan panjang, setelah jam menunjukkan pukul 12 malam.
Al tersenyum dan mengecupi bibir istrinya lembut. "Keras banget suaranya. Suka?"
Tasya menenggelamkan wajahnya di dada bidang Al. Dia malu sebenarnya, tapi dia juga tidak tau kenapa bisa sepuas itu. Malam ini Al sangat membuatnya puas dan keluar sampai beberapa kali. Dengan lembut Al mengusap perut istrinya. "Selamat berjuang, kali ini gak ada yang menghalangi kalian untuk tumbuh."
Tasya tertawa geli dan menganggukkan kepalanya, meskipun lelah tapi dia senang. Karena kalau Tasya bisa sampai puas begini, apalagi Al kan?
"Terima kasih, Sayang."
"Aku yang harus berterima kasih," ucap Al seraya memeluk istrinya dengan erat.
Malam ini begitu indah, suasana sunyi ini membuat banyak romantisme tercipta. Mereka juga tidak bisa tidur dan akhirnya kembali mengulang kegiatan sampai pagi. Bergumul di ranjang seperti ini rasanya memang nikmat, apalagi dengan orang yang mereka cintai. Itu sebabnya mereka tidak kenal waktu dan barulah mereka tertidur saat jam 4 pagi. Memang luar biasa.
__ADS_1