My Perfect Bestie, No! Husband!

My Perfect Bestie, No! Husband!
Wawancara Kerja


__ADS_3


Sudah ada satu Minggu mereka mengirim lamaran, syukurnya mereka sekarang di panggil untuk wawancara. Sejak pagi Tasya sibuk untuk menyiapkan dirinya dan juga Al. Belum lagi mereka harus tepat waktu, memang agak ribet sih. Tapi serumit apapun akan ringan bila dikerjakan bersama.


Rumah sakit premier adalah salah satu rumah sakit ternama di kota Surabaya. Bangunannya, sistem, fasilitas dan tentu kualitas dokter yang dibutuhkan juga harus sesuai dengan kriteria mereka. Untuk itu semuanya mereka harus persiapkan dengan matang agar mendapat kesan baik saat pertama kali wawancara. Apalagi penampilan itu memang hal utama, kan?


Tasya sendiri mulai menenangkan dirinya saat akan di panggil ke ruang wawancara, karena ya Al dan Tasya berbeda ruangan. Jadi mereka juga di tempat yang berbeda.


Tak selang beberapa lama, namanya pun di panggil. Dengan mantap Tasya melangkahkan kaki ke dalam dan duduk dengan posisi terbaiknya.


Namanya juga HRD, mereka pasti melihat dari penampilan dulu paling utama, kalau soal penampilan sih Tasya merasa sudah oke, tidak ada yang perlu diragukan lagi, tapi memang ada beberapa hal yang Tasya takutkan, yaitu mengenai riwayat penyakitnya.


Tasya menelan ludahnya kasar, namun sebisa mungkin dia rileks saat pria yang ada di hadapannya ini sesekali melirik ke arahnya seraya memeriksa CV yang sudah Tasya buat.


"Baik, perkenalkan diri anda."


Tasya tersenyum. "Baik, Pak. Perkenalkan nama saya Tasya Aurell, umur saya 25 tahun. Saya pelamar dengan posisi dokter umum dan saya lulusan Universitas Airlangga dan fresh graduate dalam dunia kedokteran."


Pria itu mengangguk-nganggukkan kepalanya seraya mencatat beberapa hal yang menjadi catatannya. Cukup menarik menurutnya, terlebih melihat catatan prestasi akademik dan non akademiknya Tasya.


Memang begini nih yang disukai para HRD, apalag Tasya menjawab semua pertanyaannya dengan lugas dan mantap tanpa ada keraguan. Tasya juga nampak kompeten dan mind blowing. Tak jarang dia mengungkapkan beberapa pandangannya dengan dunia medis secara jujur.


"Jika anda diberi tugas dan tidak mengerti apa yang akan anda lakukan?"


"Saya bukan orang yang malu bertanya, jika ada dokter senior yang lebih mapan pemahamannya saya tidak akan sungkan bertanya. Terlebih mengingat pekerjaan sebagai dokter itu tidak main-main, bukankah butuh pemahaman yang bagus sebelum menjalankan tugas yang diberikan?"


"Saya suka jawaban Anda ... Tapi anda salah satu penderita skizofrenia. Bagaimana cara anda mengatasi masalah ini?" Pria itu kini memfokuskan pandangannya pada Tasya, membuat Tasya merasa terintimidasi sebenarnya. Apalagi pertanyaan ini sangat sensitif baginya.

__ADS_1


Tasya menghela napas, dia tau pertanyaan seperti ini akan dipertanyakan, untung saja dia sudah mempersiapkannya sejak awal. "Memang tidak ada yang sempurna begitu juga dengan saya dan skizofrenia yang saya derita. Tapi sejauh ini saya mampu mengendalikan diri saya dan membuktikan kepada lingkungan saya, kalau skizofrenia bukan penghambat seseorang untuk melangkah maju."


"Saya mampu beradaptasi dengan baik dan menjalankan rutinitas dengan baik begitu jengan fungsi otak saya yang masih bisa berjalan dengan semestinya. Saya tidak akan mengeja apa-apa saja yang akan saya berikan pada rumah sakit ini, tapi kalau mengingat prestasi dan nilai saya, itu cukup membuktikan, bukan?"


Pria itu tersenyum dan kembali menanyakan pertanyaan terakhir sebagai penutup. Tasya cukup lega, walaupun belum tau hasilnya, tapi semoga saja itu membuahkan hasil yang baik.


Selesai wawancara, Tasya keluar dari ruangan. Ternyata di lorong sana sudah ada Al yang menyambutnya. Tasya melihat itu tersenyum lalu menghampirinya.


"Gimana lancar?" Tanya Al.


Tasya mengangguk. "Lancar, tapi gak tau hasilnya kaya gimana. Tapi aku ngerasa udah jawab sebaik mungkin. Jadi seharusnya gak ada hambatan apapun, kan?"


"Kalau kamu ngerasa yakin, pasti hasilnya bakalan bagus. Aku bangga sama kamu, yaudah sekarang kita mau kemana?" Tanya Al.


"Mau pulang aja gak sih?"


Tasya tidak menjawab, tapi dari situ sebenarnya Al tau kalau ada banyak hal di dunia ini yang Tasya pikirkan. Termasuk wawancaranya tadi. Bukan sok tahu, tapi kalau soal begini rasanya Al sudah khatam.


.


.


.


Sesampainya di rumah, Tasya langsung membersihkan diri. Sementara Al malah berolah raga di taman belakang, jadi selesai mandi, sambil makan eskrim Tasya memperhatikan Al yang sedang sibuk dengan alat-alat olahraganya.


Tasya memang dokter sih, tapi kalau boleh jujur olahraga itu adalah hal yang paling tidak dia sukai. Suka memang sesekali, tapi tidak harus wajib sekali. Karena menurutnya olahraga ringan sedikit saja sudah cukup.

__ADS_1


Berbeda dengan Al yang memang sejak dulu suka sekali dengan dunia olahraga. Bahkan itu salah satu pendorong kenapa dia ingin menjadi dokter. Hidup sehat dan ingin membuat orang lain juga sehat.


"Mas menurut kamu aku di terima gak?" Tanya Tasya pada Al yang sedang asik dengan pull up barnya.


"Kenapa memang? HRDnya galak?" Tanya Al yang masih sibuk mengangkat dirinya beberapa kali.


"Gak galak tapi perfeksionis, aku cuma takut salah jawab aja. Apalagi waktu ditanya soal skizo." Tasya menghela napasnya lalu kembali menyiapkan Eskimo pada mulutnya.


"Kamu dan skizo itu bukan musuh. Kalian berteman, Sayang. Mereka akan selalu bersahabat kamu asal kamu gak bandel."


"Tetep aja tau, perusahaan tuh pasti mikir tentang kesehatan karyawannya, maksudnya mereka pasti pilih fisik yang baik."


"Kamu baik."


Al tersenyum lalu menghampiri Tasya yang tengah duduk di ayunan. Ahh tidak bisa nih Tasya kalau ditatap seperti ini. Dia sedang bicara serius nanti malah salah tingkah.


"Kamu baik, sejauh ini kamu udah membuktikan kalau kamu menjalankan hidup yang baik dan berkualitas. Pencapaian kamu aja melebihi orang-orang normal. Itu artinya kamu memang luar biasa."


"Jadi gak boleh mikir aneh-aneh ya?" Tanya Tasya.


"Udah aku bilang kamu gak boleh mikir yang aneh-aneh. Jangan stress, jaga kesehatan dan pola makan. Lupa?" Al kini melirik eskrim yang berada di tangan Tasya.


Gadis itu terkekeh, ya bagaimana ya? Kalau soal eskrim itu dia tidak bisa menahan. Sesekali dia rasa tidak masalah. "Hari ini aja, besok gak eskrim lagi."


Kalau sudah begini ya Al menganggukan kepalannya, eskrimnya juga sudah terlanjur di makan. Namun tiba-tiba Tasya terdiam. "Abang kok betah banget ya di Bandung?"


"Wajar kangen, apalagi kak Amanda. Kamu aja kangen sama Bang Radit, kan? Apalagi kak Amanda sama orang tuanya."

__ADS_1


Benar sih, ya sudah lah. Tasya juga lagian memang tidak harus selalu menemui Abangnya. Sekarang mereka memiliki keluarga masing-masing. Akan sangat egois kalau Tasya terus bergantung pada kakaknya dan merecoki kehidupan rumah tangganya.


__ADS_2