
Oh iya buat yang suka novel berkonflik, aku cuma mau bilang di awal-awal ini aku gak akan kasih konflik berat. Karena di cerita sebelumnya aku buat konflik terus ya. Jadi mau bikin uwwu-uwwuan dulu.
Oke ... Okee! 🐰❤️
Jam 10 pagi, Aruna sedang mondar-mandir di kamarnya. Dia sedang memikirkan bagaimana merecoki bulan madu Tasya dan juga Al. Kalau Tasya berprasangka buruk soal Aruna yang mengikuti mereka. Ya itu benar adanya, bahkan saat mengetahui rencana bukan madu mereka Aruna sudah mempersiapkannya.
Bahkan dia sudah menahan kesal sejak di kapal karena melihat kemesraan keduanya. Katakan saja Aruna obsesi, tapi dia memang sangat menyukai seorang Al. Mempunyai daddy issue membuat dia mencari banyak afeksi pada sekitarnya termasuk pada Al.
Aruna sendiri bingung kenapa bisa setergila-gila ini pada Al. Padahal sebelumnya dia tidak pernah melakukannya. Tapi semenjak koass dan kadang mendapatkan project bersama, timbul lah perasaan pada hati Aruna. Meskipun pada saat itu juga dia tau kalau Tasya dan Al sudah bertunangan.
"Pokoknya kali ini rencana aku harus berhasil lagi. Gak bisa lah Tasya enak-enakan sama Al. Gak, gak boleh dibiarin!"
Aruna kini mengambil Sling bagnya. Rencana awal sudah pasti adalah membuat mood Tasya hancur, karena dengan begitu mereka tidak akan bisa bermesraan.
Aruna mengetuk pintu kamar Tasya dan Al. Untuk beberapa saat dia menunggu respon, namun sudah 5 menit tidak kunjung juga. Beberapa kali dia mengetuk pintu itu dan masih sama.
"Masa sih mereka masih tidur jam segini?" Gumam Aruna.
Namun tak selang beberapa lama , seorang cleaning service datang untuk membersihkan kamar Tasya dan Al membuat ekspetasi Aruna terpatahkan. Jadi mereka sudah check out? Tapi kemana?
Aruna panik dan langsung kembali ke kamarnya. Dia mencoba mencari beberapa informasi tapi tidak ada satu pun petunjuk.
"Bodoh banget kamu, Runa! Kalau gini kamu harus cari mereka kemana coba?!" Kesal Aruna.
Aruna kesal, dia benar-benar kesal. Pasti Tasya yang merencanakan ini semua. Kenapa sih Al lebih memilih Tasya dibandingkan dirinya? Padahal kalau dari segi perhatian menurut Aruna dia lebih unggul daripada Tasya.
Aruna mencoba membuka insta story, berharap salah satunya mengepost sesuatu di sana agar dia bisa tau lokasi mereka. Namun sia-sia, tak ada satu post pun di sana. Yang ada hanya video mereka berciuman saat sunset kemarin. Aruna kesal dan membanting ponselnya.
Kenapa mencintai seorang Al harus sesakit ini?
Di sisi lain, Tasya tersenyum kemenangan. Semalam dia merengek pada Al untuk pindah hotel. Tasya tau gelagat busuk Aruna. Semuanya terlalu mudah Tasya tebak karena memang berpengalaman berurusan dengan pelakor.
__ADS_1
Al dibuat pusing dengan kemauan Tasya pasalnya mereka harus mencari hotel yang bagus di mana lagi, apalagi sepagi itu. Tapi memang tidak ada yang sulit juga untuk seorang Aldo Prayoga dan akhirnya mereka mendapatkannya.
"Mas kamu gak tergoda sama Aruna, kan?" Tanya Tasya melirik Al yang sedang menyantap makanannya. Sekarang mereka sedang berada di salah satu resto. Setelah mereka menyewa sebuah private villa, Tasya mengajaknya jalan-jalan karena bosan.
"Gak lah, jangan overthinking, Sayang gak baik. Kita juga udah pindah hotel, jangan bahas orang yang gak perlu dibahas," ucap Al yang kembali memakan makanannya.
Lagi pula kenapa Tasya berpikir ke sana. Sudah jelas Al juga kesal, karena Aruna akhirnya dia harus menghabiskan waktu lebih lama di kamar mandi akibat mood Tasya yang rusak. Nasibnya sial sekali tadi malam.
Apalagi tadi pagi teman-teman mereka melalukan video call dan dengan polosnya Tasya mengatakan kejadian semalam. Otomatis dia menjadi bahan ejekan Angkasa dan Yoda karena gagal malam pertama. Untung saja Al masih diberi kesabaran yang cukup banyak.
Sama seperti pasangan pada umumnya, Al dan Tasya setelah mengisi perut, berkeliling lagi untuk mencari tempat bagus atau sekedar berphoto, tidak juga membeli beberapa barang yang Tasya inginkan.
Al sangat memanjakan Tasya, gadis itu sampai kesenangan. Seperti sekarang mereka sedang berada di tebing batuan karang. Melihat keindahan laut dari atas sini ternyata sangat menyenangkan. Meskipun ya Tasya sedikit takut. Tapi selama ada Al dia tidak perlu takut akan apapun, Al kan malaikat pelindung Tasya.
"Kamu suka di sini?" Tanya Al yang mengikuti istrinya yang kini jalan lebih dulu di depannya.
Tasya mengangguk dan melirik ke belakang, perlahan dia tersenyum saat mengetahui Al merekamnya. "Kamu suka banget jadiin aku objek kamera kamu."
Memang tidak tau kenapa, bahkan dalam laptopnya mungkin sudah ada ratusan ribu yang mereka ambil dari kecil sampai sekarang. Katanya untuk kenangan mereka di hari tua nanti.
"Sya, aku gak nyangka sahabat aku sekarang jadi istri aku," ucap Al tiba-tiba. Membuat Tasya berhenti dan menatap ke arah Al.
"Emangnya aku bakalan nyangka ya?" Tasya terkekeh lalu duduk sembarang dan menatap lautan. Al pun ikut duduk di samping Tasya dan menatap gadis yang ada di sampingnya itu. Menurutnya Tasya adalah pemandangan terbaik dari yang ada di depan sana.
"Karena kamu gak nyangka, selamat kamu udah naik pangkat jadi suami aku," lanjut Tasya.
"Kalau udah naik pangkat berarti aku pemenang dari semua orang yang datang ke kamu, kan?"
Tasya mengangguk, tentu saja. Bahkan sebelum menikah saja Al sudah jadi pemenangnya tanpa perlu Tasya bilang. Kenapa Al bertanya? Padahal Tasya yang sedang cemburu karena Aruna yang mengejar Al terus menerus, bahkan sampai mengikuti mereka bulan madu.
"Kenapa kamu tiba-tiba nanya deh, Mas?" Tanya Tasya keheranan.
"Viko imess kamu, minta maaf panjag lebar dan minta temenan." Al menunjukkan ponsel Tasya yang dari tadi dia pegang.
__ADS_1
Tasya terkekeh lalu mengambil ponselnya, perlahan dia menghapus pesan yang Viko tepat di depan Al. "Masih soal Viko? Bukannya kita pernah bahas ini ya? Bahkan sebelum nikah."
"Iya, tapi dia kan minta maaf dan minta temenan. Bisa aja dia rebut hati kamu lagi, secara cinta pertama?" Ungkapnya.
"Kalau kamu mau cemburu harusnya juga sama Chandra. Aku lebih dulu suka sama Chandra daripada Viko. Mau dia minta maaf, mau minta kembali, minta temenan, mau berubah gimana pun. Kalau aku udah sayang sama kamu mana mungkin lah aku balik."
"Dia juga udah sama Bella, Mas. Selingkuh itu bukan toleransi buat aku. Kamu lagi cemburu ya?" Tanya Tasya.
"Engga, Sayang." Tasya tersenyum lalu menyenderkan kepalanya di lengan Al, membiarkan dia hanyut dalam pandangannya pada semesta dan membiarkan sepoian angin yang berhembus di wajahnya.
Menikmati waktu berdua seperti ini adalah kesukaan mereka. Tapi kali ini rasanya berbeda, pokoknya mereka masing-masing sedang beradaptasi dengan kehidupan pernikahan yang mereka jalani.
"Jangan cemburu, aku bucin kan cuma sama kamu. Sampe dikata-katain juga aku terima karena sayang sama kamu, Mas," ucap Tasya pelan.
Al terkekeh mendengar perkataan Tasya, dia seperti sedang merajuk karena didiamkan, padahal Al diam karena sedang menikmati suasana.
"Liat aku sini," ucap Al.
Tasya membetulkan posisi duduknya dan menatap Al.
Cup ...
Al mengecup bibir istrinya itu dengan lembut. "Aku gak cemburu, kalau cemburu ya berarti aku naik satu tingkat bucinnya."
"Tap-"
Cup ...
Al kembali mengecup bibir Tasya, membuat pipi gadis itu merona merah karena malu. Kenapa selalu bisa menjadi sosok romantis padanya sih? Sudah tau dia lemah akan hal itu.
"Mass-"
Kini Al menautkan bibirnya, membuat Tasya tersenyum lalu membalas tautan bibir Al. Menikmati setiap perasaan yang datang dan suasana di sana yang seketika mendadak mendukung kemesraan mereka.
__ADS_1