My Perfect Bestie, No! Husband!

My Perfect Bestie, No! Husband!
Pasangan Dokter Muda


__ADS_3


Hari pertama kerja memang selalu menghasilkan kesenangan tersendiri, meskipun ya lelah juga sih, tapi tetap saja ini berkesan. Tasya sampai tidak sadar kalau sekarang sudah waktunya pulang.


Iya, dia masih sibuk dengan rekapan demi rekapan dan mengarsipkan beberapa berkas kesehatan pasien. Tak selang beberapa lama Al masuk ke dalam ruangan Tasya, untuk apalagi kalau bukan mengajak istrinya pulang bersama, namun kebiasaan Tasya ya begini, kalau sudah bekerja akan lupa dengan dunia.


"Masih banyak kerjaan?" Tanya Al.


Mendengar itu Tasya langsung mengalihkan fokusnya pada Al. "Mas, iya sebentar lagi. Sebentar ya?"


Al mengangguk, setelah itu dia duduk di hadapan Tasya seraya memandangi Tasya yang sedang fokus dengan berkas-berkasnya, pemandangan yang selalu Al suka ya ini, melihat Tasya fokus dan sesekali membenarkan kacamatanya.


"Jangan liatin aku kaya gitu, aku jadi gak fokus," ucap Tasya.


"Padahal aku gak ngapa-ngapain juga," balas Al.


Tasya menghela napas dan menaruh berkasnya ke dalam laci. "Tetep aja kalau diliatin kamu aku jadi Salting brutal."


"Gapapa gemes liatin kamu salting." Al malah terkekeh menanggapi Tasya. Ada-ada saja memang istrinya ini.


"Ishh nyebelin!"


"Hahaha yang penting kamu sayang aku."


"Iya, Sayang."


"Yaudah ayok pulang," ajak Al.


Tasya pun mengangguk, setelah itu dia memasukan kacamata ke dalam tasnya dan keluar bersama Al dari ruangannya. Tidak heran juga sih kalau mereka terlihat dekat. Karena memang ada dokter lama yang mengetahui hubungan mereka sejak saat koass dan lagi mereka juga tau kalau Al dan Tasya suami istri. Tidak ada yang salah. Karena keduanya juga cekatan dan profesional sekali dalam bekerja.


Jadi ya mereka masih boleh begini, asal tidak melewati batas. Apalagi saat akan absen pulang atau masuk seperti ini. Keduanya nampak ramah saat yang lain menyapanya. Senang sekali pokoknya melihat pasangan muda ini.


Setelah selesai absen mereka berdua masuk ke mobil dan bernapas lega. "Alhamdulillah ya, Mas kita bisa barengan."


"Iya, Sayang. Aku seneng karena kita bisa barengan jadi gak saling nungguin."


Tasya mengangguk, benar. Karena ya begitu terkadang, Tasya menunggu Al dan Al menunggu Tasya karena berbeda shift. Untung saja mereka satu shift sekarang jadi aman.


"Mau makan di luar atau di rumah aja?" Tawar Al.


"Di rumah aja, aku mau masak buat kamu. Tapi terserah deh, kalau kamu mau makanan luar boleh, kalau mau aku masakin boleh," jawab Tasya.

__ADS_1


"Kamu cape kalau masak, Sayang," ucap Al seraya mengusap puncak kepala istrinya.


"Engga, aku gak cape kalau buat kamu. Aku aja yang masak kalau gitu ya? Aku buatin makanan kesukaan kamu, mau?" Tawar Tasya.


"Boleh, mau banget. Masakan istri aku paling juara lah, siapa yang nolak."


"Berlebihan, gak boleh gitu nanti aku terbang idungnya," kata Tasya.


"Kaya punya hidung aja, kamu kan hidungnya tenggelam," ledek Al.


"Males banget!"


Al tertawa, setelah itu dia mengecup pipi Tasya dan melakukan mobilnya. Tasya tersenyum setelah Al mengecup pipinya, rasa lelahnya seperti hilang begitu saja. Memang apalagi yang menyenangkan selain mempunyai suami perhatian seperti Al.


Begitu juga dengan Al. Ternyata satu profesi, satu tempat kerja dan satu shift seperti ini menyenangkan. Semuanya bisa mereka bagi bersama. Yang terpenting adalah orang yang di sampingnya ini adalah Tasya. Mesin mood Al selama ini.


.


.


.


Selesai makan malam Tasya dan Al menghabiskan waktu menonton berdua, posisi mereka berdua tidur di sofa yang sama dengan Al yang memeluk tubuh Tasya dari belakang.


"Kenapa, Mas? Kamu butuh sesuatu?" Tanya Tasya.


Bukan menjawab Al malah mengeratkan pelukannya pada Tasya seraya menciumi tengkuk gadis itu. Membuat Tasya mengerutkan keningnya, mungkin Al ingin manja-manja.


"Sayang ... " Panggil Al lagi.


Nahkan, kalau begini sudah di tahap menyebalkan untuk Tasya. Karena Al memanggilnya pasti akan tidak menjawab lagi kalau ditanya. "Kenapa, Mas?"


"Kangen."


"Padahal setiap hari gak kemana-mana sama kamu aja loh," jawab Tasya.


"Tetep kangen." Al kembali mengeratkan pelukannya dan menciumi pipi Tasya.


Tasya hanya tersenyum saja sih, karena dia lumayan suka kalau Al begini padanya. Justru harus selalu begini, artinya Al masih membutuhkan dan akan selalu membutuhkan dirinya.


"Kapan Aldo Junior jadinya ya," ucap Al random.

__ADS_1


"Coming soon," jawab Tasya seadanya, ya karena dia juga tidak tau. Belum ada tanda-tanda kehamilan juga.


"Atau kita buatnya salah kali ya, Sayang?" Tanya Al lagi.


"Loh kan buatnya gitu gak berubah-ubah, gak ada yang aneh juga. Lagian juga baru sebulanan ini kan intensnya dan gak pake obat kb?" Tanya Tasya.


"Lama, aku mau usapin perut kamu."


Tasya terkekeh, memang sekarang tidak bisa ya? Jadi perlahan Tasya mengarahkan tangan Al ke atas perutnya. "Usapin nih."


"Belum ada bayinya, Sayang. Nanti yang keluar jin gimana?" Tanya Al setengah bercanda.


Tasya tertawa aneh-aneh saja suaminya kalau mode random begini, memang ada ya perut yang diusap lalu keluar jin dari perutnya. "Apasih, Mass. Ya tapi gapapa nanti kita minta permohonan biar cepet punya anak."


"Kayanya gabisa, Sayang. Caranya cuma satu ... "


"Apa, tanya Tasya serius."


"Kita harus buat setiap hari biar anaknya cepet ada," ucap Al tepat di telinga Tasya.


Tasya mendengus kesal, nahkan nahkan. Dia sudah curiga dengan Al sejak tadi, pasti ujungnya ke sana lagi. Tasya langsung menuliskan telinganya dan kembali fokus menonton.


"Sayang ... "


Tasya masih tidak menggubris suaminya itu.


"Sayang aku mau kamu!" Ucap Al to the point, memang Tasya adalah wanita yang paling tidak peka. Jadi langsung saja to the point.


Tasya mengulum tawanya, tapi biarkan saja lah. Tasya sedang asik menonton soalnya, masa dia harus menjeda filmnya, tidak akan seru lagi nanti.


Al menghela napasnya, Tasya sedang mengerjainya kah? Padahal entah kenapa dia merasa sedang ingin melakukannya malam ini. Salah Tasya sendiri menggunakan hotpant dan kaus oversize yang membuat sebagian bahunya terlihat.


"Sayang, boleh ya?" Tangan Al masuk ke dalam kaos oversize milik Tasya dan mengusap perut gadis itu dengan lembut.


Tidak ada jawaban dari Tasya, ya berarti boleh sajalah. Tangannya semakin naik ke atas dan menaikan benda kesukaannya, ah tidak bisa nih begini. Kalau begini lama kelamaan Tasya akan terangsang juga. Apalagi Al sudah menciumi tengkuk Tasya dan memainkan pucuk dada Tasya, membuat gadis itu melenguh kecil.


"Ahhh, M-Masss ... "


"Hmm, kenapa sayang? Want more?"


Tasya mengangguk, persetan dengan gengsinya karena sudah menolak Al di awal tadi. Tasya menahan tangan Al untuk menghentikan permainannya. "Ayok di kamar aja."

__ADS_1


Al tersenyum puas mendengarnya, setelah itu dia menggendong Tasya dan masuk ke kamar mereka.


__ADS_2