My Perfect Bestie, No! Husband!

My Perfect Bestie, No! Husband!
Pengarahan


__ADS_3


Hari ini adalah hari di mana Tasya dan Al mendapatkan pengarahan untuk intership, semua peserta intership di Jawa Timur berkumpul di sana.


Selain untuk pengarahan mereka juga akan dibagi dalam beberapa kelompok nantinya dan diberi berbagai buku untuk mereka isi sesuai kegiatan mereka selama intership.


"Mas ini makan dulu." Tasya menyuapkan roti sembari membenarkan dasi Al.


Tepat sekali, mereka berdua kesiangan. Sudah tau ada pelatihan, tapi mereka tadi malam olahraga sampai pagi dan baru sadar kalau hari ini ada pelatihan.


Al memakan rotinya, dia juga membantu Tasya merapikan jepitnya yang sedikit melenceng, tidak lupa juga merapikan kerah baju Tasya yang belum dilinting. "Ini kamu aja masih beratakan udah urusin orang."


"Ya saling aja, kamu sih tadi malem pake godain aku segala, jadi aja kita telat bangun,"sungut Tasya.


"Dih kamu juga ladenin, kok nyalahin aku," balas Al.


Lucu sih sebenarnya, mereka membahas kejadian semalam. Padahal pada kenyataannya dua-duanya yang salah karena sama-sama menikmati. Memang ada-ada saja.


Tanpa memikirkan apapun lagi, Tasya mengambil Tasyanya dan memakai heels. Al mengikuti Tasya keluar sambil membawa dua roti strawberry milik Tasya yang ketinggalan.


"Mas cepet!" Teriak Tasya dari depan sana.


"Iyaa."


Al membukakan pintu untuk Tasya, dia juga menyuapkan roti pada bibir istrinya agar dia perutnya juga terisi, apalagi Tasya memang memiliki penyakit magh. Dia sering ceroboh masalahnya.


Setelah memastikan Tasya aman barulah Al melajukan mobilnya. Diliriknya Tasya yang sibuk berdandan, dia belum sempat berdandan, bahkan jari-jarinya lincah berdandan di saat seperti ini.


"Kamu gak usah cantik-cantik, nanti banyak yang suka," ucap Al.


"Ya gapapa mau banyak yang suka juga nikahnya sama kamu, gak akan aku ladenin juga," jawab Tasya simpel sambil menjepit kedua bulu matanya.


"Tetep aja gak suka kalau banyak yang liatin kamu," balas Al.


"Iya-iya, Mas ini aku dandannya tipis aja kok. Gak macem-macem, pelanin sedikit mobilnya aku mau pake softlens. Kelupaan kan belum pake untung waterproof."


Al mengikuti permintaan istrinya, sementara Tasya mulai memasang softlens agar matanya lebih tajam. Dia tersenyum saat melihat hasilnya. Ya lumayan lah make up di mobil namanya juga.

__ADS_1


"Aku udah cantik?" Tanya Tasya.


"Cantik banget," puji Al sambil mengusap pipi istrinya dan kembali fokus menyetir.


"Nanti pulang dari sana kita harus makan dulu, perut kamu belum diisi nasi, nanti kambuh lagi gimana?" Lanjut Al.


"Iya-iya, Mas. Lagian makan roti juga udah cukup kenyang buat aku," kata Tasya sembari tersenyum.


"Gak, tetep harus makan nasi!"


"Iya-iya, Mas. Bawell banget suami aku," gerutu Tasya.


Setengah jam pun berlalu, akhirnya mereka sampai di tempat tujuan. Terlihat sudah banyak orang-orang ber jas putih memasuki gedung besar di hadapan mereka.


Saat turun Tasya melirik ke arah sekitarnya, sekarang ada ratusan dokter di sini. Dia akhirnya bisa bersanding dengan dokter-dokter hebat ini, sebuah kebanggan juga untuk Tasya.


Tasya membantu Al memasang jas putihnya dan juga nametag. Setelah itu barulah dia memasang miliknya sendiri. Mereka berdua nampak serasi saat jalan berdampingan. Tak sedikit juga yang mengenali mereka, ya seperti yang kita tau kalau Al selebgram di kota Surabaya.


"Mass kenapa pada liatin kita?" Bisik Tasya pelan.


"Kamu cantik jadi mereka liatin," jawab Al santai sambil tak lepas menggandeng lengan Tasya.


Tapi Tasya tida melihat yang lainnya, jadilah dia dan Al langsung duduk di kursi yang telah di sediakan karena acara akan segera di mulai. Pertama-tama mereka dibagikan sebuah buku tebal berisi kegiatan dan target mereka selama satu tahun intership. Selain buku pelajaran ternyata buku tugasnya pun tidak main-main membuat mereka geleng-geleng kepala saja.


Isi buku itu seperti dalam setahun mereka sebagai dokter harus memasang infus sebanyak 200 kali atau mereka harus mengikuti operasi sebanyak 50 kali. Dan target itu harus tercapai jika mereka ingin mendapatkan izin praktek.


Tasya mengerutkan dahinya membuka lembaran demi lembaran. "Pusing, banyak banget. Bisa gak ya aku ngerjain ini dalam setahun? Takut gak memenuhi target."


"Kalau kamu gak dibawa stress dan jalaninnya enjoy gak bakalan kerasa. Ini itu setengahnya ketika kita menjadi dokter, jadi kamu harus memahami ini dan memenuhi target."


"Tapi aku bisa gak ya, Mas?" Tanya Tasya ragu.


"Bisa, kita laluin sama-sama makanya. Udah perhatiin lagi, nanti ada yang kelewat," peringat Al sembari mengusap puncak kepala istrinya dengan lembut.


Tasya mengangguk paham, dia juga kembali membuka lembaran catatannya, menulis beberapa hal penting yang diberi pemateri. Sesekali Tasya membenarkan kacamatanya, Al yang melihat Tasya seperti itu hanya terkekeh.


Itu adalah moment yang Al sukai, menurutnya Tasya bisa berkali-kali lipat cantiknya saat fokus menulis sembari membenarkan kacamatanya.

__ADS_1


"Kamu jangan liatin aku terus, catat apa yang penting. Takutnya aku ada yang kelewat jadi bisa liat ke kamu," peringat Tasya yang masih tetap fokus pada catatannya.


"Kamu sih cantik banget, jadi aku gak bisa fokus denger pemateri," ucap Al.


"Ssttt jangan godain aku di sini, cukup semalem ya kamu godain aku sampai kita telat, masa di sini juga," bisik Tasya.


"Ya di sini gak akan bisa, emang mau diliatin orang?" Tanya Al.


"Ihhh mesum!" Sungut Tasya.


Al tertawa melihat Tasya dengan pipinya yang memerah seperti itu, ada kepuasan tersendiri untuk Al.


Untungnya saat mereka mendengar materi diberi snack ringan seperti kue basah dan lain-lain. Tasya masih sibuk menulis, membuat Al geram karena gadis itu belum makan.


"Aaaa, sambil makan." Al mendekatkan sebuah risol ke bibir Tasya. Tanpa berpaling dari catatannya Tasya memakannya. Ya jika dia sedang fokus seperti ini mana bisa diganggu.


"Kamu kebiasaan kalau udah fokus sesuatu suka lupa makan," lanjut Al.


"Ya kan aku-"


"Hai jadi kalian dapet wahana lokal juga?" Tanya seorang gadis yang langsung saja membuat Tasya tidak mood.


"Iya," jawab Al seadanya.


"Di rumah sakit mana? Aku di Soetomo," ucap Aruna.


"Jangan kepo," celetuk Tasya yang memang tidak suka dengan Aruna. Bisa-bisa kalau dia tau Tasya dan Al dimana, dia bisa ajukan banding lagi.


Aruna terdiam, memasang wajah sendu. Membuat Al juga sedikit tidak enak. "Selamat ya, kayanya kamu harus kembali duduk. Masih ada pemateri selanjutnya."


Aruna hanya mengangguk lalu pergi meninggalkan mereka berdua. Tasya hanya memutar bola matanya malas, kali ini tidak akan dia biarkan Aruna bebas mendekati Al seperti saat koass dulu. Tasya tidak akan pernah suka.


"Jangan kaya gitu, kamu bisa bicara baik-baik, Sayang," peringat Al.


"Ngapain aku harus baik-baik sama calon-calon pelakor. Udah deh kamu jangan mikirin dia, aku kaya gini juga karena dia yang mencurigakan, kalau dia biasa aja juga aku biasa."


"Yaudah-yaudah jangan dibahas, fokus sama pembahasan aja ya."

__ADS_1


Tasya hanya mengangguk, setelah itu kembali mendengarkan. Sebenarnya moodnya sudah tidak benar, apalagi perutnya sakit karena memang belum diisi nasi, tapi dia tidak akan bilang pada Al. Dia pasti langsung khawatir.


__ADS_2