
Maaf ya kemarin error, kalian bisa cek bab sebelumnya. Kemarin review-nya lama dan yang ke publis cuma beberapa ratus kata. Happy reading~
"Mas aku mau pulang." Tasya berbalik namun Al segera memeluknya agar tidak kemana-mana.
Tasya menatap tajam ke arah suaminya, apa dia tau soal ini? "Lepasin aku!"
Bagaimana bisa Ibunya ada di sini, bukankah sudah pernah Tasya katakan pada Radit untuk tidak membawanya ke Surabaya, jadi selama di Bandung mereka merencanakan ini semua? Kenapa tidak ada yang memikirkan perasaannya sih?
"Tasya ... " Panggil wanita itu dengan lembut. Namun bukan tersentuh Tasya melepas paksa pelukan Al dan mengambil tasnya.
"Jangan panggil aku! Kalian semua jahat! Lo juga jahat, Bang. Kita pernah bicarain ini sebelumnya tapi apa?" Ucap Tasya kecewa.
"Kita bicarain ini baik-baik ya?" Pinta Al pada sang istri.
Tiba-tiba Lidya menghampiri putrinya dan menggenggam kedua tangan Tasya, diciuminya tangan kecil yang puluhan tahun lalu pernah dia genggam seperti ini. "Sya, maafin mama sayang."
Mata Tasya sudah berkaca-kaca, dia tidak bisa memang kalau seseorang bersikap seperti ini padanya, tapi rasa sakit hatinya mendominasi. Semuanya tidak akan bisa menggantikan apa-apa yang puluhan tahun dia torehkan pada Tasya.
"Jangan sebut diri anda mama saya! Mama saya udah mati puluhan tahun yang lalu!" Tasya melepaskan genggaman tangan itu dan beranjak pergi namun tiba-tiba perutnya keram.
"Sayang!" Al langsung menghampiri Tasya yang nampak kesakitan. Tanpa pikir panjang Al menggendongnya Ala brydal ke kemar Tasya yang terletak di atas.
"Tante bilang juga apa, kamu kenapa keras kepala sekali sih, Dit?! Tante saja masih sulit apalagi Tasya!" Amara frustrasi sekali melihat ini, langsung saja dia menyusul Tasya ke kamarnya, sementara Radit mematung dan Diana berusaha menenangkan Lydia. Ya mereka bersahabat dia tau apa yang dirasakan Lydia, tapi Tasya juga tidak bersalah. Luka di masa lalunya memang cukup besar, Diana memahami perasaan setiap orang.
__ADS_1
Radit dan Amanda menghela napas, mereka memang yang merencanakan ini semua, Amara sempat melarang bahkan butuh waktu lama untuk membuat dia yakin. Meskipun Amara sendiri masih belum bisa berdamai dengan masa lalunya karena kehilangan kakaknya sendiri. Jadinya chaos begini.
Di sisi lain ada Ibunya dan di sisi lain ada Tasya dan Tantenya. Radit sejujurnya bingung karena bagaimana pun mereka sama-sama penting dalam hidupnya.
"Kak sini biar aku yang gendong Tiara," ucap Zea yang berusaha memahami keadaan. Amanda pun menyerahkan putri kecilnya pada Zea, setelah itu dia menenangkan Radit yang nampak kacau dengan semuanya. Tadinya tidak seperti ini, dia juga tidak ingin semua ini terjadi.
"Aku mau temuin Tasya dulu." Radit berbalik namun Amanda menahannya.
"Kasih dia waktu, udah ada Al sama Tante Amara kok, yang ada nanti kamu emosi sama dia dan begitu pun sebaliknya." Amanda mencoba menjadi pihak yang paling bijak.
Radit mengangguk, namun matanya tertuju pada Al yang berlari keluar, tentu dia harus mengambil peralatan dokter yang selalu dia bawa kemana-mana agar tidak susah juga.
Sebagai dokter umum tentu juga prenatal kehamilan adalah salah satu keahlian yang sudah dibekali untuk dokter umum.
"Tasya baik-baik aja, kan?" Tanya Radit saat Al sampai di sana.
.
.
.
Perut Tasya sangat keram, inilah kenapa ibu hamil tidak boleh stress ya karena pasti akan mempengaruhi si janinnya tanpa di sadari. Amara terus menggenggam tangan Tasya dan Al mengusap perut Tasya yang masih keram. Katanya diusap seperti itu Tasya merasa kerannya sedikit berkurang.
Rasanya sakit sekali, ditambah rasa sesak karena Tasya belum berhenti menangis. "Tante kenapa bawa dia kesini? Aku gak mau dia ada di sini, Tan."
__ADS_1
Amara terdiam, dia tidak harus menjawab apa untuk pertanyaan Tasya. Kecewa, kesal, amarah dan takut bersarang dalam benaknya, karena Amara adalah saksi di mana dulu Tasya terpuruk sedalam itu saat kehilangan papa dan mengetahui ibunya sendiri.
"Kamu jangan pikirkan apapun ya, Sayang? Jaga bayi kamu, untung kamu gak kenapa-kenapa. Jangan pikirkan hal yang tidak baik untuk kamu pikirkan." Amara menghapus air matanya Tasya dengan perhatian. Tasya sudah seperti putrinya sendiri, bahkan lebih penting dari apapun.
"Bawa dia pulang ke Bandung aja, Tan," pinta Tasya, kali ini dengan nada yang memohon. Anu sekeras apapun dia melupakan tapi kenangan itu begitu membekas di hatinya, bahkan sampai kapanpun dia tidak bisa menghilangkan kebencian terhadap ibu kandungnya.
"Nanti Tante coba bicara sama Radit ya? Yang terpenting itu kamu, kamu jangan sampai kenapa-kenapa, Sayang." Amara memeluk Tasya dengan erat, sungguh dia takut kalau sampai Tasya drop lagi. Apalagi sekarang sedang mengandung.
Setelah menenangkan keponakannya, Amara keluar kamar Tasya dan memberi ruang pada Al untuk bicara berdua dengan istrinya. Amara tau kalau mereka perlu bicara jadi Amara turun ke bawah dan mencoba bicara pada Radit.
Al membawa Tasya dalam pelukannya, tapi Tasya menolak. "Aku gak mau sama kamu."
"Kamu marah?"
"Kamu kenapa gak bilang kalau dia ada di sini? Kamu mau aku ketemu sama dia, Mas? Aku udah bilang aku gak mau." Tasya kini mengubah posisinya menjadi duduk, dia tidak suka dipaksa begini.
"Aku gak tau, Sayang. Aku gak tau kalau mama kamu ada di sini. Aku aja kaget."
"Terus kenapa kamu nahan aku tadi? Abang pasti bilang sama kamu soal ini."
"Aku gak tau, tapi aku cuma gak mau kamu kenapa-kenapa, aku gak mau kaya gini. Kamu sendiri yang rasain sakitnya, kan? Aku gak mau kamu stress."
"Dengan nemuin kaya gini aja aku stress kalau kamu mau tau. Aku selalu keinget lagi masa lalu yang udah berusaha keras aku lupain. Aku mau pulang sekarang, aku gak mau ke sini lagi kalau masih ada dia."
Al memeluk Tasya dengan erat, membiarkan Tasya menumpahkan kekesalannya di sana. Dia paham soal itu tapi dia juga dilema. Bagaimana pun dia seorang suami dan seharusnya dia bisa menyatukan Tasya dengan Ibunya.
__ADS_1
Tapi lebih baik dia diam dulu, keadaan Tasya tadi saja sudah membuatnya khawatir. Dia tidak mau kalau Tasya sampai keram lagi perutnya, kalau yang lain membuat Tasya pusing, dialah yang harus selalu menjadi air dalam kemarahan istrinya.
"Yaudah jangan pikirin apapun, kita pulang tapi tunggu sampe kondisi di bawah surut ya? Di bawah juga lagi gak baik-baik aja. Kamu sama bang Radit juga gak baik-baik aja. Kita pulang kalau kalian udah sama-sama dingin dan bisa bicara.